Eksklusivisme

eksklusivisme /eks·klu·si·vis·me/ /éksklusivisme/ n paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat: di kota besar terdapat gejala — , terutama pada orang yang berada

Beberapa hari lalu, saya mendengar dosen-dosen bergosip soal salah satu kelompok belajar yang memprospek mahasiswa/i tertentu yang dinilai pintar untuk masuk ke kelompok mereka. Memprospek?! Ini perguruan tinggi lho, bukan perusahaan trading 😆 Terlepas dari benar tidaknya gosip ini – yang kelihatannya lebih cenderung ke prasangka daripada fakta – kecenderungan seperti ini amat sangat tidak saya setujui. Sejak dulu, saya bisa dibilang mengutuk (hahaha sok keras, Sep!) segala bentuk perilaku diskriminasi dan eksklusivisme; salah satu penyebabnya mungkin karena saya menghabiskan sebagian masa kecil saya menjadi objek perilaku tidak menyenangkan tersebut, bahkan, dari orang-orang terpelajar yang sebelumnya amat saya hormati.

Perihal memprospek, come on, siapa sih (guru/dosen) yang tidak suka mendapat (murid/mahasiswa) yang pintar, yang dijelasin bentar aja udah ngerti, yang kerjanya cag-ceg, yang bisa dikasih proyek dan tugas-tugas sulit dan berat? Tapi, apakah memang harus seperti itu caranya? Saya rasa semua mahasiswa memiliki hak yang sama untuk mendapat perlakuan tertentu, tidak dengan memilih bibit terbaik kemudian mengabaikan sisanya.

Saya memang hanya mendengar gosip ini tanpa tahu yang sebenarnya terjadi apakah benar demikian, dan jujur saja, saya cenderung less interested untuk mencari tahu. Rasanya sulit bagi saya untuk menemukan pembelaan terhadap gosip tersebut mengingat yang saya lihat sendiri di lapangan adalah mereka…begitu eksklusif. Err wait, apa saya terdengar agak subjektif ya di sini? Hahaha. Sebenarnya saya ngefans kok dengan metode yang promotor mereka gunakan untuk membimbing anak-anak muda. Saya banyak melihat metode seperti itu diterapkan di kampus-kampus Asia Timur, dan jujur saja saya juga berencana menerapkannya jika nanti saya punya mahasiswa bimbingan sendiri. Sebagiannya lah.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah, segala kesan eksklusif yang muncul itu rasanya benar-benar mengganggu dan tidak perlu.

Dan, kesan eksklusif ini sudah terbangun sejak bertahun-tahun lalu kelompok belajar ini dirintis. Agak sulit sih menjelaskan bagaimana. Hanya saja, timbul kesan bahwa yang bisa masuk kelompok itu hanyalah yang pintar-pintar saja. Padahal ya nggak gitu juga sebenernya (terbukti lewat nilai matkul-matkul mereka dan beberapa di antaranya yang saya kenal). Tapi toh kesan yang terbangun sudah seperti itu. Lalu bagaimana dampaknya terhadap mahasiswa lain? Sayangnya jauh lebih luas dari itu… Ini sepengamatan saya lho, dan kalo dibahas jadi panjang lagi hahaha 😆

Bagi saya, eksklusivisme itu cenderung bermakna negatif dan memberi kesan kurang baik. Jika kita bisa berkembang tanpa harus membuat diri kita terbatasi tembok dengan orang lain, kenapa tidak? Jika kita bisa maju tanpa (dalam waktu yang sama) membuat tembok pembatas antara kita dan sekitar semakin tinggi, kenapa tidak?

Sekali lagi, segala bentuk eksklusivisme itu rasanya mengganggu dan tidak perlu, meski hanya sebatas kesan yang ditimbulkan.

Yah, namanya juga opini. Jadi kedengarannya ya begitulah :mrgreen:

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s