Along with the Gods: The Two Worlds (Bukan Review, Spoiler Dikit)

Lebih ke sekedar berbagi cerita sebenernya, karena saya juga ndak ahli mereview film πŸ˜€

Jadi udah dari semingguan lalu saya pengen banget nonton Korean movie ini karena ngelihat beberapa komentar di twitter yang katanya bagus dan bikin nangis mewek. Harus nonton dong sebagai pemuja tearjerking movie, hahaha πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜† okay singkat cerita berangkatlah saya dan suami ke CGV Marvell City di Ngagel.

Along with The Gods official poster

Film dimulai pukul 20.50 dan nggak terlalu banyak ba-bi-bu, langsung masuk ke adegan Kim Ja-hong (diperankan oleh Cha Tae-hyun) meninggal setelah berusaha menyelamatkan seorang anak perempuan dari kebakaran. Akhirnya dibawalah dia ke akhirat di mana ia harus mengikuti 7 pengadilan selama 49 hari didampingi oleh 3 Guardians yang bertindak sebagai pengacaranya. Ketiganya adalah Gang Rim (diperankan oleh Ha Jung-woo), Hae Won Maek / Hewonmak (diperankan oleh Ju Ji-hoon), dan Lee Duk-choon (diperankan oleh Kim Hyang-gi). Kalo menggemari drama korea, pasti udah nggak asing lagi sama nama-nama beken nan hits tersebut.

Dari alurnya, jujur di awal agak membosankan bagi saya. Saya rasa ini karena saya sudah terlanjur berekspektasi tinggi bahwa film ini adalah film yang mengharukan banget, tapi sampai setengah jalan kok nggak ada sedih-sedihnya ya? Tapi semuanya terobati dengan humor renyah yang ditampilkan oleh Hewonmak. Si Hewonmak ini menghibur banget, sebioskop dibikin ngakak bolak-balik. Kalo ingat Ju Ji-hoon dalam Princess Hours yang berperan sebagai pangeran cool abis, ngelihat dia ngelawak di sini udah cukup sebagai hiburan tersendiri. Dan meskipun saya nggak sampe dibikin ketawa (bukan salah Hewonmak, sayanya aja yang emang agak susah dibikin ketawa, hehe), harus saya akui karakter Hewonmak inilah yang paling kuat dan bersinar daripada yang lainnya. Padahal tokoh utamanya adalah Kim Ja-hong lho, sayang Cha Tae-hyun yang memerankannya kurang bersinar di film ini. Tapi mungkin karena memang karakternya pasif makanya cenderung kelindes Hewonmak, hehe.

The Three Guardians

Hewonmak (kiri) dan Gang Rim (kanan)

Kalo dari segi cerita, saya tertarik karena ingin tahu bagaimana konsep kematian dan kehidupan setelah kematian (afterlife) dalam agama Buddha. Dan ternyata serupa dengan konsep penghakiman dalam Islam. Seseorang akan menjalani pengadilan yang akan menampilkan semua kilas kehidupannya, dan ketika ia bersalah/berdosa, ia akan dihukum sesuai dengan kesalahannya. Ada bermacam siksaan sesuai dosa/kesalahan, mulai dari tenggelam dalam lautan magma bagi pembunuh, digilas oleh batu besar bagi yang berlaku zalim, dan dipotong lidahnya bagi pendusta. Ada 7 dosa utama: pembunuhan, kemalasan, dusta, pengkhianatan, berlaku zalim/tidak adil, kekerasan, dan durhaka. Untuk bisa bereinkarnasi, Kim Ja-hong harus melalui 7 pengadilan ini dan membuktikan dirinya telah menjalani hidup yang baik (hanya orang baik yang akan bereinkarnasi).

