salad days

Sarjana Pelanggar Peraturan

Sebagian orang memang tercipta dengan insting melanggar peraturan yang luar biasa sekali. Regulasinya sudah jelas, tapi ada dan bisaaa aja dicari-cari pembelaan dan titik lemahnya. Orang-orang yang punya trait semacam itu biasanya juga bebal: nggak sadar atau entah abai kalau selain banyak berjanji, mencari-cari alasan adalah salah satu jalan dusta paling pintas. Menghadapi orang-orang tipe seperti ini dilema: dikasih toleransi sedikit, potensi kelewat batasnya bisa jadi besar sekali.

Untuk itulah badan-badan legislasi (atau sejenisnya) ada: orang-orang yang menghabis-hamburkan berjam-jam setiap harinya untuk melayani kebutuhan orang-orang macam itu. Mereka sengaja disediakan untuk memelintir kalimat-kalimat yang maknanya sudah jelas dan sebenarnya semua orang juga paham-dan-sepaham. Mereka senang membolak-balik struktur, mengeksplorasi diksi, dan menyampaikannya dengan suara lantang penuh kepercayaan diri di ruang sidang. Tapi eufemis garis keras selalu punya cara untuk terlihat lebih bijak: hal-hal macam ini penting dilakukan untuk menambal celah-celah yang mungkin akan disalah-arti-gunakan oleh oknum-oknum tertentu dan juga demi keharmonisan umat manusia. Katanya, sih.

Ah, yang mana sajalah.

Begitulah tulisan singkat saya beberapa minggu lalu. Tulisan itu jelas merujuk kepada, ehm, teman-teman sekamar saya (hanya mlipir-mlipir badan legislasi aja buat kedok) yang belakangan kelakuannya makin menjengkelkan saja. Tidak perlu lah saya menunjukkan bukti kalau di kamar asrama dilarang masak.

Ah, sebenarnya saya agak malas bercerita ini. Soalnya ada kemungkinan kecil mereka akan membacanya, dan yah, saya agak berharap soal itu juga sebenarnya.

Jadi kronologinya begini. Sudah sejak bulan sebelas tahun lalu kami sepakat untuk tidak lagi masak di kamar. Omong-omong, sejak awal sebenarnya saya tidak setuju dengan kegiatan ini, tapi yah, saya pendatang di kamar, memangnya mau apa. Setiap saya ikut masak-memasak di kamar, jiwa “J” saya selalu berteriak. Tapi saya abai. Maaf ya, Timbangan.

Tak lama setelahnya, Ica dan Ulya (Q: Maaf mbak, kok pakai nama sebenarnya? Biasanya nama kriminal kan dikaburkan. A: Nggak ngurus. :v) masak di kamar (lupa masak apa). Merasa punya hak untuk menegur, dengan nada tinggi (iya, saya emosi), saya tegur mereka,

“Bukannya kita udah sepakat ya kalo nggak masak di kamar lagi? Masak mie atau masak nasi pake steamer, silakan. Tapi kalo masak yang lain, sesederhana apa pun, tolong di bawah aja.”

Mereka cegek salah tingkah, untunglah.

Tapi sepertinya otak-otak bebal mulai mencari-cari celah untuk bertahan hidup. Sepertinya kesepakatan “masak (nasi) pake steamer” mereka terjemahkan sebagai masak apa aja mulai dari ikan teri sampai daging dinosaurus silakan asal tetep pake steamer. Steamer yang awalnya hanya digunakan untuk masak nasi, ngukus bakpao atau dumpling beku, mulai dimanipulasi untuk memasak makanan-makanan berat lainnya. Ayam, ikan, bebek, dan semua sumber protein yang kita sebut sebagai lauk, tak luput dari percobaan manipulasi mereka. Dan bumbunya juga makin subhanallah! Dari yang awalnya cuma sayur bening sop-sopan, merambah ke bumbu kari dan rendang. Dan nggak cuma minoritas, dari yang tahajudnya nggak pernah tinggal sampe yang memang punya bibit pemberontak, semua berkontribusi terhadap wewangian warung tegal dan masakan padang mini di kamar 410.

Ini sih, khas orang Indonesia banget. Satu, melanggar peraturan. Dua, melanggar peraturan. Tiga, melanggar peraturan. Dan empat, memanipulasi fasilitas sederhana untuk menghasilkan output luar biasa. Ohmen, mau-nggak-mau, saya salut.

Saya merasa berhak ngomong gini karena setidaknya saya sudah mencontohkan untuk masak di dapur di bawah, bahkan untuk sekedar nyeplok telur. Oke, saya nggak pernah juga sih nggotong-nggotong kompor dan wajan hanya untuk telur mata sapi.

Dan makin lama makin menyebalkan saja. Seperti yang sudah saya ceritakan, wadah steamer yang biasanya dipake nanak nasi, dipake untuk masak aneh-aneh. Alhasil, wadahnya seringkali berbau amis dan tajam setiap saya pengen masak nasi. Sekali-dua, saya masih iya untuk mencuci tutupnya, menggunakan wadah lain, apalah. Lama-lama, malas juga. Dan nggak cuma wadah, namanya masak pake steamer, jelas lah baunya menguar ke sepenjuru kamar.

Untunglah kesibukan di lab memberi saya alasan untuk tidak berlama-lama di kamar dan memandang kelakuan-kelakuan yang membuat saya eneg itu.

Saya menjauh. Nggah betah, euy.

Saya tidak peduli lagi mereka mau apa. Bah, mau jungkir-balik. Bah, mau nyate di kamar. Toh kalau kamar sebelah kebakaran karena kompor konslet juga saya nggak yakin mereka bakal kapok. Kapoknya paling seminggu doang. Namanya juga bebal.

Untungnya, saya tinggal setengah tahun lagi di sini. Banzai! Dan beberapa hari lagi seorang anggota kamar yang hobinya tidur berbelas jam sehari bakal balik ke tanah air (nggak tau buat apa dan nggak pengen tau juga). Sisi positifnya adalah, nggak bakal ada lagi yang telpon-telponan di atas kasur sampe tengah malam dan mengganggu jam tidur orang lain. Sisi negatifnya? Kalau saya sih nggak ada.

Huah, lega rasanya. Akhir-akhir ini saya keseringan nelan sarkasme sendiri. Karena saya tau itu nggak sehat, jadilah omelan ini. Dipajang pula di blog. Gapapa, orang bebal memang butuh perlakuan istimewa.

Omongan saya nggak ada manis-manisnya, ya. Maklum, pas dibikin dulu kayaknya kebanyakan cabe. Ayah saya suka soalnya.

2 thoughts on “Sarjana Pelanggar Peraturan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s