salad days

Keingintahuan (Memang Bukan Dosa, Tetapi…)

Kemarin seseorang yang tidak saya kenal (namun saya ingat pernah saya dengar namanya) mengirimkan permintaan pertemanan/follow akun instagram saya. Seingat saya, dari suami sayalah saya mendengar nama itu. Karenanya, sepulang suami saya bekerja, saya menanyakannya pada siMas.

Saya: Mas, kayaknya dulu mas pernah cerita ada temen mas yang namanya Taj ya?!

Mas: Siapa?

Saya: Taj.

Mas: Taj itu nama anaknya Karina. Kenapa memangnya?

Saya: Oalah…

Mas: Kenapa?

Saya: Gapapa, dia nge-add instagram adek.

Karina adalah salah satu mantan pacar suami saya dulu. Sepele ya, kejadian gini doang. Tapi yang membuat saya menuliskan ini adalah ketidakpahaman saya akan apa yang dilakukan oleh Karina, yang notabene sudah menikah, dan sudah memiliki anak laki-laki bernama Taj.

Jadi ceritanya beberapa hari setelah menikah, siMas bertanya pada saya, apakah saya mengalami godaan menjelang menikah, yang katanya pasti dialami semua pasangan dan biasanya godaan itu nggak main-main bentuknya. Saya jawab, nggak. Saya nggak merasa dapat godaan apa-apa tuh. Tapi suami saya sebaliknya. Ia bercerita, beberapa bulan menjelang pernikahan, banyak sekali perempuan yang tiba-tiba saja menghubunginya dan, ehm – menggodanya. Salah satunya adalah Karina. Katanya, hampir setiap pagi ia mengirimi suami saya foto-foto selfienya. Tanpa kerudung, pula. Atau kadang bersama anaknya. Dan terkadang masih mengenakan kerudung. Foto-foto yang tak pantas itu diiringi chat yang lebih memalukan lagi: katanya ia belum bisa melupakan suami saya, dan ia tidak rela suami saya akan menikah (dengan saya), bukan dengannya.

Saya tidak marah atau cemburu, serius. Saat itu posisi kami sudah menikah, baru 2 hari malah. Diobrolkan waktu duduk-duduk selonjoran setelah sepagian naik sepeda keliling desa. Mana mungkin saya kepikiran untuk marah dan cemburu?! Saya hanya…tak habis pikir. Benar-benar tak habis pikir. Apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang bagi saya amat sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita yang telah bersuami, sudah punya anak pula. Seandainya hal itu dilakukan oleh perempuan yang belum menikah, entahlah. Meski tetap tak patut tapi saya bisa maklumi. Lha ini, dia sudah menikah duluan tapi tega-teganya bertingkah kekanakan dan memalukan keluarga kecilnya sendiri, tidak menghormati suami dan tidak menjaga kehormatannya sendiri. Apa ya tidak malu dengan kerudung panjangnya itu…

Saya sebenarnya setengah menyalahkan suami saya juga. Seandainya suami saya menceritakan ini sebelum kami menikah, mungkin saya bakal galau. Pada sesuatu yang selalu saya tolak, perempuan itu memberikannya secara cuma-cuma tanpa diminta. Gimana nggak bikin galau kan ya.

Saya: Harusnya Mas ngingetin. Bilang, nggak baik kayak gitu itu. Buka-buka aurat ke yang bukan mahramnya. Nggak pantes juga chat-chat-nya.

Mas: Udah, Dek. Tapi dianya ya tetep aja.

Saya: Ya kalo gitu nggak usah digubris lagi. Nggak usah terlalu baik lah mas. Dia juga berani kayak gitu kan karena mas kasih ruang…

Mas: Iya akhir-akhirnya udah nggak mas respon lagi kok.

Saya: Harusnya dari awal…

Dia mungkin me-request to follow instagram saya karena ingin tahu, seperti apa sih istri dari mantannya? Tapi duh Mbak, instagram saya lho nggak ada apa-apanya. Isinya kebanyakan jepretan amatir lanskap-lanskap pemandangan, atau bunga-bunga, atau buku-buku, atau sisa dari jalan-jalan setahunan yang lalu. Ndak ada lusinan selfie karena saya sadar hutan pinus lebih menarik ketimbang hidung saya yang pesek, dan matahari terbenam lebih meneduhkan ketimbang senyum lebar saya dengan gigi besar-besar. Saya ndak narsis, Mbak. Malah cenderung rendah diri yang sedang diterapi oleh suami saya juga biar bisa lebih percaya diri. Hidup saya juga biasa aja, Mbak. Lha saya memang orang biasa, yang kadang diliputi nasib baik saja. Sudah ndak cantik, ndak alim, otak encer juga jarang-jarang, pinter masak atau njahit enggak, jadi apa kan ya yang mau dikepoin? *ini ngomong sama siapa sih?!* 😆

sumber gambar: di sini

Keingintahuan memang bukan dosa. Hanya saja, buat apa… Saya bukannya ndak pernah kepo. Saya pernah kepo. Iya, kayak nggak ada kerjaan lain aja kan ya. Sewaktu suami saya (dulu masih calon) meminta izin datang ke acara keluarga mantan pacarnya yang lain, saya sempat ingin kepo. Kenapa sih harus ngundang calon suami saya? Kenapa harus calon suami saya? Tapi untunglah akunnya digembok. Akun digembok ini anugerah lho buat saya. Saya dihalangi biar nggak baper. Setelah itu toh saya lupa. Saya ini pelupa yang sangat handal, untungnya 😆

Ya kan, buat apa… Daripada setelah ngelihat-lihat kehidupannya, kita malah jadinya baper. Jadinya tidak mensyukuri apa yang sudah dan sedang kita jalani. Jadinya berharap-harap yang lain yang belum tentu lebih baik dari apa yang sudah dianugerahkan-Nya pada kita saat ini. Lagipula apa yang saya tunjukkan di media sosial adalah apa yang ingin saya tunjukkan kepada orang lain. Ada, jelas ada sisi kehidupan yang tidak ingin saya tunjukkan pada orang lain, karenanya tidak bisa dilihat dari media sosial saya. Misalnya tentang kenangan yang saya ingin lupakan, luka-luka yang saya alami, perjuangan yang harus saya hadapi, aib-aib yang berusaha saya tutupi. Kita semua pasti punya. Semua manusia memilikinya. Tapi apakah itu yang kita bagikan di media sosial? Enggak. Karenanya apa yang kita kenal dari dunia maya hanyalah sebagian kecil saja dari seseorang. Tidak fair jika kita mendasarkan asumsi tentang seseorang hanya dari postingan media sosialnya saja.

Pengalaman ini tentu saja menjadi pembelajaran buat saya dan suami ke depannya. Saya sama sekali tidak marah apalagi mendendam, tapi semoga tidak terulangi untuk yang kali kedua maupun seterusnya. Terakhir, semoga yang khilaf menyadari kekhilafannya, dan yang sudah berada di jalan yang benar tetap dikukuhkan di jalan-Nya.

Aamiinn 🙂

*bukan nama sebenarnya

Iklan

One thought on “Keingintahuan (Memang Bukan Dosa, Tetapi…)

  1. Mba cantiik,,, udah nikah ya? Alhamdulillah…… Barakallah ya…, itu stalking emang jangan lagi,,, terkadang mengorek masa lalu hanya akan menghasilkan retak yang barangkali sulit sembuhnya… Semangat ya untuk hidup yang baru, Barakallah…

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s