Galau PhD

Jadi begini. Sudah setahun belakangan ini saya tak henti-hentinya digalaukan oleh urusan mau ngambil topik apa buat PhD. Memangnya kenapa bingung? Karena ada banyak sekali kepentingan yang terlibat. Saya kupas satu-satu ya (sekalian curhat).

PERTAMA, saat ini saya berkedudukan sebagai staf dosen di Lab. Biofisika dan Fisika Medis. Udahlah ya lupakan aja betapa saya merasa kesasar masuk lab ini karena sebenarnya latar belakang pendidikan saya adalah material energi terbarukan. Otomatis, dengan mempertimbangkan kondisi bidang minat fisika medis yang tidak memiliki dosen yang mumpuni, apalagi dosen biofisikanya ucul satu-persatu karena akan segera pensiun; saya diharap-harap untuk mengambil PhD bidang fisika medis. Sejauh yang saya pahami sampe saat ini sih, topik-topik fisika medis yang menjadi concern di tempat saya adalah tentang MRI dan CT-scan.

Terus, kenapa saya nggak PhD di bidang tersebut aja? Karena saya nggak sreg. Iya, nggak sreg. Alasannya banyak.


Pertama dan yang paling berat adalah, karena bidang ini sudah establish dan teknologinya sudah diterapkan di mana-mana. RS mana sekarang yang nggak punya MRI/CT? Ke-establish-an bidang ini membuat saya merasa kurang ada tantangannya jika saya keukeuh mengambil jalan ini *minta ditabok* Setelah ngobrol-ngobrol dengan teman yang penelitiannya tentang NMR (the basic concept of MRI), ternyata ada cukup banyak ruang untuk diimprove. Hanya sajaaa, hanya saja ni, teknologi tersebut saking advance-nya, sehingga kalo pun saya ngambil topik itu, bakal tidak terlalu aplikatif juga kalo diterapkan di Indonesia.

Alasan kedua adalah, topik-topik penelitian yang selama ini digarap oleh mahasiswa (atas supervising dosen tentunya) adalah topik-topik sederhana dan pekerjaan yang cenderung teknikal. Parahnya lagi, saya tidak bisa melihat gambaran besarnya. Topik-topik tersebut okelah kalo untuk garapan seorang calon sarjana. Tapi untuk seorang dosen/peneliti? Seorang calon PhD? Benar-benar nggak cukup…

Saya pernah mengikuti seminar fisika medis selama dua hari yang diselenggarakan kampus saya. Pematerinya adalah seorang fisikawan medis. Pada acara tersebut, saya memanfaatkan kesempatan untuk belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya pada bidang yang baru pertama saya sentuh ini sekaligus menanyakan hal yang selama ini menjadi uneg-uneg berkepanjangan nan bergentayangan.

Masalah besar apa yang ada pada bidang MRI/CT yang saat ini masih perlu dicari solusinya?

However, unfortunately, he didn’t give me the answer. Instead, he talked about something totally unrelated. I really have no idea whether he doesn’t have/know the answer, or there is no answer at all. Kesel nggak? Keselnya saya ini campuran antara “masa situ berkecimpung di bidang fisika medis tapi nggak bisa jawab pertanyaan krusial gini?” *ups maafkan jadi esmosi* 😛 dan kesel karena jangan-jangan bener bidang ini udah stabil banget. Kemudian saya berpikir, nggak bisa. Menjadi seorang PhD, in my opinion, haruslah memiliki the big picture tentang apa masalah yang ingin ia coba cari solusinya, kemudian memetakan langkah kecil apa saja yang akan ditempuh. Menjadi seorang PhD berarti mengerjakan beberapa tesis/penelitian mahasiswa master sekaligus, literally. Menjadi seorang PhD adalah sebuah pekerjaan yang amat sangat berat dan tanggung jawabnya besar. Atau setidaknya, itulah yang saya lihat pada teman dan kolega saya yang menempuh PhD ketika saya master dulu.

