Adab dalam Bertamu

Di tengah kengeluan karena merevisi buku ajar yang rasanya kok rauwis-uwis, saya memilih ngeblog aja sebagai pelipur greget. Sebenarnya ada dua hal yang sedang berkecamuk dalam pikiran saya (halah); yang pertama adalah tentang adab dalam bertamu dan yang kedua adalah pilihan seorang wanita dalam menjalani hidupnya setelah menikah. Karena yang kedua ini cenderung lebih sensitif, jadi saya cerita yang pertama dulu deh, soal adab bertamu.

Kemarin, seorang bapak bertamu ke rumah Pak Budi; Pak Budi ini tetangga saya depan rumah. Si Bapak begitu menyita perhatian saya dan adik saya karena beliau menggedor-gedor pagar sambil mengucapkan “Permisi!” dengan suara keras. Berkali-kali. Selama setengah jam lebih. Si Bapak bahkan seperti ingin memaksa membuka pagar (seperti di film-film kalo meronta-ronta ingin lepas dari kurungan itu lho) dan juga memanjat pagar untuk mengintip rumah dan menggunakan kunci sepeda motornya untuk membunyikan pagar lebih nyaring. Bhayangkan!

Saat itu (sepertinya) tidak ada orang di rumah Pak Budi. Kedua mobil beliau tidak ada, pun sepeda motornya. Agak aneh memang, karena setiap hari dan setiap saat pasti adaa aja orang di rumah Pak Budi karena profesi beliau adalah wirausahawan yang mengerjakan usahanya dari rumah sendiri. Tapi ya bukan nggak mungkin juga kan saat itu benar-benar sedang tak ada orang di rumah?

Perilaku si Bapak yang bertamu dengan kasar dan tidak sabaran ini mau-tidak-mau mengundang spekulasi yang tidak-tidak, sebisa mungkin saya dan adik saya sudah mencoba berhusnuzon. Seperti, “jangan-jangan debt collector…” hahaha. Istighfar, Sep~

Biasanya bagaimana sikap kita saat bertamu? Saya diajarkan untuk mengetuk sambil memberi salam sebanyak tiga kali. Jika dalam tiga kali tidak ada jawaban, saya akan pulang dan kembali lagi esok atau beberapa jam kemudian.

Dan sebaiknya memang begitu. Tidak dengan menggedor keras dan teriak-teriak selama sekitar 45 menit non-stop (nggak capek apa, Pak?) 😦

Setelah sekitar 45 menit, karena tetangga-tetangga saya tidak ada yang keluar untuk mengakhiri kegaduhan itu, adik saya keluar dan menyapa si Bapak sambil berkata, “Mungkin lagi pergi Pak orangnya.”

Dan setelah beberapa kalimat tanya-jawab, si Bapak pun pergi dengan tetap merasa tidak puas dan berjanji akan kembali esok hari.

Postingan ini hanya akan membahas itu aja sih. Islam telah mengajarkan bagaimana sebaiknya dan seharusnya kita berperilaku, dan salah satunya adalah ketika bertamu. Adab bertamu sebenarnya masih banyak, terutama ketika kita telah diterima masuk oleh empunya rumah. Tapi hendaknya sebelum dipersilakan masuk, kita sudah memulainya dengan cara-cara yang baik dan sopan.

Tiga kali ketuk dan salam dengan jeda yang cukup. Tiga kali saja.

Wallahu a’lam.

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s