Justifikasi

Agaknya kita memang terprogram sebagai pembangkang. Tak cukup melanggar larangan makan buah khuldi, kita seringkali mengambil lebih dari sebiji. Kita ini pemberontak, tidak bisa diam.

Mendiamkan tangan saja sudah sulit, apalagi mendiamkan lidah. Kita masih suka menimpali gosip karena lama-lama rasanya nggak seru juga ya kalau cuma jadi pendengar; masih suka menyebarkan dugaan-dugaan tak berdasar, yang probabilitas kebenarannya kurang dari nol-koma-lima; juga masih suka ngguyoni (membercandai) orang lain, yang sudah nggak penting, berpotensi menyakiti hati, lagi.

Itu baru tangan dan lidah. Konon lagi mendiamkan yang namanya pikiran. Ampun-ampun sulitnya. Ngelihat perempuan pake hot pants, wanita berbadan dua yang tak bersuami, sepasang anak manusia berjalan berangkulan, atau lelaki bergaya kewanitaan, pikiran langsung bising. Mendadak kepala kita berubah menjadi jalan raya sore hari pukul lima.

Kita ini, mode default-nya sudah berisik sih. Berisik yang terdengar, maupun yang nggak. Kita lupa bagaimana rasanya pikiran yang lengang. Lupa bagaimana caranya adil sejak dalam pikiran. Kalau sudah begitu, mungkin kita perlu jalan-jalan. Menjauhi kerumunan, jalan ke pantai atau mendaki gunung, sampai tak ada lagi yang bisa dikomentari selain alam dan diri sendiri.

Dan ya, kita benar-benar butuh jeda. Sebab untuk membuat pikiran menyunyi, memang bukan perkara mudah.

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s