salad days

Tentang Sholat Istikhoroh

Saya pernah sholat istikhoroh.

Sekali, dalam seperempat abad perjalanan hidup saya.

Saya sudah tidak begitu ingat detailnya karena cerita ini sudah berlalu tujuh tahun lamanya. Saat itu adalah masa-masa peralihan saya dari putih abu-abu menuju bangku kuliah. Ibu saya ingin sekali saya menjadi seorang dokter, dan saya senang-senang saja berusaha memenuhi harapan itu. Singkat cerita, saya gagal diterima di jurusan pendidikan dokter berbagai perguruan tinggi setelah beberapa kali mencoba.

Kemudian saya diterima di satu jurusan yang sama sekali tidak saya duga: Fisika. Jadi begini rumus saya dalam menentukan pilihan pertama dan kedua: pilihan pertama adalah jurusan yang ingin saya masuki, yakni pendidikan dokter; dan pilihan kedua adalah jurusan yang (ilmunya) saya senangi, yakni fisika. Singkat cerita lagi, menjelang hari daftar ulang, saya segera bertolak ke Surabaya dari Lhokseumawe – bukan jarak yang dekat, tentu saja – bersama ayah saya. Saat itu saya sudah boyongan – atau pindahan, membawa semua baju dan buku favorit, juga berpamitan dengan teman-teman.

Hal yang tidak diduga adalah, sehari sebelum hari daftar ulang, saya diterima di jurusan pendidikan dokter sebuah universitas negeri ternama di Sumatera Utara melalui jalur UMB. Ibu saya yang menelepon, mengatakan bahwa nama saya berada pada urutan pertama peserta yang lolos. Ya, nama saya terpampang di koran saat itu.

Sontak keluarga saya heboh. Sebagian mengatakan saya harusnya kembali saja dan segera mengambil kesempatan itu. Sebagian lainnya merasa sayang sudah jauh-jauh ke sini kalau harus segera kembali lagi. Pertimbangannya macam-macam. Ini dan itu. Nanti begini dan begitu. Duh! Saya tidak bisa lagi mendeskripsikan betapa hebohnya keluarga besar saya saat itu, yang pasti: heboh banget nget nget!

Dan saya yang masih seumur jagung, menangis, saking bingungnya. Haha. 😆

Seingat saya, saat itu saya merasa saya sudah mantap akan memilih fisika, dan sebenarnya saya lebih condong untuk tetap di Surabaya saja. Tapi, rasanya tak kuasa juga menepikan harapan dan kebahagiaan ibu saya sendiri. Maka akhirnya setelah mendata berbagai pertimbangan serta lebih dan kurangnya, Mas Kholip (sepupu jauh saya) menyarankan saya untuk sholat istikhoroh. Sekaligus mengajari bagaimana caranya, karena saya tidak pernah istikhoroh sebelumnya.

Kemudian saya sholat istikhoroh, dan saya (merasa saya) diyakinkan. Karena sebenarnya sejak awal saya sudah tau pilihan mana yang ingin saya ambil, namun terlalu banyak kekhawatiran dan ketakutan yang membayangi sehingga segalanya menjadi kabur. Saya tak mampu melihat dan saya tidak berani memutuskan. Entah kenapa saya merasa, dengan sholat istikhoroh, saya dikuatkan. Entah bagaimana cara-Nya.

S__5054497

Dan di sinilah saya sekarang. Bahagia, tak kekurangan sesuatu apa pun. Tanpa berandai-andai, tanpa penyesalan, bahkan cerita lama itu bisa saya ulang-ulangi lagi sambil tertawa. Betapa dulu saya dicecar sebagai seseorang yang tak tahu bersyukur, yang menolak rejeki, yang berpikiran sempit, yang…duh, banyak lah. Dan cecaran itu masih berlanjut hingga lebih dari satu tahun semenjak kepindahan saya ke Surabaya. Ibu saya sering bercerita kalau banyak ibu-ibu yang menanyakan kabar saya ketika bertemu dengan beliau di pasar atau di rumah sakit. Sambil menunggu antrian obat atau memilih kangkung dan bayam, banyak orang yang mengungkapkan betapa mereka menyayangkan pilihan saya. Maaf ya Bu, putri sulung ibu ini memang dari kecil banyak tingkahnya 😆

Namun di sinilah saya sekarang. Bahagia, tak kekurangan sesuatu apa pun dan tak bisa mengharapkan takdir yang lebih baik dari ini. Yang terpenting dari memilih, menurut saya, adalah yakin. Saya pernah menulis pengalaman saya tentang keyakinan dalam memilih di tulisan ini: Dari Mana Datangnya Keyakinan. Betapa keyakinan itu merupakan sumber kekuatan. Dan betapa saya memperoleh keyakinan saat itu, tujuh tahun lalu, lewat sholat istikhoroh. Memang tidak harus, namun yang perlu diperhatikan adalah, terkadang sholat istikhoroh menunjukkan pilihan apa yang sebaiknya kita ambil dengan menumbuhkan keyakinan kita terhadap pilihan itu. Dan itulah yang pernah saya alami. CMIIW.

Hal terindah dari sholat istikharah adalah Allah tidak hanya mengisyaratkan mana pilihan terbaik, tapi Ia juga memberkahi dan menuntun setiap pilihan itu.

Selamat memilih, dan, yakinlah! :mrgreen:

*sumber gambar: koleksi pribadi

Iklan

4 thoughts on “Tentang Sholat Istikhoroh

  1. bicara soal keyakinan.. saya agak trauma soal itu.. dan saya pernah salah kayaknya meyakini sesuatu, ada saran buat org kayak saya yang udah salah meyakini sesuatu?

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s