Ketiga, since my first impression, pardon me, saya udah nggak sreg. Cih, lagi-lagi subjektif kamu, Sep! 😆 saya melihat dan mendengar sendiri bagaimana sebagian besar mahasiswa yang mengerjakan topik skripsi ini benar-benar not qualified enough to be a Bachelor in Physics. Gila aja, masa calon sarjana fisika nggak bisa ngebedain tegangan sama arus listrik, dan bilang satuan intensitas adalah meter per Watt?! Hellaaww… Ke perpus aja sana, belajar. Malu cuyyy~ Saya aja yang denger rasanya kudu nggali liang kubur -_- tapi saya sadar mahasiswa bimbingan tentu tak lepas dari pengaruh dosennya ya kan. Cuma parahnya, dosen pembimbingnya sadar lho bagaimana kondisi mahasiswa bimbingannya. Ya buat apa sadar tok kalo nggak dibantu Pak/Buk? *kudu salto*


Oke, itulah 3 alasan yang bikin saya nggak tertarik blas untuk PhD di fisika medis. Sekarang masuk ke kepentingan KEDUA yang bikin saya galau. Seperti udah diduga, dengan latar belakang pendidikan saya pada bidang material energi terbarukan, persis di sanalah ketertarikan saya berada. Bidang ini merupakan bidang baru yang strategis, masih banyaakkk sekali masalah yang perlu dipecahkan. Teknologinya aja belum establish. Teori-teorinya juga bertumbuh setiap harinya. Dengan kata lain, seru bangettt T.T

Saya tau masalah saya di mana. Kampus ini membutuhkan tenaga dosen yang seperti apa, mahasiswa butuh dosen pembimbing yang seperti apa, saya paham. Saya hanya merasa tidak berjodoh. Saya merasa saya belum bisa memenuhi harapan dan kebutuhan orang-orang di lingkungan terdekat saya untuk ini. Mungkin orang lain yang harus mengisi posisi tersebut.

Iya saya egois.

Saya ingin memenuhi maunya saya sendiri dengan memilih renewable energy karena saya cintanya di situ. Egois kan? Tapi toh saya masih bisa membela diri. Renewable energy mungkin bukan yang dibutuhkan oleh kampus saya, tapi jelas energi terbarukan termasuk isu strategis negara kita dan juga merupakan concern dunia. Saya tetap bisa berpartisipasi. Hanya saja, memang, saya mungkin seperti anak durhaka yang sibuk menyelamatkan dunia namun mengabaikan keluarga sendiri. Eh, masa iya gitu analoginya? 😆

KETIGA. Saya baru sadar belakangan ini bahwa saya bukan orang praktis. Hal ini saya ketahui ketika berdiskusi dengan sesama rekan dosen dan teman saya yang sedang menempuh S-2. Ketika menyangkut hal-hal aplikatif, manfaat praktis, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat, mereka begitu bersemangat. Ide-ide mereka mengalir. Apa saya tidak suka? Tidak, saya sebenarnya sangat suka dan menikmati berdiskusi dengan mereka. Tapi ketika saya pikirkan lebih lama dan lebih jauh lagi, saya tidak (atau belum) memiliki semangat membara yang sama. Saya kemudian menyadari bahwa saya jauh lebih suka berkecimpung pada masalah-masalah fundamental, pertanyaan-pertanyaan mengapa, dibanding menjawab bagaimana dan membuat sesuatu yang siap-pakai.

