Topeng Bayi untuk Zela (Puisi Joko Pinurbo)

Melihat kau tersenyum dalam tidurmu aku ingin kasih topeng bayi yang cantik untukmu. Kau pernah bertanya: “Cantikkah saya waktu bayi?” Sayang, aku tak sempat membuat foto bayimu. Padahal kau sangat lucu dan tak mungkin aku melukiskannya. Di sebuah desa kerajinan aku bertemu seorang pembuat topeng yang sangat aneh tingkahnya. Ia suka menjerit-jerit saat mengerjakan topeng-topengnya. … Lanjutkan membaca Topeng Bayi untuk Zela (Puisi Joko Pinurbo)

Iklan

Mencari Celana

Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya. “Kalian tidak tahu ya, aku sedang mencari … Lanjutkan membaca Mencari Celana

Kukila

Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada. Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa – dan dosa adalah pemimpin yang … Lanjutkan membaca Kukila

Bangsaku

... Aku kasihan dengan kelemahanmu, Bangsaku, namun sikapku ini justru Memperparah kelemahanmu, yang memuji-muji Dan tetap memelihara kemalasan yang sia-sia bagi kehidupan. Dan hari ini aku melihat Kelemahanku yang jiwaku membencinya Dan merasa takut. ... Hipokrit menjadi agamamu, dan Kesalahan adalah kehidupanmu, dan Kekosongan adalah akhir hidupmu; mengapa, Kemudian, kamu masih hidup? Bukankah Kematian merupakan … Lanjutkan membaca Bangsaku

Pelangi yang Memudar

Kalian memiliki dunia sendiri aku pun membangun duniaku sendiri sepi… Aku tak butuh pelangi yang keindahannya hanya sesaat. Kini aku bersama akar. Menjalar tak jelas. Mencari mata air, tuk melepas dahaga perhatian. Namun ku dapat air mata. Bodoh. Ceroboh. Aku memulainya dan terlalu gengsi untuk mengakhirinya. Tertawa sendiri. Menangis sendiri. Awalnya menyenangkan memang, tapi perih … Lanjutkan membaca Pelangi yang Memudar