senandika

If You Believe Everything You Read, (It Is) Better (to) Not Read

Dewasa ini, seiring dengan merakyatnya ponsel pintar dan media sosial, kebodohan dengan begitu cepatnya menular. Berbagai hoax, tulisan-tulisan provokatif dan sangat bertendensi ke satu sisi kerap kita jumpai di mana-mana. Saya pribadi merasa gemes dan greget sekali menjumpai postingan-postingan seperti itu di linimasa berbagai media sosial saya: facebook dan twitter terutama. Sebenarnya ada banyak sekali cara yang tidak rumit namun membutuhkan usaha lebih untuk mengklarifikasi dan mengklasifikasi tulisan-tulisan tersebut: apakah tulisan tersebut dapat dipercaya, dan/atau apakah tulisan tersebut bermanfaat. Sayangnya, kebanyakan masih terlalu malas melakukannya. Seakan tak cukup dengan pihak-pihak yang hobinya nge-share berita bermodal judul tanpa membaca isinya, sekarang ini banyak saya jumpai penyakit baru yang sedikit lebih maju tapi sama aja berbahayanya: baca tuntas isinya tapi malas ngecek kualitasnya. Akhirnya, saya yang (semisal belakangan ini) sedang jenuh dengan soal-soal integrasi fisika matematik kemudian iseng buka facebook dengan harapan bisa nemu guyonan-guyonan ringan atau postingan motivasi pendongkrak semangat, biasanya justru berakhir dengan perasaan makin lelah, gregetan, dan berjuang menahan diri sendiri untuk sabar (tidak menanggapi, padahal tangan saya udah gatal): ujung-ujungnya ya, hela-hela napas sendiri aja.

Sebaliknya, kecerdasan susah sekali ditularkan. Ya maklum, mungkin ini ada hubungannya dengan hukum kedua termodinamika (kok saya malah nyalah-nyalahin entropi sih?!). Perbandingan antara orang yang mendukung/percaya A dan yang mendukung/percaya B biasanya konstan, segitu-segitu aja. Penyebabnya mungkin karena kebanyakan orang sekarang sudah tidak terlalu berpikiran terbuka lagi. Golongan sempit tidak hanya mereka yang menolak diskusi atau yang gampang meledak/meletup ketika kepercayaannya dipertanyakan. Namun juga mereka yang welcome terhadap ajakan diskusi namun dari awal udah sakleg terhadap A. Jadi kita seperti menuang air ke gelas yang sudah penuh atau hampir penuh: banyak tumpahnya alias sia-sia.

Pepatah Jepang bilang, “Kalau kamu mempercayai segala hal yang kamu baca, lebih baik tidak usah membaca (sekalian).”

http://www.picturequotes.com/if-you-believe-everything-you-read-better-not-read-quote-18978

Nah, kalo ada yang ngartikan pepatah itu sebagai “Ya udah berarti lebih baik nggak usah membaca sekalian ya,” selamat kalian masuk golongan yang dimaksud oleh pepatah itu. Masa’ iya kita nggak mandi karena nanti pasti keringetan lagi, nggak kan?! Coba dong dilatih sabar: kalo nemu sesuatu jangan langsung diterima, tapi dikaji terlebih dahulu. Pepatah itu sebenarnya bilang: membaca harus diikuti oleh proses belajar atau pengkajian. Dan yang namanya belajar atau mengkaji itu proses yang panjang dan membutuhkan waktu, tenaga, uang, guru, dan kesabaran/ketekunan. Intinya perlu pengorbanan. Kalo nemu satu postingan, mbok ya dipelajari dulu. Buka sumber-sumber lainnya, pelajari riwayat si penulis, terus coba dipikirkan sendiri isi postingan tersebut dari berbagai sudut pandang (nggak cuma sudut pandang yang kita yakini sendiri aja).