Sampai ke pengadilan terakhir, diketahui bahwa ternyata Kim Ja-hong pernah berniat membunuh ibunya, adiknya, dan dirinya sendiri ketika masih remaja dulu (karena ibunya sakit-sakitan dan kondisi mereka sangat terpuruk). Dosa filial impiety (durhaka terhadap orangtua/keluarga sedarah) inilah yang membuatnya harus menjalani neraka, sebelum kemudian diketahui bahwa ibunya (dengan cinta beliau yang begitu besar) telah memaafkan Ja-hong dan adiknya. Okay, sebioskop mulai bersit-bersit ingus pas adegan ini, termasuk saya dan suami πŸ˜† memang di mana-mana, hubungan orangtua (ayah/ibu) dan anak selalu sukses bikin banjir air mata.

Kim Ja-hong dan Dok-choon

Pesan yang ingin disampaikan film ini adalah agar kita lebih menghargai hidup dan agar kita senantiasa berbuat baik kepada sesama. Dari semua ajaran agama, memang Buddha lah yang menurut saya paling menekankan pentingnya mengabdikan diri kepada kebaikan dan kepentingan sesama, bahkan tidak hanya kepada sesama manusia, namun juga kepada makhluk hidup lain. Berbuat baiklah, jangan berdusta, jangan berlaku zalim, dan selalu berhati-hati dalam bertindak, jangan sampai cara kita memperlakukan orang lain menyebabkan orang itu merasa buruk. Seperti Hewonmak bilang, jangan asal komen di media sosial, bisa jadi itu menjadi penyebab seseorang bunuh diri dan kita jadi kecipratan dosa membunuh secara tidak langsung. Bijaklah πŸ™‚

Sinematografinya cukup oke, meskipun belom bisa ngalahin sinematografinya Makoto Shinkai πŸ˜› (YAKALI SEP, nggak apple-to-apple perbandingannya!) πŸ˜†

Dari segi akting, perlu saya tekankan kembali bahwa Ju Ji-hoon joss banget memerankan Hewonmak sebagai pelindung mereka yang strong but not smart πŸ˜† long live Ju Ji-hoon lah! Padahal saya dulu biasa aja pas dia main di Princess Hours, tapi di sini, beuhh…two thumbs up! Kim Hyang-gi juga keren banget aktingnya (inget nggak, dia anak perempuan di another tearjerking Korean movie Wedding Dress). Nangisnya dia itu lho, nangis banget T.T kalo Ha Jung-woo nggak usah ditanya lah ya πŸ˜€ oya satu lagi, D.O. Kyungsoo di sini juga mantep aktingnya, meski cuma peran pendukung.

Hal lain yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah pemeran pendukung dan cameo lainnya. Gilanya ini film adalah semua tokohnya diperankan oleh aktor/aktris yang udah bolak-balik masuk layar kaca maupun layar lebar, bahkan yang dijadiin cameo aja aktor dan aktris senior banget! Lihat aja list full cast-nya. Ada Kim Ha-neul yang muncul sebentar sebagai dewi neraka pengkhianatan yang cantik jelita, ada Kim Min-jong, Kim Su-ro, juga Kim Su-an dan Ma Deong-sok dari Train to Busan. Udahlah. Padahal saya termasuk picky kalo soal drama korea (nggak banyak nonton maksudnya), tapi semua wajah di film ini familiar.

Ada poin lain juga yang kurang penting tapi cukup mengganggu, hehe, saya kurang sreg aja dengan pihak bioskop yang menerjemahkan filial impiety sebagai kemurtadan alih-alih durhaka. Filial. Impiety. Gitu. Lho. Hm~

Terakhir, Along with The Gods recommended lah untuk ditonton. Lengkap, ada sedihnya (tapi teuteup, belum ada yang bisa ngalahin posisi Wedding Dress sebagai Korean movie paling menguras air mata), humornya renyah, seputar keluarga dan persahabatan banget (bosan kan ya kalo romansa terus) dan yang paling penting, pesan moral yang ingin disampaikan relevan sekali dengan kehidupan. Jangan lupa bawa sapu tangan; kecuali kalo nonton jam paling akhir yang selesainya midnight jadi nggak apa-apa juga kalo mau make kerudung atau lengan baju buat ngelap ingus πŸ˜›

Along with The Gods: The Two Worlds 4.5/5!

*sumber gambar: google

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s