salad days

Lelaki yang Saya Temui di Dermaga

Traveling with friends makes you’re closer to each other; traveling alone doesn’t, yet it offers you a really different thing.

Bukannya saya berniat menganaktirikan salah satu, tapi sepertinya saya memang lebih cocok bepergian sendirian. Seperti kali itu, ketika saya sedang duduk menunggu senja datang di dermaga, seorang laki-laki yang kelihatannya berusia dua-puluhan akhir mendekat dan menyapa saya.

“Are you Malaysian?”

“No, I’m Indonesian.”

“Oh, really? Glad to meet you. Do you mind if I sit here?”

“No, please.”

Dan begitulah kami menghabiskan setidaknya satu jam terakhir memandangi laut dan perahu sambil bercerita tentang diri masing-masing.

Ia berkebangsaan Singapura, lulusan Teknik Sipil di salah satu kampus terbaik dunia di sana, Nanyang Technological University. Setelah menyelesaikan program sarjana dan master tanpa jeda, ia lanjut bekerja sebagai research assistant selama dua tahun di kampus almamaternya.

“Dua minggu lalu saya resign, dan sudah hampir seminggu ini saya di Taiwan.”

“Resign untuk traveling?”

“Nggak tepat seperti itu sih. Karena lelah saja.”

Kemudian ia bercerita tentang tekanan dan tanggung jawab yang begitu besar di tempat kerjanya. Keinginannya untuk traveling, dan macam-macam lagi.  Tidak banyak pemuda yang rela melepaskan pekerjaan mereka yang tidak mensejahterakan batin dan juga tidak mendukung pengembangan potensial individu meskipun menawarkan penghasilan tinggi. Kebanyakan terlalu takut dan khawatir tidak akan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Dan biasanya dalam kondisi-kondisi seperti itu, kriteria baik tersebut terdikotomi menjadi sebatas urusan gaji. Tapi ia tidak, itulah yang membuat saya salut.

Obrolan kami tidak beralur dan melompat-lompat. Kadang-kadang berhenti ketika awan sore menutupi matahari dan menciptakan guratan cahaya yang agak dramatis. Tentang keluarganya, pekerjaan impiannya, cita-citanya setelah ini, kota-kota yang ingin ia kunjungi, dan tips-tips jika ingin traveling sendirian untuk saya. Saya pun bercerita tentang penelitian saya saat ini, keadaan kampus, dan kehidupan sebagai seorang muslim di Taiwan. Kami merasa cocok ketika sampai pada obrolan mengenai lingkungan dan renewable energy karena ternyata topik penelitian kami berlatar konsen yang sama.

IMG_1141

Ya. Kami mengobrol dalam Bahasa Melayu, namun dialog-dialog yang saya tuliskan di sini sudah saya alihbahasakan ke Bahasa Indonesia.

“Saya awalnya agak kaget juga bertemu wanita berkerudung di sini, dan sudah berhari-hari saya tidak ada teman ngobrol, jadi saya berterima kasih sekali kamu mau mendengarkan cerita saya.”

“Sama-sama, saya juga terima kasih sudah dikasih banyak tips dan rekomendasi.”

“Haha iya, sama-sama. Kamu masih mau di sini? Saya duluan, sudah waktunya mengembalikan sepeda motor sewaan.”

“Silakan, saya juga berencana kembali tidak lama lagi.”

“Oke, kalau begitu, sampai ketemu. So much thanks again, very nice to know you, and good luck for your thesis.”

“You too, take care.”

Kemudian begitulah kami berpisah, tanpa merasa perlu menanyakan nama masing-masing. Kita pasti juga sering mengalaminya: bertemu seseorang di kereta atau bus, misalnya, kemudian menghabiskan sepanjang perjalanan bertukar cerita, dan baru ketika akan berpisah kita bertukar kontak – atau tidak sama sekali dan hanya saling berucap terima kasih.

Karena salah satu hal berharga yang ditawarkan oleh sebuah perjalanan adalah ia selalu mempertemukan orang-orang yang bersedia memperkenalkan diri mereka dan mengenal diri kita, tanpa merasa perlu tau siapa kita, apa agama kita, kepada siapa keberpihakan politik kita, dan apakah orientasi seksual kita. Mereka menerima sebanyak yang kita beri, dan karena itulah kita merasa cukup.

Ilmu bisa kita dapatkan di mana saja dan nasihat bisa kita peroleh dari siapa saja; ibu-ibu paruh baya penjual bayam di pasar, kakek-kakek tukang becak, hingga lelaki yang saya temui di dermaga.

Senang bertemu denganmu, dan terima kasih sudah bersedia duduk dengan saya, begitu saja.

*sumber gambar: koleksi pribadi

Iklan

2 thoughts on “Lelaki yang Saya Temui di Dermaga

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s