salad days

Tendensi dan Penolakan-penolakan

Beberapa hari lalu, saya membagi sebuah artikel berjudul “Higher education or husbands? A tough choice for Indonesian women” di akun facebook saya. Kemudian salah seorang teman saya, Aufa, menuliskan komentar:

“Nyari kalimatnya Septia yang mana ya ini.”

Komentar tersebut, jujur saja, mengganggu saya. Dalam artian baik, maksudnya.

Saya (menilai diri saya sendiri) termasuk sering membagikan artikel-artikel dan informasi menarik di facebook. Tujuannya dua: menyebarluaskan informasi sekaligus sebagai pengingat jika kali lain saya ingin membacanya lagi. Saya juga termasuk orang yang pikir-pikir dulu sebelum membagi. Saya merasa perlu memastikan banyak hal, di antaranya apakah informasi tersebut benar dan berguna (jika berupa informasi) dan di mana posisi saya (jika berupa opini).

Untuk postingan berupa artikel-artikel ilmiah, biasanya saya selalu menambahkan komentar saya sendiri, sedangkan untuk postingan berupa opini, tidak. Kenapa? Simpel. Postingan berupa artikel ilmiah akan saya komentari dengan fakta-fakta dan wawasan yang saya punya, dan (yang sebelumnya) sudah saya kroscek kredibilitasnya. Saya merasa jauh, jauh lebih santai mengomentari topik-topik ini karena sifatnya yang “membagi wawasan”. Sedangkan untuk postingan berupa opini (misalnya Kolom Tempo, Opini New York Times, dan lain-lain) saya biasanya hanya mengomentari secuil saja atau bahkan tidak sama sekali.

Kenapa?

Karena mengomentari berarti membagi opini dan membagi opini berarti membuka diri. Tulisan adalah media bagi pembaca untuk mengenali seperti apa sang penulis. Saya belum siap diri saya dibaca oleh orang lain lewat opini-opini saya, terlebih di jejaring sosial yang ramai seperti facebook. Saya belum siap pikiran saya ditelanjangi oleh siapa saja yang mampu menelanjanginya. Saya tahu saya ini orang yang tertutup, bahkan orang-orang terdekat saya juga mengeluhkan soal itu: jika kepada orang-orang terdekat saja saya masih tertutup, kepada siapa lagi saya mencurahkan ini-itu? Saya juga tidak tahu.

Talk-to-the-hand-660x471

Alasan lainnya tentang mengapa saya belum siap diri saya dibaca mungkin karena sebagian diri saya merasa khawatir akan penolakan-penolakan. Di sini paradoksnya: saya merasa lebih baik ditolak secara fisik dan emosional ketimbang ditolak pikiran dan ide-idenya. Saya tahu, saya paham, bahwa tidak mungkin menyeragamkan opini semua orang. Tapi membagi opini berarti mengabarkan tendensi. Beropini itu memosisikan di mana saya berdiri dan membaginya sama saja dengan mengumumkan ke khalayak ramai bahwa “Ini lho, saya di sini!”

Semacam itulah.

Karena itu, saya benar-benar salut dengan teman-teman saya yang memiliki keberanian untuk menyuarakan pendapatnya terhadap sesuatu. Kekaguman saya juga jatuh kepada penulis-penulis kolom opini, pendapat, cari angin, mojok.co, dan sebagainya.

Sedang saya, seringkali, belum siap.

Karena itu komentar Aufa, teman saya di atas saya anggap sebagai pengingat: bahwa penting bagi saya untuk memiliki pendirian akan sesuatu sekaligus mengabarkannya, bukan hanya diam dan menjadi follower saja.

Tidak mungkin ada seseorang yang tidak memiliki opini terhadap sesuatu, begitu pula saya. Tapi membagikannya adalah soal keberanian yang lain.

Dan itulah yang perlu saya pelajari.

**sumber gambar: di sini

Iklan

One thought on “Tendensi dan Penolakan-penolakan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s