Ketertarikan saya ini juga terjustifikasi ketika saya mendapat kesempatan melakukan penelitian sendiri, dan saya mengajukan proposal tentang pembuatan sensor yang praktis. Saya merasa…bukan, bukan ini. Tidak tahu kenapa, saya hanya merasa bukan saja. Saya jauh lebih bersemangat menjawab case-case fundamental seperti yang saya lakukan saat master dulu. Eksperimental, hanya saja berusaha menguak fundamentalnya. Kesadaran ini menjadi penting karena membantu saya mengetahui di mana sebenarnya ketertarikan dan potensi saya. Karenanya, wajar saja saya merasa lebih bersemangat dan lebih tertarik untuk terjun di bidang energi terbarukan karena masih banyak sekali permasalahan yang belum diketahui mengapa dan bagaimana solusinya; dibanding sekedar memahami teori yang sudah ada dan mengoptimalkan teknologi yang sudah establish. Pardon me. *silakan dikeplak*

KEEMPAT. Saya juga baru menyadari belakangan bahwa ternyata selama ini saya belajar karena saya suka belajar. Bukan demi pekerjaan, bukan demi gelar, bukan demi gengsi, bukan pula demi finansial yang lebih baik. Saya kuliah lagi, saya sekolah tinggi, semata karena saya senang. Dan saya baru menyadarinya belakangan, ketika salah seorang dosen di sini mengiming-imingi saya jika saya PhD di fisika medis, maka masa depan saya insyaAllah akan terjamin, dalam artian: saya akan dipercaya untuk mengampu banyak mata kuliah, banyak mahasiswa bimbingan karena Indonesia sedang butuh banyak fisikawan medis, dan bisa nyambi sebagai konsultan di rumah sakit-rumah sakit. Yap, in other words, I will shine in no time, hahaha 😆

Sebaliknya, saya sadar betul, jika saya memang nekat PhD di bidang energi, karir saya mungkin tidak akan cemerlang, atau mungkin lebih buruk, tidak akan bertahan lama karena tidak ada mata kuliah yang harus saya ampu dan tidak ada penelitian yang bisa saya lakukan (karena tidak ada bidang minat energi di kampus saya).

Lantas apakah saya jadinya tertarik karena segala sebab duniawi itu? Tidak sama sekali. Hahaha. Halah, Sep, emang alasanmu nggak duniawi? 😆 Saya yang keras kepala tetap saja bersikukuh ingin menjalani apa yang saya senangi dan bukan karena kekhawatiran akan masa depan. Suami saya pernah berkata,

“Ada yang lebih penting dari mengejar passion, yaitu menjadi bermanfaat.”

Maka itulah yang saya jadikan pegangan. Seandainya memang saya tetap pada jalan yang saya putuskan sekarang, mungkin memang saya belum bisa bermanfaat bagi lingkungan terdekat, tapi semoga saya bisa bermanfaat bagi yang lainnya.

Tapi, saya masih galau lho 😆 😆 😆

***

Saya mohon maaf sekali jika ada yang tersinggung akibat curhatan ini. Jika ada yang berkecimpung di dunia fisika medis dan ingin meluruskan banyak hal, dipersilakan dengan sangat. Mungkin bisa membantu saya menemukan jalan keluar juga, menyadarkan saya betapa menarikanya fisika medis itu, maybe. Hehehe. Anyway, ini hanyalah curhatan yang sifatnya amat sangat dan terlalu subjektif, tidak bisa dijadikan patokan secara umum tentang bagaimana fisika medis itu. Pada akhirnya, semua cabang ilmu sangat bermanfaat dan worthed untuk dipelajari. Hanya masalah selera pribadi saja yang membedakannya, seperti yang terjadi pada saya. Again, CMIIW~

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Galau PhD

  1. “kepentingan kedua” setuju bgt setuju se setuju setujunya. sebelumnya aku pernah daftar di poltek yg ada jurusan TET (teknik energi terbarukan) dan berharap bisa diterima (sangat berharap) karena aku ingin bekerja setidaknya pd sesuatu yg aku senangi, meski bidang ini termasuk bidang baru (buatku ) dan nggak sama dengan bcground s1 dulu tapi aku senang (senang lo ya bukan bisa). karena setidaknya dibidang ini saya minat meski tidak bakat. intinya bidang ini menarik lo :mrgreen:

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s