Kenapa perlu buka sumber-sumber lainnya? Ya untuk sinkronisasi informasi. Apa yang ditulis oleh si A belum tentu sama dengan apa yang ditulis oleh si B, C, dst. Yang media sediakan adalah narasi, sedangkan yang sebenarnya terjadi adalah fakta. Bagi saksi berita/kejadian, fakta aja nggak cukup, perlu narasi. Makanya narasi itu penuh tendensi, berunsur kepentingan, dan subjektif sekali. Nah bagi kita, narasi aja nggak cukup, perlu dicari faktanya. Kenapa perlu pelajari riwayat penulis? Ya masa kita mau percaya sama postingan seorang pengikut Jonru, misalnya? Mengkaji dan memikirkannya dari berbagai sudut pandang ini berkaitan dengan narasi yang biasanya agak miring ke sudut tertentu. Yah kan, narasi itu sudah ditumpangi oleh subjektivitas penulis. Jadi ya, kalo pengen tau sejarah PKI jangan cuma berbekal postingan seseorang aja, tapi baca juga buku-buku sejarah, reportase, laporan penyelidikan, dll. Masa iya koar-koar bejatnya PKI dan bahaya palu arit tapi nggak tau di mana lokasi terdekat kuburan massal tertuduh (tertuduh lho ya, bukan korban) PKI. Atau heboh-heboh Rohingya tapi nggak kenal Aung San Suu Kyi? Kadang-kadang memang makin banyak baca bikin kita makin bingung, tapi setidaknya pikiran kita sudah terisi dengan lebih dari satu sudut pandang.

Dan sebagai filter terakhir, tanyakan lah pada diri sendiri: kalo kita ngebagi postingan itu, bermanfaat kah buat yang baca, pentingkah isinya, atau justru bikin orang-orang tambah terprovokasi? Ini makanya kita (bagi yang Muslim) disuruh ngaji, bukan cuma baca (quran). Dan yang namanya ngaji pasti ada gurunya (ustadz), nggak kayak membaca yang bisa dilakukan sendirian aja.

Seperti yang sempat saya singgung sedikit di atas, apa yang kita hadapi sekarang ini tak bisa lepas dari akses mudah terhadap ponsel pintar. Ponsel pintar sekarang ini kayak genangan air di musim hujan: semakin terjangkaunya harga (bahkan bisa dikreditkan pula) bikin dia bisa kita temui di mana-mana. Dan media sosial sepaket dengan itu. Sayangnya, sebagian dari kita tidak memiliki fasilitas untuk mengkaji lebih jauh informasi yang kita peroleh lewat media sosial. Jadi, buat sebagian lain dari kita yang berpendidikan lebih, punya daya untuk mengkaji, mbok ya jangan ikut-ikutan membodohi orang lain. Seorang sarjana, pagi ini, memposting kalau uang kertas Rupiah yang baru mirip dengan Yuan (mata uang Tiongkok) plus ada logo palu aritnya dilanjut membahas omong-kosong ini dan itu. Yassalam, ini nih tanda-tanda minta di-unfriend.

Terakhir, anjuran banyak-banyaklah membaca agaknya perlu diperbarui menjadi banyak-banyaklah membaca buku. Setidaknya, buku telah melalui proses filtering dan editing yang panjang sebelum diterbitkan. Tapi kembali ke pepatah tersebut lagi, meski udah baca buku, jangan gampang percaya. Bacalah buku-buku lain yang pro dan juga yang kontra, jangan membatasi bacaan dengan topik yang itu-itu saja. Perkaya wawasan. Kurangi scrolling-scrolling apalagi kalo nggak punya waktu atau males klarifikasi dan klasifikasi sumber tulisan yang berakibat nggak tau mana yang layak dipercaya/dibagikan dan mana yang bukan. Kalo kamu mempercayai semua yang orang tulis, lebih baik nggak usah scrolling-scrolling sekalian!

Sekian.

Hehe.

NB: Terima kasih dari lubuk hati terdalam saya haturkan bagi teman-teman yang telah menetralisir isi linimasa saya dengan kutipan-kutipan motivasi, humor-humor kriuk, dan link youtube soundtrack drama korea. Kalianlah pahlawan tanpa tanda jasa di tengah gerombolan postingan yang saling gontok-gontokan.

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s