salad days

Dari Jendela

Song Literature – Perpisahan Termanis oleh Lovarian

Saya ini gengsian. Dan yang paling paham sama gengsi saya yang setinggi pohon kelapa ini adalah, tentu saja, ibu saya.

Beberapa hari menjelang tanggal dua puluh bulan tujuh, ibu mengeluh kepada saya, “Ya, dihabiskan lah nastarnya. Ibu kan sengaja bikin untuk Mbak Iya. Mbak Iya kan suka nanas.” (Di rumah, saya dipanggil Mbak Ya/Iya/Tia)

Hehe, iya Bu.

Padahal dalam hati udah terharu seterharu-terharunya.

Pagi hari tanggal dua puluh, saya masih menyempatkan ngemil nastar sehabis sarapan. Namun, hingga pukul sepuluh, nastar dalam toples masih tersisa separuh.

Dan tibalah waktunya bagi saya dan Mayka untuk berangkat ke bandara. Ibu, Romo, dan Dayah (adik bungsu saya) ikut mengantar. Tak ada pembicaraan haru-biru sepanjang perjalanan. Hanya obrolan-obrolan tak penting seperti ibu yang membanggakan tasnya yang awet, atau ibu yang mengeluhkan saya yang malas sekali kalo disuruh pake baju bagus. Padahal sebenarnya, saya kepikiran nastar.

Dan ibu.

Ibu yang mencium saya dua kali.

Ibu yang menunggu di luar pagar bandara.

Dan ibu yang dadah-dadah ketika melihat saya menaiki tangga pesawat.

“Bu, maaf ya nastarnya masih bersisa banyak.”

Pertahanan pertama saya runtuh.

“Iy gpp nak. Wktnya yg tll sbentar, bkn nastarnya trasa bnyk.”

(Iya gapapa, Nak. Waktunya yang terlalu sebentar, bikin nastarnya terasa banyak.)

Dan saya tak tahan lagi. Tumpah. Ruah.

Maka selama berbelas jam perjalanan Lhokseumawe-Taipei, tiap kali saya mengingat nastar yang masih bersisa banyak, saya menangis. Tiap kali saya membaca percakapan LINE tersebut, saya menangis lagi. Aneh bagaimana nastar bersisa banyak bisa membuat dada saya sebegini sesaknya. Ah, emosional sekali.

Saya ini sok cool. Sok cuek. Impresif. Beraninya lewat tulisan. Beraninya lewat pesan singkat. Pokoknya asal nggak bertatap-mukaaa aja. Dan yang paling paham sama sok cool-nya saya adalah, tentu saja, ibu saya.

Kalo nggak habis kan bisa dibawa ke sana, Bu.

Mana bisa. Nastarnya kan rapuh. Kalo dibawa, pasti langsung hancur.

Iya, rapuh. Rapuh.

 

Maafkan semua salahku

Yang mungkin menyakitimu~

 

20150704101953

 

Ditulis di…ehm kayaknya di atas Laut Cina Selatan, dini hari 21 Juli 2015

 

 

Anakmu,

yang beraninya sama jendela pesawat~

 

*diikutsertakan dalam Song Literature Challenge-nya blogger Fisika UA 2009, tantangan kali ini diberikan oleh Ilmi.

*sumber gambar: koleksi pribadi

Iklan

One thought on “Dari Jendela

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s