salad days

Tanya Google, Sana!

Pernah suatu ketika, salah seorang teman lab saya, A, menceritakan keluh-kesahnya pada saya.

Ujar A, “Kamu tau, Septia, seringkali ketika saya bertanya tentang sesuatu kepada B, B hanya menjawabnya sepatah-dua patah lantas menyuruh saya searching sendiri. Padahal bertanya padanya bukan jalan pertama yang saya tempuh. Saya sudah searching sebelumnya, baca buku, beberapa paper. Namun ketika saya memutuskan untuk bertanya padanya, itu karena saya ingin penjelasan yang mungkin bisa lebih mudah dimengerti darinya, yang tidak saya dapatkan dari tulisan-tulisan.”

Ya, saya mengerti. Saya pun beberapa kali mengalami hal yang sama, dengan orang-orang yang berbeda. Dulu, jauh sebelum tulisan ini dibuat, saya juga sering memperlakukan orang lain persis seperti itu. Saya sering dibuat jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan (yang menurut saya) sederhana dan barangkali sepele, tapi mereka tanyakan pada saya. Saya sering membatin, “Kenapa nggak berusaha nyari tau sendiri dulu, sih?!”

Tapi, itu dulu.

Sebelum salah seorang teman menegur saya.

Barangkali, mereka melakukan itu hanya sebagai bentuk basa-basi. Mereka sebenarnya bisa menemukan jawaban itu sendiri, tapi mereka memutuskan untuk bertanya kepada saya. Tahu tidak, seandainya A tidak bertanya kepada B, tidak akan ada komunikasi terjalin di antara A dan B – setidaknya, untuk topik yang A tanyakan kepada B. Dan, tidak semua basa-basi adalah basa-basi. Basa-basi terkadang diperlukan untuk menjaga yang hangat agar tetap hangat.

“Eh, tau nggak di mana alamat restorannya Lee Kwangsoo yang baru dibuka di Taipei baru-baru ini?” – Google maps aja.

“Aku nemu ini di paper, kamu tau nggak apa itu efisiensi fotokonduksi?” – Tanya google aja.

“Aku galau. Gimana caranya kita tau kalau dia pasangan yang baik untuk kita?” – Searching dong!

Errr~~~

Semua butuh pengaturan. Kita perlu mengatur kembali kapan harus bertanya, bagaimana cara melontarkan pertanyaan dengan baik, bagaimana memberikan jawaban dan penjelasan dengan baik, dan bagaimana menangkis pertanyaan dengan baik pula.

Jangan biarkan teh hangat yang baru kita seduh mendingin terlalu cepat. Semampu yang kita bisa.

typing-test

Kemudian, yang kita butuhkan mungkin hanya lebih banyak prasangka baik.

Karena barangkali, selain bahwa mereka hanya ingin mencari topik obrolan dengan kita, mungkin mereka telah mencari tau sebelumnya, namun belum menemukan jawaban yang tepat, atau belum sampai ke pemahaman yang baik. Mungkin mereka seperti saya, yang seringkali setelah searching sana-sini, akan bertanya kepada seseorang yang dirasa lebih tau untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mudah dimengerti, sekaligus untuk mengonfirmasi apakah jawaban yang terkumpul dalam kepala saya sudah benar.

Karena, kata-kata sejatinya tidak hanya merepresentasikan realitas, namun juga membangkitkan kesan-kesan emosional.

Ketika kita berkata kepada seseorang, “Searching aja,” ada banyak makna yang mungkin ditangkap oleh lawan bicara, dan kita tidak bisa memastikan mereka menangkap yang mana. Bisa jadi karena kita sedang sibuk dan tidak ingin diganggu, tidak suka menerima pertanyaan sepele, ingin membiarkan mereka lebih mandiri, atau yang lainnya. Kesan-kesan emosional inilah yang biasanya akan tertanam lebih dalam di kesadaran orang lain, lebih dari makna realitasnya.

Contoh lainnya adalah dengan membandingkan dua kata yang mirip maknanya: pelacur dan pekerja seks komersial (PSK). Ada dua jenis pelacuran, sejauh yang saya tau: sebagai bentuk perdagangan orang (mereka adalah korban yang terpaksa melacur karena masalah ekonomi) dan orang-orang yang dengan sukarela melacur karena penghasilannya yang menjanjikan. Golongan kedua inilah yang menyebut diri mereka pekerja seks komersial – julukan yang rasanya kok pas benar. PSK adalah pelacur yang diperhalus. Yang mungkin luput kita sadari adalah, tindak eufemisme (penghalusan makna) seperti inilah yang sebenarnya berbahaya (penghalusan makna belum tentu berarti perbaikan makna), karena berpotensi mengubah kesan emosional kita tentang pelacuran. Coba saja dipikirkan.

Manusia berkomunikasi dengan bahasa. Komunikasi itu sendiri merupakan salah satu bentuk interaksi kita dengan sesama. Karenanya, tidak berlebihan bukan jika saya mengatakan bahwa dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang baik, artinya kita telah berlaku baik juga kepada orang lain?

Terakhir, mungkin kita sama-sama perlu mengingat bahwa kita perlu memperlakukan orang lain lebih seperti mereka ingin diperlakukan, bukan sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita belum mengenal mereka, tidak tau bagaimana mereka ingin diperlakukan, hal terbaik yang bisa kita usahakan adalah dengan menerka, yaitu dengan memperlakukan mereka seperti kita ingin diperlakukan. Bukan sebaliknya.

~CMIIW! :mrgreen:

*sumber gambar: di sini

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s