The Remembering Brain #2: Koma

Ketika seseorang mengalami kerusakan otak dan ketidaksadaran permanen, beberapa orang dengan kejam menyebutnya “vegetable” (sayuran) – yakni seseorang yang berada dalam keadaan vegetatif (vegetative state). Sebuah penelitian mengklaim bahwa orang sering salah didiagnosis sebagai “sayuran” – probabilitasnya bahkan mendekati 50%! Peneliti mengamati secara seksama empat puluh pasien. Mereka memberikan pemeriksaan tanda-tanda kewaspadaan dan kesadaran yang jauh lebih menyeluruh daripada yang sebelumnya diberikan oleh staf rumah sakit yang memberikan diagnosis awal vegetatif.

Tujuh belas dari empat puluh pasien yang diyakini berada dalam keadaan vegetatif ternyata waspada, menyadari apa yang terjadi pada mereka, dan seringkali dapat mengekspresikan diri mereka dalam bentuk komunikasi sederhana (misalnya, anggukan kepala, mata berkedip, atau gerakan jari).

Sebagai kepala penelitian, Dr. Keith Andrews mengatakan, “Sangat menyedihkan saat teringat bahwa beberapa pasien yang sebenarnya sadar (tidak koma) diperlakukan sebagai vegetatif selama bertahun-tahun. Pasti sangat tersiksa ketika kita sebenarnya sadar (tidak koma) namun tidak bisa melakukan kontak.”

Menurut American Neurological Association, orang-orang dalam keadaan vegetatif tidak menunjukkan kesadaran akan diri mereka atau lingkungan sekitar mereka, tidak menanggapi pertanyaan atau rangsangan fisik kecuali secara refleks, namun membuka mata mereka dan tampak mengalami masa terbangun dan tidur. Keadaan ini didefinisikan sebagai persisten jika berlangsung lebih lama dari sebulan.

Komunikasi (dalam Keadaan) Koma

Ilmuwan Inggris bereksperimen untuk membantu dokter berkomunikasi dengan orang-orang dalam keadaan koma. Para ilmuwan di London akan menggunakan elektroda berbentuk “jepitan rambut” yang terhubung ke komputer untuk “membaca” pikiran orang yang koma. Pasien koma akan diminta untuk berpikir (misalnya memerintahkan otak mereka untuk memindahkan sebagian anggota tubuh). Jika pasien bisa mendengar, pasien akan bisa berpikir, sehingga komputer bisa mendeteksi pikiran pasien dan menerjemahkannya menjadi “ya” atau “tidak.” Ini merupakan bentuk komunikasi yang sederhana – tidak terlalu berarti, tapi lebih baik daripada tidak. Menurut kepala tim peneliti, Dr. Steve Roberts:

“Ada banyak orang yang mengalami luka parah, terbangun dari koma dan menceritakan pengalaman yang buruk karena sadar akan lingkungan sekitar mereka tetapi sama sekali tidak dapat berkomunikasi dengan cara apapun. Kita berharap pasien dapat memberi respon terhadap metode ini sehingga kita dapat membantu rehabilitasi mereka agar sadar dari koma. Bahkan ada harapan kita bisa mengatakan “ada seseorang di sana,” yang akan sangat menghibur pasien.”

Komunikasi semacam ini dimungkinkan karena penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa otak melatih dan menyiapkan gerakan, dalam artian bahwa bagian otak tertentu akan aktif ketika seseorang benar-benar bergerak atau hanya sekadar memikirkannya.

***

(koleksi pribadi)

Dikutip dan diterjemahkan oleh penulis dari buku berjudul “The Odd Brain: Mysteries of Our Weird and Wonderful Brain Explained” karya Stephen Juan.

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s