Pulau Penyengat dan Pak Sukri: Kenangan Sekolah Dasar

Pagi ini, sambil menunggu proses pengajuan deposito, salah satu kanal televisi swasta menyiarkan tentang Festival Pulau Penyengat yang akan diadakan bulan ini di Tanjung Pinang. Seketika saya ingat seseorang: cinta pertama saya dulu. Sepertinya perihal Pulau Penyengat ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup, haha. Bagaimana tidak, hal pertama yang saya dengar darinya adalah tentang Pulau Penyengat yang diceritakannya saat sesi penyisihan olimpiade Bahasa Indonesia dulu sekali, saat saya masih kelas 6 SD. Ia tidak hanya menceritakannya kepada saya, tentu saja; ia bercerita di depan seluruh juri dan peserta lainnya, dengan suara lantang dan kepercayaan diri yang membuat siapa pun minder. Saya termasuk salah satu peserta lainnya yang dibuat terpana πŸ˜† yang kemudian mengalahkannya πŸ˜†

Postingan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pulau Penyengat. Saya pun sudah lupa ceritanya tentang Pulau Penyengat, padahal bertahun-tahun setelahnya, saya minta diceritakan lagi, tapi tetap aja lupa sekarang *my brain* πŸ˜†

Yang ingin saya ceritakan sebenarnya adalah pengalaman saya setelah hari itu. Jadi dalam babak penyisihan, ada tiga kategori yang dinilai: (1) kemampuan tata bahasa; (2) kemampuan menulis esai; dan (3) kemampuan bercerita di hadapan khalayak, semacam public speaking gitu. Kategori ketiga saya, udahlah ya, jelek banget gatau bilang lah. Nilai jeblok sejeblok-jebloknya. Saya dulu pemalu banget, pendiem, jalan nunduk, suara kecil, you name it lah. Pas sesi ketiga ini saya dibuat minder sama peserta-peserta lain. Tapi untungnya, nilai saya untuk kategori pertama dan kedua melambung jauh di atas peserta lainnya, makanya setelah diakumulasi tetep saya yang menang dan maju ke tingkat provinsi, wkwk πŸ˜† beruntung.

Beberapa hari setelah hari itu, guru pembimbing saya, Pak Sukri namanya, memanggil saya ke kantor sepulang sekolah. Seperti biasa, jadwal bimbingan olimpiade. Tapi hari itu beda dengan hari-hari sebelumnya. Beliau menyuruh saya berdiri di hadapannya dan bercerita dengan lantang, plus dengan intonasi, mimik wajah, dan ekspresi yang tepat. Semacam lagi di pertunjukan teater lah. Saya? Jelas nggak bisa πŸ˜†

Bayangkan, saya yang biasanya kalo jalan aja nunduk menghindari tatapan orang, sekarang disuruh akting. Tapi Pak Sukri nggak menyerah, beliau terus mempressing saya, wkwkwk. Tidak lama, saya nangis, wahahaha. Saya bilang saya nggak bisa. Saya bisanya nulis, saya nggak bisa akting, nggak bisa deklamasiin puisi, dan saya nyerah. Saya sampe bilang agar si Juara III aja (cinta pertama saya) yang gantiin saya, wkwkwk emangnya bisa?! Tapi lagi-lagi, Pak Sukri nggak menyerah begitu aja. Beliau sabarrr banget. Beliau kayak percaya gitu kalo saya pasti bisa. Beliau yakin kalo si anak introvert ini sebenernya bisa dipaksa buat ngomong di depan orang. Dan hari itulah pertama kalinya saya nangis sesenggukan berjam-jam di depan guru; bukan karena saya bikin masalah, bukan karena nilai saya jelek, tapi karena saya NGGAK BERANI πŸ˜†

Hari itu dan beberapa hari setelahnya masih dilanjutkan dengan usaha Pak Sukri untuk menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri kepada si Septia kecil πŸ˜† dan Alhamdulillah beliau berhasil. Setelah dilatih oleh Pak Sukri, saya mulai berani ngomong di depan orang banyak. Saya bisa mendeklamasikan puisi, nilai saya cukup baik pada kategori pidato dan sinopsis saat olimpiade tingkat provinsi. Bahkan setelahnya, saya berulang kali mewakili kelas dan sekolah dalam berbagai perlombaan yang membuat saya harus berdiri di depan khalayak dengan percaya diri. Semua berkat jasa Pak Sukri.

Saya nggak tau dan nggak bisa membayangkan gimana jadinya saya sekarang kalo nggak ada Pak Sukri; atau kalo Pak Sukri nggak sabaran ngelatih saya. Mungkin saya tetap bakal menjadi seseorang yang cupu, pinter akademik tapi kalo presentasi ngomongnya nggremeng alias menggumam doang, dan nggak maju-maju, nggak dapat kesempatan. Sekarang saya kalo jalan masih nunduk, masih suka menghindari interaksi dengan orang lain (kalo nggak harus), tapi setidaknya saya cukup baik dalam mempresentasikan hasil penelitian, bisa ngajar di kelas tanpa malu (meski kadang tetep deg-deg-an, wkwk), dan sudah mampu public speaking (tapi topik apa dulu, wkwk). Tanpa Pak Sukri, mungkin saya nggak akan berada di tempat sekarang saya berada.

Oya, ibu saya. Setelah kejadian saya nangis-nangis, Pak Sukri melaporkannya kepada ibu saya. Berhari-hari setelahnya, selain motivasi dari Pak Sukri, ibu saya juga berulang kali mengatakan hal-hal seperti:

β€œPinter aja nggak cukup, Ya. Harus berani. Berani berbicara, berani mengungkapkan pendapat. Gimana orang bakal tau kemampuan Mbak Iya, kalo Mbak Iya diem aja? Gimana orang bisa tau kalo Mbak Iya sebenernya itu pinter, sebenernya bisa, kalo semuanya dipendam sendiri? Gimana Mbak Iya mau membawa perubahan buat lingkungan sekitar Mbak Iya, kalo Mbak Iya nggak berani ngapa-ngapain?”

Dulu mungkin saya menangis berjam-jam, mempertanyakan berulang kali kenapa harus saya, kenapa saya nggak bisa, dan kenapa saya nggak boleh mundur aja. Tapi sekarang semuanya tinggal kenangan lucu yang kalo diingat bikin ketawa, betapa cupunya saya dulu.

Tanpa beliau berdua, entah bisa terdampar di mana saya sekarang πŸ˜† terima kasih, Ibu dan Pak Sukri. Saya mungkin tidak sevokal Ketua BEM UI *ups* tapi setidaknya saya sekarang sudah punya tujuan sendiri dan tau bagaimana jalan menujunya πŸ™‚

Terima kasih juga, cinta pertama saya, sudah membuat saya begitu minder dan merasa seperti remah kerupuk di antara donat J-Co. Terima kasih telah menjadi role model masa sekolah saya πŸ˜† *tapi serius lho* :mrgreen:

Nih saya kasih bonus: foto cupu jaman SMP πŸ˜†

Iklan

3 pemikiran pada “Pulau Penyengat dan Pak Sukri: Kenangan Sekolah Dasar

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s