senandika

Menjadi Seorang INFJ (?)

Heihaoo, saya akan mulai nulis lagi πŸ˜€

Jadi selama bulan-bulan saya menelantarkan blog ini, banyak sekali hal yang terjadi. Literally, banyak banget. Di akhir April lalu saya menikah. Setelahnya, disibukkan dengan kegiatan ini-itu yang saya tinggalin selama saya cuti menikah. Mungkin soal menikah yang tidak simpel ini akan saya ceritain kapan-kapan aja kali ya kalo sempet, hehehe *sok sibuk*

Untuk postingan kali ini saya cuman pengen sekedar cuap-cuap aja. Soal kepribadian.

Mungkin sebagian yang pernah baca bagian about saya bakal tau, saya ini tipe ISTJ dari keenam belas tipe kepribadian MBTI. Yap, ISTJ. Kepribadian yang konon katanya merupakan salah satu jenis kepribadian paling melimpah di muka bumi. ISTJ sendiri merupakan singkatan dari introverted – observant/sensing – thinking – judging. Oke, udah bisa nebak dong saya orangnya kayak apa? πŸ˜€ Yap. Saya pendiam dan tertutup, suka mengamati dan mengambil keputusan dari pengalaman bukan intuisi, logis dan cenderung memuja akal sehat, dan terorganisir plus patuh banget sama aturan. Suami saya bahkan sering terang-terangan mengeluh betapa tertutupnya saya dan kenapa saya begitu perfeksionis.

Tiap jenis kepribadian punya kelebihan dan kekurangan, tentu saja. Saya tahu apa kekurangan saya, dan saya memahami dengan baik apa kelebihan saya. Saya, misalnya, dapat dipercaya dan sangat bertanggung jawab. Saya tidak akan berhenti di depan garis putih saat lampu merah, begitu pun saya tidak akan nyuri start lampu ijo meski hanya sedetik. Tapi saya juga keras kepala. Saya dingin, saya kaku, dan saya serba canggung. Saya tidak bisa melucu bahkan seringkali saya tidak mengerti mana bagian lucu yang membuat orang-orang lain tertawa. Saya sensitif. Baca buku aja bisa nangis apalagi nonton film; orang lain mungkin cuma terharu tapi saya pasti udah nangis-nangis sampe ingusan.

Nah jadi ceritanya baru aja tadi siang saya iseng-iseng retake alias ngerjain tes kepribadian itu lagi di sini. Iseng aja, beneran. Tapi ternyata hasilnya saya bukan lagi bertipe ISTJ, melainkan apa? INFJ. Saya kaget? Pastilah, banget.

Jadi yang berubah adalah bagian observant menjadi intuitive, dan thinking menjadi feeling. Dengan persentase yang nggak begitu signifikan sebenarnya. 53% intuitive 47% observant dan 57% feeling 43% thinking. Saya masih bingung. Dan mulailah saya menganalisa, haha.

Sepertinya perubahan ini terjadi karena saya menikah (dan bekerja juga sepertinya). Bukan, maksud saya bukan karena saya menikah lantas sebulan kemudian kepribadian saya berubah, nggak. Jujur pernikahan yang saya jalani ini adalah proses berpikir yang panjang untuk saya. Saya memutuskan untuk menikahi lelaki yang sekarang menjadi suami saya sekitar dua tahun lalu. Bagaimana saya harus bernego dengan diri saya sendiri tentang banyak hal, yang kalo diceritain, mungkin ngabisin satu bab sendiri, haha. Jadi saya langsung ke poinnya aja ya.

Logic is usually more important than heart when it comes to making important decisions.

Ini saya banget. Saya nggak pake perasaan kalo memutuskan sesuatu, dulu. Asalkan didukung dengan alasan yang logis, tidak menyalahi aturan, berdampak baik bagi banyak pihak, dsb maka saya akan ambil kesempatan itu. Waktu saya milih fisika bukannya kedokteran, apa saya mempertimbangkan perasaan orang-orang di sekitar saya? Nggak. Waktu saya (sempet) ngilang dari ormawa, apa saya peduliin teman-teman saya? Nggak. Waktu saya memutuskan kuliah S2 ke luar negeri, apa saya mikirin kekasih saya? Nggak. Iya, saya seegois itu. Tapi nggak untuk beberapa waktu belakangan. Saya mulai mengedepankan (apa kata) hati, nggak cuma otak. Menikah, artinya saya nggak hidup sendiri lagi. Hidup saya didedikasikan untuk semakin banyak orang, nggak cuma keluarga saya sendiri aja. Saya mulai menghargai pendapat dan perasaan orang-orang yang berseberangan dengan saya. Saya menjadi lebih bisa mentolerir sesuatu. Bahkan, untuk saat ini, jelas ridho suami saya berada di atas segalanya. Sehingga ketika dihadapkan pada suatu masalah atau pilihan, otak tak lagi menjadi satu-satunya yang saya ajak bicara; hati juga.

You think that everyone’s views should be respected regardless of whether they are supported by facts or not.

Dulu saya masa bodo sama kata orang. Dulu saya gak mikirin kira-kira gimana perasaan orang kalo saya ngomong begini atau begitu. Tapi sekarang nggak lagi. Emang nggak selalu sih, hehe. Saya mulai mengira-ngira. Kalo saya rasa ketika saya mengungkapkan sesuatu (meskipun benar) tapi bakal nyakitin orang, saya bakal tahan dulu kalo saya bisa, dan mengungkapkannya kali lain di saat yang mungkin lebih tepat. Saya juga udah males meladeni debat sekarang, apalagi di situasi masyarakat kita yang kayak sekarang ini. Api di mana-mana rasanya, nggak usah lah nambahin minyak tanah. Sekarang saya cinta damai aja. Bukan berarti saya ngebiarin yang salah juga sih. Kalo ada penganut bumi datar atau antivaksin, misalnya, jika mereka orang yang dekat dengan saya tentu aja tetap akan saya kasih pengertian pelan-pelan. Diedukasi, bismillah begitu. Kalo mereka bukan orang-orang dekat saya, ya saya usahakan jangan sampe paham sesat macam itu mengontaminasi keluarga dan sahabat-sahabat saya. Udah gitu aja. Dari yang dekat-dekat dulu.

Balik lagi ke soal kepribadian. Saya rasa ini perubahan yang baik. Saya mungkin telah berada di jalur yang benar dalam menyeimbangkan observant – intuitive dan thinking – feeling. Bahwa terkadang kita perlu berpikir logis tapi tetap dengan perlakuan yang baik bagi sekitar. Lantas apakah sekarang saya telah berubah menjadi seorang INFJ? Saya rasa nggak juga, karena ketika membaca deskripsi kepribadian tersebut, ada banyak hal yang saya rasa kurang cocok di saya πŸ˜€ hehehe. Saya tetaplah ISTJ, yang mungkin sedang beradaptasi agar lebih mendengarkan hati sendiri dan lebih peduli terhadap orang lain.

Better.

πŸ™‚

 

*sumber gambar: 16personalities.com, personality-central.com

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s