Alex through the Looking-Glass

#BookReview

Beberapa minggu sebelum Big Bad Wolf (BBW) Books digelar di Surabaya tahun ini, saya menghabiskan jatah belanja buku untuk ngeborong paket buku Richard Dawkins dan Yusi Avianto Pareanom yang udah dari lama banget saya pengen. Kebetulan salah satu toko buku online yang saya follow ngasih diskon paket yang lumayan. Waktu ngeborong, saya sama sekali nggak ingat kalo bulan-bulan itu adalah jadwalnya BBW Books Surabaya yang diadakan tiap tahun. Alhasil, ketika main ke Jatim Expo, sudah dari rumah saya bertekad buat sekedar lihat-lihat aja karena bokek.

REFERENCE adalah bagian favorit saya di BBW. Dan yassalam, seperti udah diduga, godaannya luar biasa. Ada Forces of Nature-nya Prof. Cox, ada ensiklopedi alam semesta yang judulnya lupa apa, banyak serial DK books, edisi asli bukunya Dawkins yang baru aja saya beli terjemahnya, dan banyak lagi. Setelah cukup lama muas-muasin baca di tempat, pilihan saya jatuh pada satu buku seharga seratus ribu rupiah berjudul ALEX THROUGH THE LOOKING-GLASS.

(Berikut review yang telah terlebih dulu saya posting di akun instagram saya)

Every number tells a story.

Sering dengar kan, dengan perkataan bahwa sebagian kecil orang terkaya menguasai sebagian besar kekayaan dunia? Pernah tau juga nggak, kalo dalam hampir setiap buku yang ditulis, sebagian kecil kata menyusun sebagian besar tulisan? Tapi siapa sangka kalo keduanya dihubungkan oleh konstanta yang sama?

Pernah dengar synaesthesia, yang salah satu kondisinya adalah kemampuan melihat angka sebagai warna, atau mendengar nada juga sebagai warna? Pada pengidap synaesthesia, bagian otak yang berfungsi untuk memproses indera saling terhubung, sehingga alih-alih hanya memproses angka sebagai symbol kuantitas, mereka juga melihat angka sebagai warna. Begitu pula dengan nada. Pada pengidap synaesthesia lainnya, mendengar nada tertentu membuat mereka melihatnya juga sebagai warna.

Seperti halnya pada synaesthesia, pada manusia normal, angka-angka ternyata membangkitkan bermacam persepsi; seperti angka 7 yang diasosiasikan sebagai angka keberuntungan, kekuatan, kedigdayaan; atau seperti angka 4 dan 13 yang dianggap sial. Pada banyak hotel dan gedung, tidak ada lantai 4 atau lantai 13; pada beberapa maskapai penerbangan, tidak ada kursi bernomor 4 atau 13. Persepsi yang berawal dari takhayul (superstition) ini ternyata begitu dipercaya dan diyakini.

Ketika berbelanja pakaian, label harga 199.900 memberi kesan lebih menarik dan murah dibanding 200.000; padahal keduanya hanya berselisih seratus rupiah saja. Mengapa? Karena otak kita mempersepsikan 199.900 sebagai kurang dari 200.000, meskipun selisihnya sama sekali tidak berarti, dijadikan uang parkir aja nggak cukup. Pada restoran mewah yang target pasarnya adalah orang-orang berkantong tebal, seporsi steak haruslah dihargai dengan bilangan bulat (100k, 175k, 250k, dsb) bukannya 169.900 atau 199k karena dapat memberi kesan murahan dan menurunkan elegansi restoran tersebut.

S__13819907

Beberapa paparan di atas merupakan contoh betapa angka ternyata membangkitkan persepsi yang begitu kuat pada banyak lini kehidupan kita. Sebagai tambahan, bilangan ganjil, misalnya, dipersepsikan maskulin sedangkan bilangan genap dianggap feminin. Buku ini menjabarkan berbagai pola matematis dan kaitannya dengan kehidupan, mencakup sejarah, takhayul, psikologis manusia, bahasa dan sastra, hingga aplikasinya pada perkembangan sains dan teknologi. Bahwa ternyata ada pola matematis di mana-mana!

Kita hidup di dunia di mana matematika adalah bahasa universalnya. Sebagian kita mungkin mempelajari kalkulus dan menemui natural logarithmic di bangku kuliah saja, padahal sebenarnya, semua itu lebih dekat dari yang selama ini kita duga. Kita hanya…belum mencari tahu.

Hingga klimaksnya adalah, bahwa ternyata telinga kita merupakan pengejawantahan paling dekat, dari transformasi Fourier yang mengkodekan gelombang suara dalam domain waktu menjadi sebuah fungsi gelombang dalam domain frekuensi melalui folikel-folikel koklea; serupa dengan bagaimana MRI mengakuisisi data sinyal listrik dalam domain fase dan frekuensi kemudian mentransformasikannya menjadi domain spasial berbentuk citra. Dan, proses yang begitu rumit dan kompleks ini telah ada puluhan bahkan ratusan ribu tahun lalu sejak “telinga” pertama ada.

Lantas, alasan apa lagi yang membuatmu menafikan bahwa ciptaan Tuhan itu sungguhlah amat sangat keren sekali? 🙂

Iklan

Satu pemikiran pada “Alex through the Looking-Glass

  1. Ping balik: Fisika Telinga dan Pendengaran – septiadiah's weblog

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s