bookworm's

Selera Buku pun Berubah

Akhir-akhir ini di Surabaya banyak diskon buku gila-gilaan. Mulai dari Gramed cuci gudang, BBW, dan booksale di sana-sini. Karena momen ini juga saya jadi nyadar, kalo selera buku saya mulai berubah, bahkan sejak beberapa waktu lalu.

Saya cerita dulu soal pengalaman membaca saya selama dua tahun belajar di Taiwan. Dulu, ketika berangkat ke sana, saya hanya membawa satu buku saja: Markesot Bertutur-nya Cak Nun. Saya sempat berusaha menjejalkan ketujuh buku Harry Potter di antara tumpukan kaleng sarden dan bungkusan mie instan ke dalam koper 30 kg saya, namun upaya saya gagal total. Saya dipaksa menerima keadaan bahwa sepertinya Taiwan akan membosankan sekali tanpa novel-novel berbahasa Indonesia.

Tak lama setelah saya mempunyai kartu mahasiswa, saya langsung ke perpustakaan. Dan saya bahagia sebahagianya melihat jejeran buku di sana. Banyaaakkk sekali buku-buku sains yang menggiurkan: mulai dari buku teks kuno karya ilmuwan-ilmuwan terdahulu seperti Dialogo-nya Galileo, sampe buku berbahan glossy dan full colour-nya serial sains BBC atau National Geographic. Seketika saya tak tertarik lagi dengan novel-novel meskipun di sana ada banyak nama penulis best-seller dari penjuru dunia, mulai dari Conan Doyle, JK Rowling, Sophie Kinsela, sampe Haruki Murakami.

Maka selama dua tahun saya di sana, saya menjadi pemburu buku-buku non-fiksi dari berbagai disiplin ilmu: kosmologi, astrofisika, psikologi, ekonomi, sejarah dunia, politik kebangsaan, kedokteran, di samping tentu saja buku-buku teks bertema semikonduktor, material growth, energi terbarukan, dlsb yang menunjang perkuliahan dan penelitian saya. Saya juga mendaftar sebagai anggota perpustakaan di kampus terbesar di Taiwan, dengan koleksi buku yang lebih banyak. Di sana, lebih leluasa saya temui buku-buku teks asli dari ilmuwan terkenal: Dialogo-nya Galileo, Principia Mathematica-nya Newton, serial kuliah Feynmann, makalahnya Einstein dan Heisenberg, bahkan Aristoteles. Semuanya dalam Bahasa Inggris, tentunya.

Saya suka. Suka sekali. Saya bisa semakin memperkaya wawasa saya dengan membaca buku nonfiksi. Sesekali, saya masih membaca novel-novel Murakami atau meminjam serial Harry Potter sebagai selingan, terutama kalo buat teman bepergian karena sifatnya yang lebih ringan.

Dan selera membaca saya ini berlanjut sampai sekarang. Dua tahun lalu, ketika masih bekerja di Jakarta, saya sempat datang ke Jakarta Book Fair dan memborong beberapa novel yang masih segelan sampe sekarang. Beberapa novel yang saya beli setelahnya juga belum tersentuh sama sekali. Nanti saja saya baca kalo udah berminat, tapi mengingat selera saya udah berubah gini gatau deh kapan momen itu datangπŸ˜† padahal judul-judul yang saya pilih itu lumayan favorit lho, sebut aja Pulang-nya Leila S. Chudori, IEP-nya Dewi Lestari, dan Muhammad-nya Tasaro GK. Saya suka, saya penasaran, tapi masih belum pengen aja.

Kondisi ini diperparah dengan adanya booksale gila-gilaan. Di pameran buku, yang jadi tujuan utama saya adalah rak nonfiksi dan referensi, dan udah nggak minat blas sama buku-buku fiksi. Di BBW misalnya, saya memborong beberapa buku nonfiksi yang sedang saya baca sekarang. Di rak buku adik saya, Mayka, juga banyak kesukaan saya, seperti kumpulan Caping-nya GM, buku-buku Cak Nun, dan memoar tokoh-tokoh HAM. Novel-novel itu makin terlupakan dehπŸ˜†

Saya pikir, tak apalah, selama perubahan itu baikπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

s__2768967
Saya sekarang suka kumpulan cerpen jugaπŸ˜€

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s