Your Lack of Empathy

Beberapa hari lalu, salah seorang dosen senior menasehati saya, dalam rangka refleksi akhir tahun, katanya. Dan yang paling menjadi concern beliau adalah kurangnya empati yang saya miliki. Saya menilai ini sangat baik. To be honest, saya bahkan menerimanya dengan lapang. Jujur saja, saya sudah menduga cepat atau lambat pasti (dan harus) ada seseorang yang mengungkapkannya kepada saya. Dan saya sama sekali tidak kaget.

Menurut beliau, kurangnya empati saya ditunjukkan dengan posisi saya yang selalu menjadi silent reader di grup whatsapp dosen-dosen. Saya tidak pernah terlihat mengucapkan selamat ulang tahun atau ucapan selamat atas prestasi lainnya, dan juga tidak pernah menyampaikan belasungkawa jika ada kolega atau keluarga yang sakit atau bahkan meninggal dunia. Saya jarang terlihat membaur ketika ada acara kumpul (meski saya hadir). Saya…terasing. Dan saya mengakuinya, memang benar. Saya bisa dibilang tidak pernah angkat bicara kecuali jika benar-benar saya yang dipanggil/ditag. Saran beliau adalah, agar saya lebih nimbrung di grup; demi hubungan kerja dan kekerabatan yang lebih cair, saya perlu menunjukkan empati kepada sesama.

Ini bukan hal baru bagi saya. Sudah banyak sekali orang yang mengenal saya di dunia nyata menilai saya sebagai seseorang yang dingin, pendiam, dan kaku. Tapi apakah benar saya kurang empati?

Pasalnya, saya terkadang mengirim pesan selamat/belasungkawa secara pribadi (tidak di grup). Saya lebih suka melakukan ini karena — entahlah, lebih nyaman saja rasanya. Tapi saya tau sikap saya ini berkemungkinan menimbulkan prasangka yang tidak baik, karena itu mulai saat ini saya akan lebih nyaut di grup 🙂

Tapi, sekali lagi, apakah saya kurang berempati? Saya, lagi-lagi, tidak terlalu yakin. Saya sebenarnya mudah sekali tersentuh melihat sesuatu. Saya bisa dimasukkan dalam kategori cengeng sekali ketika menonton film atau membaca buku. Nonton film action aja saya bisa nangis ketika ngelihat secuplik adegan ayah-anak, misalnya, apalagi nonton film yang sedih banget kayak Grave of the Fireflies (Jepang) atau Wedding Dress (Korea). Habis itu sarung atau bantal saya bikin basah kuyup.

Other people may have a difficult time understanding an INTJ. They may see them as aloof and reserved. Indeed, the INTJ is not overly demonstrative of their affections, and is likely to not give as much praise or positive support as others may need or desire. That doesn’t mean that he or she doesn’t truly have affection or regard for others, they simply do not typically feel the need to express it. Others may falsely perceive the INTJ as being rigid and set in their ways. (source here)

Empati, tentu saya punya. Saya merasakan dengan baik emosi orang-orang di sekitar saya. Hanya saja, sebagai seorang INTJ, saya hanya tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya. Saya tidak merasa butuh mengungkapkannya. Saya bahkan seringkali jadi salah tingkah ketika harus mengekspresikannya. Saya terharu, saya sedih, saya senang ketika mendapat apresiasi, saya malu-malu ketika dipuji; semua emosi tersebut saya rasakan. Bahkan, ketika saya cerita ke suami saya kalo dulu saya sering deg-deg-an ketika bertemu dengannya, ia dengan tidak percaya menjawab, “Ah masa, bohong. Adek aja keliatan dingin dan kayak nggak ngelihat mas kalo kita papasan.” See? Saya tidak bisa memberi umpan-balik terhadap emosi yang saya rasakan/terima. Mungkin jika diibaratkan saya ini seperti benda hitam: menyerap, tanpa sedikit pun memantulkan. Dan inilah yang sering disalahpahami orang. Orang lain mungkin menganggap saya tidak merasakan apa-apa, saya tidak bersimpati, saya tidak berempati, meski sebenarnya tidak sepenuhnya demikian.

Saya sadari ini adalah kekurangan, maka untuk meminimalisir kesalahpahaman yang lainnya, saya benar-benar perlu belajar mengatasinya 🙂

Iklan

3 pemikiran pada “Your Lack of Empathy

  1. Mba septi.. kok mirip ya.. mungkin karena introvert cenderung kurang pandai mengekspresikan perasaan, jadinya sering disalahpahami.. padahal sebenarnya, jauh di dalam hati rasa peduli itu ada.. sayangnya orang2 tidak bisa merasakannya karena mereka tidak bisa membaca isi hati kita.. hehe.. (atau kitanya yang terlalu pandai menyembunyikan perasaan?) tapi kalau yang udah kenal dekat biasanya sih ngerti.. sehat terus ya mba..

    • Ekaaa, kok bisa nyampe ke sini hehe 🙂 iya, Ka. Kalo yg udah deket bgt biasanya paham. Atau, bisa ngerasain pas kita ada apa2 meskipun tetep nggak bisa nebak kenapanya. Pintar2 kita menyikapi juga, Ka. Biar orang gak salah paham, terutama orang yg berarti bagi kita, hehe

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s