Kesalingan Menghargai Pilihan

Ada orang yang ingin menjadi PNS demi status pekerjaan yang permanen, penghasilan yang stabil, serta jaminan uang pensiun agar tidak merepotkan anak cucu kelak di hari tua. Ada pula yang termotivasi oleh berbagai kemudahan lain yang ditawarkan, lancarnya pembukaan skema kredit, misalnya, dan motivasi-motivasi lain yang sejujurnya tidak saya pahami.

Tapi tidak semua orang seperti itu. Ada yang memang tidak memiliki cita-cita maupun keinginan untuk menjadi PNS. Ada yang visi-misi hidupnya dapat tercapai dan berjalan baik-baik saja meski tidak berstatus PNS. Ada yang (bahkan) tidak ingin menjadi PNS karena merasa belum sanggup memikul statusnya sebagai orang yang digaji dari pajak rakyat. Ada yang tidak ingin menjadi PNS karena, yah, tidak ingin saja.

Tak bisakah kita saling menghargai pilihan satu sama lain?

.

Ada orang yang mendefinisikan kesuksesan seorang dosen sebagai keberhasilan menempati posisi dan jabatan tinggi tertentu, diberi tanggung jawab ini dan itu, sembari diupahi penghasilan yang membelalakkan mata.

Namun, ada pula dosen yang cita-citanya cukup menjadi pengajar dan peneliti seutuhnya saja. Mengajar secara loyal dan meneliti secara total, tanpa ingin direpotkan oleh jabatan dan tanggung-jawab di luar itu.

Tak bisakah kita saling menghargai pilihan saja?

.

Suatu ketika Bu T berkata kepada saya, “Coba kamu lihat itu Prof. A dan Prof Y. Pintar, penelitiannya seabrek, tapi karena tidak pintar bersosialisasi, sering bergesekan dengan orang-orang kita, akhirnya nggak dipake di mana-mana. Nggak ada yang mau menawari mereka jabatan. Akhirnya mereka kerjanya ya cuma meneliti saja. Kamu mau jadi dosen yang seperti itu?”

Anehnya, dalam hati saya menjawab, ya. Kemudian saya berpikir, apa yang salah dengan itu? Kesenangan dan potensi tiap orang berbeda-beda. Jika semua orang yang berbeda-beda itu tadi dipaksa untuk mencapai suatu standar kesuksesan yang sama, apakah adil? Bukankah malah jadinya dunia ini membosankan karena berisi orang-orang yang monoton, yang mengejar sesuatu yang sama? Bukankah malah akan timbul ketimpangan fungsional?

Ada orang yang memiliki potensi untuk me-manage organisasi dan senang mempersuasi orang lain, memiliki cita-cita untuk mengubah institusi dan lingkungannya demi menjadi lebih baik.

Ada pula orang yang lebih cocok mengurusi benda mati dan huruf-angka, memiliki cita-cita untuk melontarkan sebanyak-banyaknya pertanyaan kemudian berusaha menjawabnya satu-persatu.

Tak bisakah kita saling menghargai saja?

Tak bisakah kita membiarkan seseorang memilih jalan hidup sesuai value yang dipegangnya?

Tak bisakah kita saling menghargai pilihan tanpa menghakimi bahwa pilihanku baik, sedangkan lainnya tidak sebaik pilihanku?

.

Ada orang yang karakternya luwes dan mudah bergaul.

Ada pula orang yang kaku dan sulit sekali berbasa-basi.

Tidak bisakah kita menerima bahwa setiap orang itu unik, dan karenanya adalah tidak adil jika mengharuskan si pendiam untuk selalu ber-hahahihi dalam tiap kesempatan?

Tidak bisakah kita menerima bahwa setiap orang dikaruniai kelebihan dan kekurangannya masing-masing?

.

Ada orang yang begitu mudah memuji, menyanjung, dan –maaf, ekstrimnya– menjilat orang lain. Mereka pintar menempatkan diri dan menjaga posisi, bersikap berbeda jika menghadapi orang yang berbeda.

Ada orang yang tidak mau melakukan itu semua karena bertentangan dengan apa yang dia yakini. Sikap dan opininya akan sama, siapa pun yang dihadapi.

Maka ketika Bu T menyuruh saya untuk, “… harus bisa menyanjung-nyanjung Prof. R. Beliau kolega kita dan beliau mau maju sebagai bakal calon rektor PT X, jadi akan sangat menguntungkan kita juga jika beliau terpilih. Beliau orangnya suka ditinggikan, suka dipuji-puji, dsb dst…”

Hati saya berontak. Saya tidak bisa. Saya tidak akan pernah bisa.

Tak bisakah kita saling menghargai dan menerima bahwa prinsip hidup tiap orang pasti berbeda dan keteguhan memegangnya pun tak mungkin sama?

Saya bisa. Saya tidak menghakimi tindakan yang bertentangan dengan saya itu sebagai sesuatu yang buruk. Hanya saja… saya tidak bisa. Jika memang itu diperlukan demi memajukan KBK ini, silakan. Saya tidak menyalahkan. Hanya saja… saya tidak bisa.

Tak bisakah kita saling menerima pandangan masing-masing?

.

Ada orang yang selagi muda bekerja sekeras-kerasnya demi perolehan materiil, (mungkin) dengan motivasi untuk membahagiakan dan memudahkan anak-cucunya kelak. Juga begitu ngoyo demi ziarah ke tanah suci atau mengobati orang tua yang sakit, misalnya.

Ada pula yang bekerja hanya demi memenuhi kepuasan batinnya saja, asalkan tanggung jawabnya terpenuhi, yasudah. Tidak ngoyo-ngoyo banget soal penghasilan, yang penting hati damai dan tenang, berkecukupan, dan ketika tua tidak merepotkan anak.

Tidak bisakah kita saling menghargai saja?

Tanpa perlu menyebut yang terakhir sebagai pemalas?

.

Ada orang yang begitu sabar nan konsisten tiap pagi dan malam melakukan 33 step korean skincare demi meraih kulit yang sehat dan indah. Ada pula yang begitu telaten menggunakan 11 step make up hanya untuk beli sayur ke pasar pagi. Karena bagi mereka, adalah dosa jika membiarkan pori-pori kulit yang seperti saringan santan terlihat oleh orang lain. Karena bagi mereka, adalah kebaikan jika memperlihatkan wajah yang indah dan segar kepada orang lain. Karena bagi mereka, merawat diri adalah kepuasan tersendiri.

Namun, ada juga orang yang masa bodo terhadap itu semua. They simply think it does not worth their time AND their precious money. Bagi mereka, adalah dosa jika menipu orang lain dengan memperlihatkan sesuatu yang palsu. Bagi mereka, alami saja sudah cukup. Bagi mereka, ada hal-hal lain yang lebih berguna daripada dihabiskan untuk ini dan itu.

Tak bisakah kita saling menghargai saja?

.

Tak bisakah kita saling masa bodo terhadap pilihan yang diambil oleh orang lain, selama itu tidak merugikan kita dan lingkungan sekitar?

Tak bisakah kita tidak memaksakan standar kita terhadap orang lain?

Tak bisakah kita menerima, memaklumi, dan menghargai perbedaan?

Tak bisakah kita menahan diri untuk tidak berkomentar?

Tak bisakah kita menahan diri untuk tidak ikut campur?

.

Tak bisakah kita… tutup mulut saja?

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s