salad days

Cinta yang Tidak Karena Jatuh

Siang tadi, di tengah perasaan harap-harap cemas hasil uji karakterisasi, Gary bertanya pada saya, “Septia, kamu tau apa yang kami (saya dan Yi-Rung) bicarakan?”

Saya menggeleng.

“Dia sedang bingung. Kalau kamu, mana yang akan kamu pilih: seseorang yang kamu sukai atau seseorang yang baik untukmu?”

Saya berhenti mengoperasikan komputer dan berpikir sebentar sebelum kemudian menjawabnya.

“Seseorang yang baik untuk saya.”

“Benarkah?”

“Tentu saja,” jawab saya meyakinkannya sambil tersenyum. Kemudian saya lanjut mengambil data. Gary menghampiri Yi-Rung, kemudian mengikutsertakan saya dalam obrolan mereka.

G (Gary) : “Yi-Rung, kuberi tau apa jawaban Septia. Septia bilang, seharusnya kita memilih seseorang yang baik untuk kita.”

YR (Yi-Rung) : “Benarkah itu, Septia? Kenapa?”

S (Saya) : “Karena cinta bisa dipelajari.”

YR : “Maksudnya?”

S : “Kita perempuan, YR. Cinta kita tidak jatuh. Maksudku, kita tidak serta-merta mencintai seorang pria. Bukankah jauh lebih mudah belajar mencintai daripada berusaha mengubah perilaku atau karakter seseorang? Dan lagi, belajar mencintai itu tidak buruk.”

G : “Ya, aku setuju. Seorang pria yang berlaku buruk padamu tidak seharusnya kamu pertahankan meskipun kamu menyukainya. Karena karakter adalah sesuatu yang telah tumbuh dan mengakar bertahun-tahun, dibentuk sejak kita masih kecil. Tidak mudah mengubahnya.”

YR : “Tapi siapa pun bisa berubah.”

S : “Kita bisa melihat potensi. Apakah dia memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik?”

Kami lantas sama-sama terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Cube sugar added to the coffee

“Setelah menikah, seorang wanita akan melupakan pria-pria yang pernah ia cintai sebelumnya,” dulu sekali ibu saya pernah berkata. Dan saya percaya.

(Karena) cinta saja tidak cukup.

*sumber gambar: di sini

Iklan

7 thoughts on “Cinta yang Tidak Karena Jatuh

  1. kalo saya pernah dikenalin orang tua sama seorang cwek mbk,tp saya kok ragu saya bisa suka apa nggak,,,alasannya pas lihat timelinenya kok alay :3.. akhirnya saya mundur…
    emmm,,, terus taunya yang baik bagi kita gimana ya tandanya?

    1. saya pernah bertanya hal yg sama kepada teman saya, “gimana kita tau kalau orang itu baik untuk kita?” dan teman saya menjawab begini.. “sebenarnya Rasulullah udah ngasih kita petunjuk. lihatlah seseorang lewat agamanya. bagaimana pemahaman ilmunya, dan sejauh mana pengamalannya. dia akan paham mana yg boleh dan nggak boleh dilakukan, mana yg baik dan mana yg buruk.” begitu mas 🙂

  2. Hehehe.. lama banget nggak ngubek ubek blognya septia. 😀
    Jadi keinget perahu kertas : cinta tidak memilih, hati selalu tahu kemana harus berlabuh. #Eeeaa
    Setuju Sep, apa aja bisa dipelajari, termasuk cinta. 😀

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s