salad days · senandika

Langit Selepas Hujan

#1

Saya ingin sekali memulai riset tentang biophotovoltaic, namun tidak ada lab ataupun KBK energi di jurusan tempat saya bernaung. Tidak ada dosen senior yang berkonsentrasi di bidang energi, sehingga topik ini adalah topik yang benar-benar baru. Babat alas, istilahnya. Ada beberapa kemungkinan tentang respon dosen-dosen lainnya jika memang saya memiliki keberanian untuk memulai riset ini: bisa jadi mereka mendukung dan senang terhadap sesuatu yang baru, atau sebaliknya, menyarankan saya untuk cari aman saja dengan mengikuti jalan yang telah dibuka oleh dosen-dosen terdahulu; dan saya tidak bisa menduga yang mana.

Saya takut.

Tapi juga bersemangat.

Tapi, takut.

Hahaha. Galau, lagi…

#2

Dua hari yang lalu saya bersama tiga dosen senior lainnya pergi mengunjungi rekan dosen di Universitas Brawijaya Malang. Tidak ada yang istimewa selain saya banyak belajar lewat perjalanan dan pertemuan itu. Perjalanan pulang di sore hari dihadang hujan sangat deras hingga berakibat banjir yang cukup serius sepanjang jalan mulai Malang kota sampai Pasuruan. Memasuki wilayah Sidoarjo, hujan berangsur reda dan pemandangan saat itu benar-benar indah. Saat itu senja hari selepas hujan. Langit senja yang biasanya berwarna jingga kemerahan, justru berwarna abu gelap kebiruan. Sinar matahari sore menerobos lewat celah awan, meninggalkan kesan yang sulit saya lupakan. Terlebih, banyak sekali hal yang berlarian dalam kepala saya saat itu. Ini seperti ketika kamu lagi gegalauan, tiba-tiba datang sesuatu yang begitu berkesan dan rasanya “nyess” banget. Makjleb.

#1

Saya ingin memulai riset tentang solar cell. #BalikLagi hahaha 😆 sudah dari dulu seharusnya kita mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak dan sumber energi tak-terbarukan. Jika dibandingkan, riset negara-negara maju tentang energi terbarukan sudah jauhhh sekali di depan, namun penggunaannya masih saja terbatas. Belum merakyat, istilahnya. Nah, kalo di Indonesia, risetnya saja belum, apalagi penggunaan. Kita tertinggal jauhhh. Sedih…

Padahal ya padahal, sumber energi terbarukan melimpah ruah di negara kita, mulai dari energi matahari, angin, gelombang laut, panas bumi, dll. Cuma ya itu, teknologinya belum ada. Mau sebagai pemakai aja (dengan impor misalnya), biayanya luar biasa. Jadinya ya mau gimana lagi, pake yang mudah-murah-meriah aja: BBM dan listrik PLN. Saya juga nggak muluk-muluk banget bermimpi ingin menyediakan sumber energi massal, tapi setidaknya sudah saatnya kita mulai menyeriusi soal riset di bidang ini. Untuk ke depannya, jalan masih panjang 🙂

Yah, doakan semoga saya dapat menghimpun keberanian untuk mengutarakan ide ini, dan semoga ide ini disambut baik. Itu aja sih kegalauan saya akhir-akhir ini. Hehehe…

#2

Saya menyukai seseorang sebesar rasa suka saya terhadap langit selepas hujan. Lebih besar, malah. Tapi perasaan bukanlah tujuan, bukan pula jalan, melainkan langit; atap yang menaungi. Ia yang menjadikan perjalananmu lebih mudah, atau lebih berat.

Berulang kali saya berkata pada diri sendiri:

Terbanglah. Kemudian beritahu aku: langitkah yang lebih luas, atau matamu?

*ini coba ngepost pake aplikasi WP di ponsel, jadi belum ada gambarnya, hehe. Perlu obok-obok koleksi jepretan di laptop dulu*

Iklan

4 thoughts on “Langit Selepas Hujan

  1. Masalah yang sepertinya dialami banyak orang, hidup ditempat yang tidak sesuai. Mengikuti keinginan atau menyerah pada keadaan. Ada rasa pengen balik, tapi sepertinya banyak ilmu yang bakal mati. Terus gimana dong? Hehehe

    1. Diusahakan dulu lah supaya kita bisa menjalankan keinginan sebelum bilang pada akhirnya kita “terjebak oleh keadaan” 😀 kalo pengen balik tapi nggak pengen ilmunya mati, dicoba dulu juga. Kalo bukan kita yang muda-muda dan punya banyak ide segar, terus siapa lagi yang disuruh ngembangkan tempat lama? Setelah berusaha nanti hasilnya gimana, atau kendala yang kita hadapi seperti apa, baru ambil langkah selanjutnya. Ayo babat alas bareng-bareng! Wahaha *golek bolo*

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s