senandika

Kepakaran dan Perasaan Takut Kelihatan Goblok

Pagi ini, saya menghadiri kuliah umum dan diskusi bersama seorang profesor asal Indonesia yang telah lama bekerja dan mengabdikan dirinya di bidang penelitian dan pendidikan di AS. Prof. Yow-Pin Lim, adalah seorang CEO dan Co-Founder Prothera, sebuah institusi penelitian swasta dan juga akademisi di Brown University, USA.

Saya tidak akan berpanjang-panjang membahas isi kuliah umum tersebut, karena saya juga nggak mudeng, hehehe. Hanya ada satu poin yang ingin saya sampaikan. Kepakaran Prof. Lim adalah di bidang sintesis dan ekstraksi salah satu protein dalam plasma darah, yang mana protein tersebut berguna sebagai penawar penyakit inflamasi, juga untuk meningkatkan imun tubuh dan sebagai biomarker dalam diagnosis. Ketika sesi tanya-jawab, beliau selalu menjawab pertanyaan dengan sangat jelas, runtun, dan berusaha agar pendengar/penanya benar-benar mengerti. Menariknya, ketika ada salah satu peserta mengajukan pertanyaan yang agak sedikit melenceng dari kepakaran beliau, beliau dengan santun berkata,

“Mohon maaf, itu bukan bidang saya, saya tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Anda. Saya tidak ingin menyesatkan orang yang hadir di sini.”

Kemudian saya berpikir. Padahal pertanyaan yang diajukan adalah tentang biosensor lho, yang saya yakin pasti beliau sering bersinggungan dengan topik itu (karena beliau pun meneliti protein tertentu sebagai biodefense dan biomarker) namun dengan rendah hati beliau mundur. Tidak ingin menyesatkan.

Kemudian saya teringat betapa banyak “seleb-seleb” media sosial yang seakan tahu segalanya. Saat headline berita media mainstream sedang membahas ini, atau saat orang-orang menjadikan itu sebagai trending topic, mereka ikut berkomentar dan menulis status. Ketika ramai-ramai tagar Rohingya dan SaveAleppo, mereka ikut berkoar. Ketika pemerintah baru mengesahkan UU ITE dan tax amnesty, berbagai spekulasi ikut ditelurkan. Ketika heboh penggusuran warga pemukiman kumuh Jakarta, atau heboh petani Kendeng, atau ketika pejabat tenar kepleset lidahnya, ikut nimbrung juga. Mungkin mereka benar-benar paham, iya. Mungkin mereka berpedoman “sampaikanlah walau satu ayat”, iya. Silakan. Saya bukannya menghakimi atau melarang-larang di sini. Kalau saya sih senang membaca analisis ini dan itu. Serius. Dari sanalah saya banyak tau hal yang sebelumnya saya ndak tau. Dari sana juga seringkali saya jadi kepo terhadap suatu topik tertentu dan akhirnya saya jadi baca dan tanya sana-sini demi memenuhi keingintahuan itu. Saya juga yakin kok, beberapa dari mereka menghabiskan waktu yang tak sedikit untuk riset kecil-kecilan dan menghasilkan status yang panjangnya lima-enam paragraf. Mungkin mereka hanya ingin berpartisipasi mencerdaskan bangsa yang udah tersapu gelombang kebodohan di sana-sini. Wah, kalau ini saya suka sekali.

Apa mereka salah? Enggak. Apa mereka nggak boleh melakukan itu? Boleh kok. Hanya saja, akan jauh, jauh lebih baik jika pekerjaan itu (membahas, menjelaskan, dan mengklarifikasi suatu isu) kita serahkan saja kepada mereka yang memang pakarnya, sehingga kami-kami yang awam ini tidak tambah bingung dengan banyaknya narasi dan opini yang bertebaran. Iya syukur-syukur kalo narasi-narasi itu sejalan, kalo berseberangan? *tjurhat*

