The Remembering Brain #1: Déjà vu

“Kita sudah pernah ketemu, ya?”

“Kayaknya saya sudah pernah ke sini, deh.”

“Tunggu, tunggu. Rasanya ini nggak asing.”

Kebanyakan dari kita pernah mengalami déjà vu setidaknya sekali, namun fenomena unik ini tetap saja masih membingungkan dari segi ilmu medis dan perilaku (behavioral and medical science). Para peneliti dan dokter belum sama-sama setuju terkait penyebab dan apa arti sebenarnya tentang déjà vu. Apa sebenarnya yang terjadi di otak ketika kita mengalami déjà vu?

Déjà vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah terlihat“. Pada dasarnya, kita dikatakan mengalami déjà vu setiap kali kita menjumpai sesuatu yang sebenarnya tidak kita kenal/ketahui sebelumnya namun terasa familiar. Misalnya, ketika kita bertemu seseorang untuk pertama kali, namun wajahnya terasa familiar, seperti pernah bertemu sebelumnya. Atau ketika kita melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk pertama kalinya, kita merasa seperti sudah pernah ke sana sebelumnya. Karena itulah déjà vu bisa menjadi sangat membingungkan.

Sir Walter Scott menulis tentang déjà vu di jurnalnya (1828). Charles Dickens menggambarkannya di David Copperfield (1849). Leo Tolstoy menyebutkannya beberapa kali dalam trilogi otobiografinya, Childhood (1852), Boyhood (1854), dan Youth (1856) dan dalam War and Peace (1869). Marcel Proust merujuknya pada Remembrance of Things Past (1913-1927). Film Madonna tahun 1985 berjudul Desperately Seeking Susan, disutradarai oleh Susan Seidelman, menceritakan tokoh wanita tersebut memiliki pengalaman amnesia déjà vu setelah mengalami cedera kepala. Déjà vu, tampaknya, telah menjadi bagian dari budaya kita.

Déjà vu juga sangat lumrah terjadi. Sekitar 30 sampai 96 persen manusia telah mengalami déjà vu setidaknya sekali atau bahkan beberapa kali dalam hidup mereka dan bahwa déjà vu ternyata terjadi sama seringnya pada pria maupun wanita. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa usia merupakan faktor dalam déjà vu. Déjà vu terjadi agak lebih sering pada orang yang lebih muda daripada orang tua. Tapi tidak ada yang tahu kenapa begitu.

Meskipun déjà vu kadang terjadi pada pasien dengan berbagai penyakit medis dan kejiwaan, déjà vu juga terjadi pada orang sehat dan normal. Beberapa peneliti menemukan bahwa déjà vu telah muncul pada orang-orang dengan kecemasan dan neurosis disosiatif, gangguan mood dan kepribadian, skizofrenia, dan gangguan otak organik dan sindrom. Déjà vu juga diduga didorong oleh faktor trauma psikologis, kelelahan emosional, atau penggunaan narkoba, terutama bila kelelahan, stres, dan penyakit fisik terlibat. Secara khusus, beberapa studi menunjukkan bahwa déjà vu terkait dengan epilepsi. Meski demikian, seorang ilmuwan Belanda mengklaim bahwa tidak ada hubungan mutlak antara déjà vu dengan gangguan kejiwaan dan neurologis manapun.

Déjà vu kadang-kadang diserupakan dengan kilas balik, actualized precognition, atau cryptomnesia, padahal keempatnya sangat berbeda. Pada kejadian kilas balik, seseorang mungkin membayangkan dirinya sendiri benar-benar kembali ke ruang dan waktu; masa lalunya terbentang, hampir seolah-olah berada di rekaman video. Pada kejadian prakualifikasi yang diaktualisasikan (actualized precognition), seseorang memiliki kesan bahwa situasi saat ini telah ia ramalkan sebelumnya; ia tahu apa yang akan terjadi sebelum hal itu terjadi. Dalam kriptomnesia, seseorang memiliki perasaan bahwa masa lalunya sendiri, yang seharusnya tidak asing lagi, anehnya asing. Dengan demikian, kriptomnesia dapat dianggap sebagai kebalikan dari déjà vu – dan sama-sama membingungkannya.

Ada banyak upaya untuk menjelaskan déjà vu. Sigmund Freud menggambarkan déjà vu sebagai “luar biasa” dan “ajaib.” Dalam The Psychopathology of Everyday Life (1901), Freud menjelaskan bahwa déjà vu melibatkan ingatan akan sebuah fantasi atau harapan yang tidak disadari. Sejak Freud, sebagian ilmuwan mencoba menjelaskan déjà vu sebagai bentuk amnesia, gangguan perhatian, atau masalah visualisasi dan citra; lainnya berpendapat bahwa déjà vu berakibat dari kebingungan mimpi atau gabungan memori yang kompleks.

Salah satu teori mengemukakan bahwa déjà vu mungkin melibatkan lobus temporal kanan atau kiri. Ahli saraf telah berhasil merangsang pengalaman déjà vu dengan merangsang lobus temporal secara elektrik (dengan memberikan rangsangan listrik). Hanya saja, rangsangan listrik dengan elektroda yang sama di lobus temporal yang sama juga merangsang timbulnya halusinasi.

Pada tahun 1990, Herman Sno dan Don Linszen mengusulkan apa yang mereka sebut model hologram untuk menjelaskan déjà vu. Secara singkat, dalam fotografi, hologram adalah gambar tiga dimensi yang terdiri dari kotak kecil informasi yang dikumpulkan sedemikian rupa sehingga menyerupai mosaik. Sno dan Linszen mengklaim bahwa persepsi dan ingatan seperti hologram. Déjà vu diproduksi ketika satu potong hologram (persepsi sekarang) mengumpulkan potongan-potongan hologram lainnya (memori masa lalu), sehingga otak menjadi bingung membedakan keduanya. Teori yang cukup menarik ini sangat mirip dengan penjelasan déjà vu yang diajukan oleh seorang psikiater bernama Dr. Harold Levitan pada tahun 1969.

Ictal Déjà vu

Ictal mengacu pada sesuatu yang berhubungan dengan stroke. Menurut sebuah penelitian, stroke bisa memicu fenomena ictal déjà vu. Periset di University of Arizona melaporkan bahwa pada delapan pasien dengan ictal déjà vu, semua pasien tidak-kidal mengalami kerusakan pada lobus temporal kanan, dan semua pasien kidal mengalami kerusakan pada lobus temporal kiri. Bagi yang tidak-kidal, belahan otak kiri adalah dominan; sebaliknya, bagi yang kidal, belahan otak kanan adalah dominan; sehingga para peneliti berspekulasi bahwa déjà vu mungkin terletak di bagian otak non-dominan.

***

Hingga kini, déjà vu masih tetap sama membingungkannya.

***

Para ahli mengklaim bahwa ketika mereka masuk ke sebuah ruangan, orang kidal cenderung berbelok ke kiri, orang tidak-kidal cenderung membelok ke kanan. Peneliti mengklaim bahwa meskipun banyak orang tidak-kidal yang benar-benar menggunakan tangan kanan, tidak ada orang kidal yang benar-benar kidal. Pegawai kidal memiliki keuntungan sebagai musisi karena di otak mereka, bagian yang berhubungan dengan suara lebih besar dan lebih berkembang. Rata-rata, orang tidak-kidal hidup sembilan tahun lebih lama dari pada orang kidal.

***

(koleksi pribadi)

Dikutip dan diterjemahkan oleh penulis dari buku berjudul “The Odd Brain: Mysteries of Our Weird and Wonderful Brain Explained” karya Stephen Juan.

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s