salad days · senandika

At the Riverside

Saya mengenal seseorang. Kenal, tidak sekedar tahu. Kami sempat dekat, meski sekarang tidak lagi – sudah lama tidak lagi (dekat).

Saya merasa kami cocok sekali. Kami sama-sama suka membaca dan begitu mencintai buku-buku. Selera bacaan kami tidak tepat sama, namun justru lebih baik: melengkapi. Saya menyukai buku-buku ilmu pengetahuan populer, sedang dia menyukai buku-buku lintas agama-sosial-budaya.  Seringkali saya baru pertama mendengar sesuatu yang dia bahas, begitu pun dirinya, tapi kami sama-sama penyimak yang baik. Obrolan-obrolan kami begitu berisi: buku, film, isu-isu sosial politik, kadang agama, penelitian masing-masing, dan banyak hal lainnya; kadang juga ringan namun menyenangkan: saling tukar koleksi film dan lagu, toko buku murah, kue kacang merah, hingga sepak-terjang teman-teman sekitar (alias nggosip, haha). Dengan kata lain, bersamanya menyenangkan. Waktu yang saya habiskan bersamanya tidak pernah terasa sia-sia.

Seakan tidak cukup sampai di sana, saya merasa kecocokan kami merambah ke hal-hal lainnya. Kami sama-sama menempuh pendidikan hingga jenjang S2. Kami sama-sama mencintai dunia ilmu pengetahuan, pendidikan, dan penelitian. Pandangan dan respon kami terhadap hidup dan kehidupan pun saya rasa pas sekali. Dia tidak terlalu pendiam dan pasif seperti saya, namun juga bukan center of attention yang bisa membuat saya kurang nyaman. Dia suka mendaki, mengingatkan pada harapan terpendam saya ingin memiliki pasangan seorang yang cinta alam dan gunung – dengan harapan agar saya diajak juga kapan-kapan. Dalam urusan agama, dia seorang yang moderat – tidak lalai, namun juga tidak keras.

Hingga saya sampai pada satu kesimpulan bahwa: ah, pria ini benar-benar memenuhi kriteria saya.

Namun, sebagai perempuan modern keras kepala tapi tetap konservatif (eh, itu gimana ya? Haha), saya pasif dan menerima saja. Saya tidak menunjukkan apa-apa, karena memang saya tidak memiliki perasaan apa-apa selain kekaguman dan harapan – terlebih, saat itu saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang, meskipun saat itu adalah saat-saat paling kritis dalam hubungan saya. Kami hanya teman diskusi, begitu saja, pikir saya.

Entah tersebab apa, meski saya ingat jelas sejak kapan dimulainya, hubungan kami merenggang hingga seperti tidak pernah saling mengenal. Kami seperti membuat keputusan tak terucap untuk saling membangun tembok batas antara kami sendiri. Ah, mungkin dia kecewa terhadap saya, hanya itu satu-satunya penjelasan yang tersedia dalam benak saya tentang alasan sikapnya terhadap saya. Mungkin perkataan saya pernah menyakiti hatinya, mungkin perlakuan saya pernah melukai harga dirinya, atau mungkin ada sesuatu yang lebih dalam dari diri saya yang membuatnya tidak berkenan. Saya tak pernah tau – saya tak pernah bertanya.

Melalui tulisan ini, saya sedang berusaha tidak penasaran lagi. Toh bukannya kami lost contact sama sekali, kami masih sering saling meninggalkan stiker atau komentar di postingan media sosial masing-masing. Kami baik-baik saja. Namun di atas itu semua, saya berusaha melepaskan keingintahuan ini karena ada hidup yang harus saya jalani.

Mengenalnya memberi saya pelajaran, bahwa adalah mungkin bertemu dengan seseorang yang sangat pas dan memenuhi hampir semua kriteria impian kita. Berteman dengannya memberi saya pelajaran lain, bahwa kita tidak harus berjodoh dengan seseorang yang memenuhi semua kriteria itu – terkadang, cinta kita justru jatuh kepada seseorang yang jauh dari itu semua, tapi toh tetap saja kita merasa yakin kebahagiaan kita akan nyaris-sempurna jika-dan-hanya-jika kita hidup bersama seseorang-yang-tidak-sempurna itu. Sebab cinta tidak berdasar kriteria. Sebab cinta bisa dipelajari.

Suatu saat, jika saya telah siap dan lelucon-Nya membawa kami pada momen yang tepat, saya akan berterima kasih padanya, karena dengan atau tanpa disadarinya, ia telah membawa banyak perubahan baik pada diri saya.

img_5149
(koleksi pribadi)

PS: Kebaperan lama ini mengapung kembali ke permukaan setelah saya maraton nonton anime kemarin dan hari ini (padahal draft tulisan ini sudah ada sejak berbulan-bulan lalu lho). Mulai dari Kimi no Na Wa (Your Name.), 5 centimeters per second, sampai Kotonoha no Niwa (The Garden of Words). Semuanya bikin bapeerrr, hahaha 😆 😆 😆 tenang, ini bukan berarti saya belum bisa move on ya, karena dengan atau tanpanya, hidup harus tetap dijalani kan?! xp

2 thoughts on “At the Riverside

  1. Aih.. pantes baper, habis nonton gituan sih haha
    Apa mungkin hanya mbak saja yang merasa sedang membangun tembok sedangkan ia mendirikan tangga agar kalian bisa berada di tempat yang lebih tinggi 🙂

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s