Berantakan

Tidak semua jalan harus kita tempuh dengan berlari. Mungkin kita harus berhenti—atau dipaksa berhenti. – Fahd Djibran

Kultur saya mati. Iya, mati. Kultur sel kanker kulit tipe ATCC M-19 berusia tiga minggu dua hari yang akan saya gunakan sebagai satu-satunya sampel penelitian saya. Iya. Satu-satunya.

Kalo mati ya tinggal ditumbuhkan lagi kan ya. Tinggal menunggu dua-tiga minggu sampai kultur itu siap dipanen. Menunggu dua-tiga minggu, ah, kecil. Saya pernah tidak pulang ke rumah selama dua tahun lebih.

Baca lebih lanjut

Bersyukur

Kadang, menyegerakan dan tidak menunda-nunda apa yang mampu kita lakukan sekarang dan saat ini juga merupakan cerminan rasa syukur atas apa yang kita terima.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya belum sama sekali memperoleh data untuk dianalisis – jangankan data, memberi perlakuan saja belum, padahal ini sudah hampir memasuki bulan keempat dari enam bulan rentang pengerjaan skripsi. Gelisah? Pasti. Takut? Apalagi. Saya takut tidak bisa menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya, takut jika ditinggalkan teman-teman saya, takut tidak bisa memenuhi janji untuk lulus sesuai target yang saya janjikan, juga ketakutan-ketakutan lainnya. Bermacam ketakutan ini bukan tak berdasar.

Baca lebih lanjut

Pascal #2

Jadi ceritanya, Pascal #2 ini berisi penjelasan sejelas-jelasnya terhadap pertanyaan “Loh, Septi kok udah balik? Skripsinya gimana?” – atau dengan kata lain, mengapa saya yang seharusnya berada di Kota Pelajar selama kurang lebih dua minggu, harus menyerah dan kembali ke Kota Pahlawan hanya setelah dua hari di sana….

Jum’at, 17 Mei 2013

Hari ini seharusnya saya menjalani pelatihan pra-penelitian di LPPT UGM Unit I. Sekilas mendeskripsikan, LPTT UGM (Lembaga Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada) ini berlokasi di Jalan Kaliurang Kampus Sekip Utara UGM Yogyakarta. Tepatnya, pelatihan dan penelitian saya akan berlokasi di LPTT Unit I, dekat dengan Gedung Perpustakaan, dan Fakultas Kedokteran UGM.

Baca lebih lanjut

Pascal #1

Terlalu banyak yang ingin saya tuangkan ke dalam dua-tiga halaman tulisan. Bahkan sepertinya frasa-frasa seperti aku marah, gundah-gulana, diterpa kecewa, belum cukup deskriptif untuk mendeskripsikan; tak juga persuasif untuk membujuk anda, yang membaca, turut tenggelam dalam emosi yang saya rasa.

Jadi rencananya, hari Kamis tanggal 16 Mei pukul 13.45 saya dan rombongan berencana naik kereta Sri Tanjung dari stasiun Surabaya Gubeng dengan tujuan stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Barang bawaan adalah dua ransel, satu tas bepergian, dan satu box ukuran 60 liter yang berisi setup laser untuk penelitian di LPPT UGM Yogyakarta.

07.00 – 11.00 Kuliah dan bimbingan skripsi seperti biasa, sarapan dengan hati deg-deg-an, lalu pulang dan menggoreng chicken nugget untuk bekal dengan riang.

Baca lebih lanjut

Dialogo

T : “Kau tau, S. Ujian itu tidak diperuntukkan untuk menilai seberapa keras seseorang berusaha, namun seberapa jauh kemampuannya. Nilai A, tidak dihadiahkan bagi mereka yang bekerja paling keras, tapi untuk mereka yang memiliki kapabilitas.”

S : “Antara kerja keras dan kapabilitas ada hubungan kausalitas. Kesuksesan terdiri dari 99% kerja keras dan 1% kecerdasan, keberuntungan, gifted, atau apalah itu.”

T : “Memang, tapi kerja keras harus didukung oleh metode yang tepat untuk mencapai kapabilitas yang baik. Berapa banyak yang menghabiskan waktu lebih lama namun memperoleh lebih sedikit?”

S : “Maksudmu yang harus aku perbaiki adalah metode, begitu? Untuk mencapai kualitas di atas kuantitas waktu belajar?”

Baca lebih lanjut

Cerita dari Cepu #6

Cerita dari Cepu #1
Cerita dari Cepu #2
Cerita dari Cepu #3
Cerita dari Cepu #4
Cerita dari Cepu #5

Senin. Tidak terlalu banyak hal mengesankan hari ini. Menurut jadwal, seharusnya mulai minggu ini sudah tidak ada lagi pengambilan data atau praktikum karena harusnya fokus nyelesaiin laporan. Alhamdulillah data untuk tugas khusus juga sudah diambil. Maka seharian saya dan teman kelompok hanya menyempurnakan laporan saja. Maunya ketemu pembimbing buat nunjukin progress laporan tapi hari ini nggak nemuin pembimbingnya😦

Dan sepertinya karena saya tidak meminta izin secara khusus ke salah seorang pembimbing, saya dicap jelek oleh beliau. Yah, bisa dibilang saya memang bolos Jum’at kemarin😦 Setelah kejadian itu, beliau yang dulu sangat ramah pada saya tidak pernah bersikap sama lagi. Dingin. Saya sedih sekali😦

– catatan PKL, hari kedua puluh dua

Baca lebih lanjut

Cerita dari Cepu #5

Cerita dari Cepu #1
Cerita dari Cepu #2
Cerita dari Cepu #3
Cerita dari Cepu #4

Kamis. Karena sorenya anak-anak kost sudah pada pulang ke rumah masing-masing, saya pun berencana pulang esoknya. Daripada ngehabisin weekend sendirian, pikir saya😦 Malam ini saya habiskan sendirian, kost sepi. Tak apalah semalam aja kok.. Mengurung diri di kamar, menggarap laporan. Saya hanya akan membawa ransel berisi laptop saja besok, jadi tidak perlu packing apa-apa. Tak lupa saya mengirim pesan singkat kepada pak tukang becak untuk menjemput saya jam empat pagi besok.

– catatan PKL, hari kedelapan belas

******

Saya sudah terbangun sejak pukul tiga pagi. Bebersih diri, sarapan roti dan susu cokelat, jgua bersiap berangkat. Pukul empat kurang lima menit, saya beringsut ke pintu depan, takut membangunkan seisi rumah, hehe😛 Setelah mengendap-ngendap mencari kunci pintu depan juga pagar, saya duduk di teras. Tak lama pak becak datang, dan saya langsung berangkat ke stasiun. Dingin banget….

Baca lebih lanjut