Per(tidak)temuan

Stasiun Serpong. Pukul tiga sore. Hujan. Kupikir mataku menipuku. Kupandangi perempuan berkerudung merah marun di jalur seberang. Lama, lamat-lamat. Lima tahun, namun aku tak mungkin salah mengenalinya. Lima tahun, dan tak ada yang berubah darinya selain gurat wajahnya yang kian mendewasa. Ia masih kurus, masih berkacamata, dan masih seperti secangkir teh hangat yang mendingin terlalu … Lanjutkan membaca Per(tidak)temuan

Renjana

Picture Literature | Song Literature - Glimpse oleh Fiersa Besari Selalu ada yang pertama bagi seseorang, dan momen pertama itulah yang biasanya sulit – atau bahkan tak terlupakan. Saya masih ingat dengan jelas ketika kali pertama belajar sepeda: Mustang warna ungu, ayah yang super sabar, dan jatuh di aspal kerikil terminal belakang rumah. Juga kali … Lanjutkan membaca Renjana

Terlambat

Song Literature #1 – Cinta Datang Terlambat oleh Maudy Ayunda Di sebuah kafe, pada suatu sore bulan Desember yang basah. Dua orang duduk berhadapan, menyelami kedalaman mata masing-masing dalam diam. Sebelas tahun sejak keduanya pertama bertukar senyuman. Ada apa jauh-jauh menemuiku? Penasaran saja dengan kabarmu. Hanya itu? Memangnya nggak boleh? Keduanya mengalihkan pandang ke jendela, … Lanjutkan membaca Terlambat

Satu Jam Lalu

“Semoga kamu bahagia.” “Berhentilah mencoba menjadi malaikat.” “Aku tidak berusaha menjadi malaikat.” “Lalu, untuk apa kamu mendoakanku?” “Aku hanya berusaha memahamimu. Dan menerima keputusanmu.” “Kau selalu berusaha memahamiku, menerimaku. Sedangkan aku tidak. Kau tidak lelah seperti itu?” “Kita tidak sedang berdagang. Aku tidak menghitung untung-rugi.” “Kalau begitu, jangan mempermasalahkan bagaimana aku.” “Aku tidak pernah mempermasalahkan … Lanjutkan membaca Satu Jam Lalu

Rahasia

Sepi terlahir pada malam bulan November yang basah. Ibunya, Ketenangan, sudah lama pergi dari dunia, beberapa minggu setelah Sepi dilahirkan. Ayahnyalah, Perlindungan, menjadi satu-satunya yang mengasuh, merawat, mendidik, dan menemani Sepi. Karena itulah, Sepi sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan setelah Sepi beranjak dewasa pun, belum pernah ada lelaki yang bisa menggantikan atau pun sekedar singgah … Lanjutkan membaca Rahasia

Petir dan Wajah Anakku

Splaaashhh! Gelas plastik tanggung berisi teh oolong beraksen ceri yang dibelinya seharga 120 yen itu terlepas, kemudian jatuh bebas; cairan kehijau-cokelatan membasahi lantai marmer dan ujung rok khakinya. “Si-siapa yang membuat ini?!” tanyanya tergagap. “Nakayama Satoshi dari kelas II-3,” jawab seorang gadis berkepang dua yang mendapat tugas jaga. “Wah, ini nyata sekali ya…” “Benar, seperti … Lanjutkan membaca Petir dan Wajah Anakku

Mata Uang

Sudah lama aku ingin mengatakan ini : aku tak suka dengan caramu berpakaian dan berdandan. Kau terlalu berlebihan. Dan aku pun ingin mengatakan ini sejak dulu : aku tak suka dengan sepak terjangmu. Kau terlalu ambisius. Bagaimana kau bisa mengaitkan ini dan itu? Aku berbicara tentang busanamu. Fashionmu! Dan aku berbicara tentang prestasi-prestasimu. Caramu menjalani … Lanjutkan membaca Mata Uang

Tuhannya Peon

Kenalkan, aku Peon. Tak ada yang menarik dariku. Bahkan kupikir dunia ini begitu membosankan. Semua sama. Iya, semua. Meskipun aku memperkenalkan diri dengan nama Peon, namun semua penduduk di desaku juga bernama Peon. Beberapa kali aku sempat bertemu dengan penduduk dari desa sebelah, dan mereka juga bernama Peon! Kami tak pernah mengenal arti fisis dari … Lanjutkan membaca Tuhannya Peon