The Law of Entropy: Exclusion

There is this one thing that does not obey the Second Law of Thermodynamics: human's emotions. People love, then unlove. People hate, then unhate, then hate again. In the morning they despair, in the evening full of desire. Only one heart they have, but limitless love they can grow. It can be so sincere and … Lanjutkan membaca The Law of Entropy: Exclusion

The Law of Entropy

Entropy, disorder, information loss, etc. Several times I mentioned that the Second Law of Thermodynamics is my favorite law of physics. Eggs do not unbreak; candles do not unmelt; people do not unage; etc. The laws of dynamics (either classical or quantum mechanical) are time-symmetric, but why the Second Law of Thermodynamics isn't? Writing it … Lanjutkan membaca The Law of Entropy

Perspektif

Sep, yang kamu unggah itu gambar apa? Bisa jadi gula yang berceceran, atau ada yang menebar garam di bebatuan. Bisa jadi salju yang mengeras, bisa pula es serut yang ditumpahkan seorang anak kecil berpipi kemerahan. Apa yang kita terima dari apa yang kita lihat, terbatas pada bagaimana perspektif kita terhadap sesuatu. Bisa jadi benar, bisa … Lanjutkan membaca Perspektif

Takdir

Shim Soon Deok menyebutnya takdir; ketika ia bertemu dengan Hwang Seon-Ah di hutan, dan Seon-Ah mengenalkannya pada Moorim School. Ia menyebutnya takdir karena pertemuannya dengan Seon-Ah merupakan solusi dari masalah terberat yang dihadapinya saat itu: ia ingin kuliah namun keluarganya amat sangat miskin. Yoon Shi-Woo menyebutnya takdir; ketika ia tersesat di hutan dan bertemu dengan … Lanjutkan membaca Takdir

Di Balik Kesibukan Kita

#reblog Kata seseorang, “Kata sibuk hanya keluar dari seseorang yang tidak bisa mengatur waktunya.” Aku rasa kita bukanlah orang-orang sibuk, kita hanyalah orang yang diberikan bagitu banyak aktivitas. Mungkin kita lelah, tapi aku rasa itu adalah sebuah bentuk perlindungan yang manis. Bila kita mau memahami dari sudut pandang yang berbeda. Bila Allah memberikan begitu banyak … Lanjutkan membaca Di Balik Kesibukan Kita

Per(tidak)temuan

Stasiun Serpong. Pukul tiga sore. Hujan. Kupikir mataku menipuku. Kupandangi perempuan berkerudung merah marun di jalur seberang. Lama, lamat-lamat. Lima tahun, namun aku tak mungkin salah mengenalinya. Lima tahun, dan tak ada yang berubah darinya selain gurat wajahnya yang kian mendewasa. Ia masih kurus, masih berkacamata, dan masih seperti secangkir teh hangat yang mendingin terlalu … Lanjutkan membaca Per(tidak)temuan

Renjana

Picture Literature | Song Literature - Glimpse oleh Fiersa Besari Selalu ada yang pertama bagi seseorang, dan momen pertama itulah yang biasanya sulit – atau bahkan tak terlupakan. Saya masih ingat dengan jelas ketika kali pertama belajar sepeda: Mustang warna ungu, ayah yang super sabar, dan jatuh di aspal kerikil terminal belakang rumah. Juga kali … Lanjutkan membaca Renjana

Terlambat

Song Literature #1 – Cinta Datang Terlambat oleh Maudy Ayunda Di sebuah kafe, pada suatu sore bulan Desember yang basah. Dua orang duduk berhadapan, menyelami kedalaman mata masing-masing dalam diam. Sebelas tahun sejak keduanya pertama bertukar senyuman. Ada apa jauh-jauh menemuiku? Penasaran saja dengan kabarmu. Hanya itu? Memangnya nggak boleh? Keduanya mengalihkan pandang ke jendela, … Lanjutkan membaca Terlambat