senandika

Because you only have to forgive once

Semalam saya menonton salah satu film bergenre drama, judulnya The Light between Oceans. Film berdurasi dua jam lebih itu bercerita tentang sepasang suami-istri yang dua kali gagal dalam kehamilan (keguguran) kemudian mengambil dan merawat seorang bayi yang terdampar di pantai. Filmnya bagus, agak membosankan sih, soalnya memang saya kurang begitu menggemari genre drama. Di sini, saya bukan ingin membagi sinopsis film tersebut, tapi lebih kepada pesan yang film itu sampaikan.

“You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” (The Light between Oceans)

Kemudian saya berpikir, ah ya, ini benar sekali. Saya pernah sangat marah kepada seseorang. Saya pernah amat membenci seseorang. Tapi keduanya – marah dan membenci – melelahkan. Setelah beberapa waktu, saya memutuskan untuk melupakannya saja – bahkan jika saya tidak bisa memaafkan, saya akan melupakannya saja. Karena kita tahu setiap orang tidak sama. Bagi saya, dengan melupakan, saya akan berangsung-angsur memaafkan. Bagi orang lain, belum tentu begitu. Ada yang bilang melupakan bukan berarti memaafkan, dan memaafkan bukan berarti melupakan. Menurut saya, yang mana pun itu, jika melupakan tidak dibarengi dengan memaafkan, maka artinya kita belum ikhlas. Sedangkan yang perlu kita tuju adalah keikhlasan itu sendiri. Dengan memaafkan dan melupakan, artinya kita telah mengikhlaskan.

Ikhlas itulah yang disebut move on. Kalo masih ngepoin mantannya kekasih atau kekasihnya mantan, masih suka dendam sama mantan, masih nggak mau ketemu, bahkan nggak mau datang ke nikahan mantan, ya belum bisa dibilang move on, soalnya hati kita belum lapang. Move on juga tidak hanya perkara cinta terhadap lawan jenis, namun juga perkara hubungan dengan orang lain.

“Tak akan habis jika yang kaucemburui adalah masa lalunya,” adalah kalimat yang berulang kali saya rapalkan ketika saya merasa cemburu namun masih memiliki cukup akal sehat untuk menangkalnya :mrgreen:  bener kan? Masa lalu ya masa lalu, sudah nggak bisa diapa-apakan lagi.

Benar; membenci, mendendam, cemburu, marah, dan segala penyakit hati lainnya itu melelahkan. Penyakit-penyakit hati itu tidak hanya menguras pikiran kita, namun juga melemahkan tubuh kita. Penyakit hati mampu mempengaruhi kuantitas fisik, percaya atau tidak. Secara tidak kita sadari, jika kita memelihara penyakit hati – entah itu iri terhadap keberhasilan orang lain, belum memaafkan mantan kekasih, atau dendam dengan orang lain yang berlaku sangat buruk kepada kita – kita telah memelihara bibit-bibit stress dalam diri kita. Stress itu tidak hanya terkait dengan beban kerja fisik saja lho.

Melalui tulisan ini juga saya mengingatkan kepada diri sendiri untuk mengikhlaskan; untuk melepaskan. Melepaskan beban-beban di hati, melepaskan prasangka-prasangka buruk, dan segala yang tidak membawa kebaikan pada diri kita. Bagaimana caranya harus kita sendiri yang menemukan: entah itu dengan melupakan dahulu, atau memaafkan dahulu, yang mana pun tidak masalah. Apa artinya saya sudah berhasil terbebas dari semua prasangka buruk dan kemarahan? Ya, nggak juga. Saya pun masih berusaha, dan masih perlu terus-menerus diingatkan 🙂

Terakhir, saya percaya:

Langit paling luas, ialah hati tanpa kebencian.

for-exploretaiwan_9307
sumber: koleksi pribadi
Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s