salad days

Apel Keberuntungan

Hari ini – entah ada angin apa – belum tepat jam menunjuk pukul tujuh tiga puluh pagi saya sudah duduk manis di depan laptop di lab. Karena masih sepi dan hari ini saya juga tidak berencana eksperimen apa-apa, tiba-tiba saya ingin ke pasar dan jadilah saya bersepeda dari lab ke pasar tradisional di bawah Jembatan Fuhe (Fuhe Bridge). Entah karena sudah lama sekali saya tidak sepedaan jauh-jauh plus matahari juga sangat terik (ah alesan), rasanya ngos-ngosan dan capek juga 😆 eh tapi bukan mau cerita itu sih.

Saya belum pernah ke pasar di hari aktif (weekday/working day), dan sesuai dugaan, suasana pasar jauh lebih lengang daripada biasanya di hari Sabtu atau Minggu. Saya belanja apa? Nggak banyak sih, dari awal memang cuma berencana beli ikan (soalnya lagi kangen ikan tumis tauco), cabai dan bawang-bawangan, plus beberapa buah apel. Eh tapi bukan mau cerita ini juga sih.

Saya mau cerita tentang apel yang saya beli.

Sepulang dari pasar, saya kembali ke asrama untuk menyimpan ikan yang saya beli di kulkas dan kemudian langsung kembali ke lab membawa sekantong apel. Sampai di lab sekitar pukul sembilan, sudah ada Gary dan Wei-Chao. Saya langsung meletakkan masing-masing satu buah apel di meja mereka, kemudian dengan ekspresi kaget mereka memandang saya dan bertanya,

G: (Ada) apa ini?

S: Nggak ada apa-apa. Nggak ada maksud buruk (bad meaning) kan jika kita memberikan apel kepada seseorang?

G: (tertawa)

WC: (Menjelaskan ambil tertawa) Sebenarnya, ada. Memberikan apel pada seseorang itu maksudnya buruk atau bernasib buruk. Seperti cerita Snow White, wanita cantik jangan memakan apel. Atau ada juga semacam candaan, jika kita memberikan apel kepada seseorang yang sedang menempuh Ph.D, dia akan semakin jauh dari kelulusannya.

apple-1112047_960_720

An apple to a Ph.D keeps his doctorate away. An apple a day keeps you healthy.

Wei-Chao adalah senior saya yang sedang menempuh Ph.D di tahun keenamnya, dan saat ini, beliau sedang mengerjakan tesisnya. I gave an apple to a Ph.D! And yes, he was literally writing his thesis when I gave him the apple. Jelas saya merasa salah tingkah karena begitu tidak tepat tapi ya sambil tertawa juga :p

S: (menganga, kaget) Benarkah?! Waduh saya nggak tau. Maaf >.<

WC: Haha, nggak apa-apa, itu cuma anggapan orang. Ada juga pepatah yang mengatakan kalo sebuah apel sehari akan menyehatkan kita. Jadi tak perlu khawatir. Anyway, makasih ya!

Hari beranjak sore *mendadak melow dan puitis* namun hingga detik saya menuliskan dan memposting cerita ini, apel tersebut masih duduk manis, tidak bergeming sedikit pun meski saya pandangi curi-curi berulang-kali. Hiks.

You don’t really believe that, do you?

5 thoughts on “Apel Keberuntungan

  1. Sini buat Saya aja apelnya… Dari pagi belum makan nih hehe
    Mengenai anggapan diatas, Saya rasa gak ada hubungannya dg nasib seseorang ketika kita memberikan apel..
    Kecuali jika kita seorang nenek sihir yang memberikan racun untuk kemudian diberikan kepada putri cantik.. *mendadak ingat crita putri tidur hehe

    1. Hehe bener, bener. Buat kita pasti anggapan-anggapan seperti itu kedengarannya agak lucu. Cuma saya perhatikan orang sini (Taiwan) punya banyak sekali anggapan-anggapan seperti itu. Contoh lainnya, di beberapa mesin/alat di laboratorium, akan lazim kita temui semacam stiker atau snack2 yg fungsinya sbg penolak “bad luck” hehe

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s