Per(tidak)temuan

Stasiun Serpong. Pukul tiga sore. Hujan. Kupikir mataku menipuku. Kupandangi perempuan berkerudung merah marun di jalur seberang. Lama, lamat-lamat. Lima tahun, namun aku tak mungkin salah mengenalinya. Lima tahun, dan tak ada yang berubah darinya selain gurat wajahnya yang kian mendewasa. Ia masih kurus, masih berkacamata, dan masih seperti secangkir teh hangat yang mendingin terlalu … Lanjutkan membaca Per(tidak)temuan

Iklan

(Jangan) Temui Aku

“Sayang, lusa aku ke Bandung. Ayo weekend kita ketemuan.” “Sabtu aku lembur. Minggu harus ke pameran. Maaf…”  *** “Kamu nggak pulang lebaran ini? Kenapa?” “Aku kehabisan tiket kereta.” “Bis?” “Aku mabuk.” “Pesawat!” “Aku juga nggak dapat cuti.” “Lalu….”  *** “Sayang, minggu depan long weekend loh. Aku ke kotamu ya.” “Buat apa?” “Ya buat ketemu kamu, … Lanjutkan membaca (Jangan) Temui Aku

Terlambat

Song Literature #1 – Cinta Datang Terlambat oleh Maudy Ayunda Di sebuah kafe, pada suatu sore bulan Desember yang basah. Dua orang duduk berhadapan, menyelami kedalaman mata masing-masing dalam diam. Sebelas tahun sejak keduanya pertama bertukar senyuman. Ada apa jauh-jauh menemuiku? Penasaran saja dengan kabarmu. Hanya itu? Memangnya nggak boleh? Keduanya mengalihkan pandang ke jendela, … Lanjutkan membaca Terlambat

Satu Jam Lalu

“Semoga kamu bahagia.” “Berhentilah mencoba menjadi malaikat.” “Aku tidak berusaha menjadi malaikat.” “Lalu, untuk apa kamu mendoakanku?” “Aku hanya berusaha memahamimu. Dan menerima keputusanmu.” “Kau selalu berusaha memahamiku, menerimaku. Sedangkan aku tidak. Kau tidak lelah seperti itu?” “Kita tidak sedang berdagang. Aku tidak menghitung untung-rugi.” “Kalau begitu, jangan mempermasalahkan bagaimana aku.” “Aku tidak pernah mempermasalahkan … Lanjutkan membaca Satu Jam Lalu

Rahasia

Sepi terlahir pada malam bulan November yang basah. Ibunya, Ketenangan, sudah lama pergi dari dunia, beberapa minggu setelah Sepi dilahirkan. Ayahnyalah, Perlindungan, menjadi satu-satunya yang mengasuh, merawat, mendidik, dan menemani Sepi. Karena itulah, Sepi sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan setelah Sepi beranjak dewasa pun, belum pernah ada lelaki yang bisa menggantikan atau pun sekedar singgah … Lanjutkan membaca Rahasia

Petir dan Wajah Anakku

Splaaashhh! Gelas plastik tanggung berisi teh oolong beraksen ceri yang dibelinya seharga 120 yen itu terlepas, kemudian jatuh bebas; cairan kehijau-cokelatan membasahi lantai marmer dan ujung rok khakinya. “Si-siapa yang membuat ini?!” tanyanya tergagap. “Nakayama Satoshi dari kelas II-3,” jawab seorang gadis berkepang dua yang mendapat tugas jaga. “Wah, ini nyata sekali ya…” “Benar, seperti … Lanjutkan membaca Petir dan Wajah Anakku