Mungkin masyarakat kita ini kurang fasilitas, bisa juga. Jadinya kepakaran mereka hanya tertuang sebatas status media sosial. Coba tuh diberikan effort lebih, dijadikan topik penelitian kecil-kecilan, kemudian dimuat di media lokal ataupun nasional, kan lumayan. Syukur-syukur kalo dijadikan tesis atau disertasi. Apa bedanya? Jelas beda antara usaha yang kita butuhkan untuk nulis status dan nulis kolom opini di koran, apalagi nulis disertasi. Beban pertanggungjawabannya itu yang bikin beda. Editornya banyak, nggak cuma diri sendiri aja.

s__1187882
Kuliah umum pagi ini (22/12/2016). Agak buram ya? Maafkan, padahal saya udah duduk paling depan lho, hehe.

Itu aja sih yang ingin saya sampaikan, sebagai pengingat buat diri saya sendiri juga. Seperti mungkin bisa diduga, postingan ini lahir karena saya sedang penasaran akan sesuatu, tapi terlalu awam tentang itu sehingga tak bisa memutuskan mana kolam mana laut. Begitu ngelihat air, bawaannya pengen njegur aja, entah itu parit entah itu genangan air. Bahaya kan ya berenang di tempat yang salah…

Sebenarnya antara ahli banget di satu bidang, dengan sedikit-sedikit ahli di banyak bidang itu sama kerennya kok. Tapi tentu saja kita harus bisa mengakui di mana letak kekurangan pribadi dan mempersilakan orang lain yang lebih berkompeten untuk mengisinya. Apa kita bakal kelihatan goblok kalau mengaku tidak tahu? Enggak kok. Justru orang-orang yang berbicara di topik yang bukan ranahnya, ngeyel sama orang lain sampe jotos-jotosan, padahal salah pula, itulah sebenar-benarnya goblok yang nyata, tegak, dan diperbesar. Malulah ya kalo kita kelihatan sok tau. Hehe *peace* :mrgreen:

NB:

  • Tulisan ini tidak berlaku bagi mereka yang “read less talk more”. Baru baca satu halaman, nyerocosnya seharian, menebar provokasi di mana-mana. Lelah~
  • Lha kok jadinya panjang, Sep? 😆
talkless
http://www.parajunkee.com/wp-content/uploads/2014/05/talkless.jpg
Iklan

3 thoughts on “Kepakaran dan Perasaan Takut Kelihatan Goblok

  1. dari sudut pandang yang satu itu bener sih mbak,kalo sesuatu itu memang harus di serahkan ke ahlinya, tapi dari sudut pandang yang lain bisa jadi nggak, hehehe. contohnya kayak kita nggak perlu jadi polisi buat nangkep penjahat. kalo penjahatnya protes “emangnya anda polisi berani beraninya nangkep saya” trus kita mau lepasin, nggak kan. :). trus satu lagi, pakar/ahli itu juga manusia biasa apakah ada yang bisa menjamin kejujurannya.? kalo dia berbohong gimana dong, belom lagi masalah propaganda media (mind control) penggiringan opini publik. jadi komentar orang2 awam itu justru bisa jadi refrensi soal kebenarannya, kalo saya kutip dari kata kata orang yang nggak saya kenal “jangan menilai informasi dari siapa yang menyampaikannya, tapi nilailah dari kandungan isinya”. sebelumnya maafkan saya yang nyrocos terus ini. hahaha 😀

    1. Wah, benar juga ya. Hehe, soalnya akhir-akhir ini suka gemes sama yang ngeshare-ngeshare informasi yang belum jelas, pake emosi pula. Dan gak sedikit orang yang termakan. Iya tapi bener juga si. Dan pendapat orang-orang awam yang benar itu juga membantu banget dalam persebaran informasi/ilmu.

  2. iya. mudah2an kita sebagai rakyat. gk gampang di adu domba dengan berita2 media ya. 🙂 jadi pengguna yang cerdas. walaupun saya sendiri juga kadang2 sering kepancing esmosi juga. hehehe kalo bahasa mbaknya ya gemes itu tadi. 😀

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s