salad days

Mencari Cakwe

Suatu malam, salah seorang teman saya yang sedang menjalani profesi sebagai guru menceritakan kekhawatirannya tentang keadaan siswa-siswanya yang, singkat kata, memprihatinkan.

Teman saya menuturkan, siswa-siswanya tidak merasa membutuhkan sekolah. Bukan merasa tidak membutuhkan sekolah, tapi tidak merasa membutuhkan sekolah – dua hal yang sekilas bermakna sama namun sebenarnya berbeda. Setidaknya, inilah yang bisa saya simpulkan dari ceritanya.

Tanda pertama, misalnya. Ketika ada siswa yang terlambat masuk kelas, kemudian ditegur oleh guru: mau masuk atau berdiri di luar? Dia menjawab pasrah: terserah Bapak/Ibu saja. Aneh, bukan? Mau tidak mau kami jadi membandingkannya dengan keadaan kami dulu. Kalau saya yang terlambat dan ditegur seperti itu, sudah jelas saya akan memohon agar dibolehkan masuk kelas, karena saya sadar betul mau masuk atau berdiri di luar adalah teguran, bukan pertanyaan apalagi tawaran. Itu adalah ekspresi retoris yang kalau ada subtitle berjalannya, mungkin akan tertulis: kamu bersalah karena terlambat, menyesal dan minta maaflah. Seperti itu.

Kalau seperti ini, lima tahun lagi mau jadi apa? “Tanya atasan saya”?

Tanda kedua. Di kelas, mereka sama sekali tidak memperhatikan. Ah ya, ini biasa sebenarnya. Jangankan siswa, mahasiswa pun begitu. Tapi yang biasa-biasa bukan berarti tidak ada masalah, kan. Kalau tidak memperhatikannya hanya sesekali, tak terlalu jadi soal. Pasti ada saat-saat tertentu kita jenuh dan bosan. Tapi kalau terus-terusan?

Karena penasaran tentang mengapa siswa-siswanya bisa sebegitu tidak antusiasnya di sekolah, teman saya iseng meminta mereka menuliskan apa cita-cita (karir masa depan) mereka. Ada yang menjawab dokter, bidan, pengusaha – semuanya bercita-cita menjadi orang. Mendengar ketimpangan semacam itu, suka tidak suka saya jadi berprasangka: itu benar cita-cita mereka, atau hanya karangan saja?

Mereka tidak antusias, tidak memiliki kesadaran pribadi, dan tidak memikirkan masa depan.

Apa lagi yang bisa lebih menyedihkan dibanding kehilangan tujuan?

Kami lantas mencoba menerka-nerka apa penyebabnya kira-kira. Mulai dari sekolah yang kurang memfasilitasi, kecenderungan terhadap gadget yang begitu tinggi, sampai broken home – namun tak satu pun terasa pas bagi saya.

Di sini saya berbicara sebagai seseorang yang tidak tahu apa-apa. Saya hanya mendapat posisi pendengar di rantai keempat (atau bahkan lebih) hingga seperti inilah jadinya tanggapan saya.

Menurut teman saya, sekolah sudah seharusnya membuat siswa-siswanya nyaman dan betah di sekolah. Dengan apa? Dengan kegiatan ekstrakurikuler dan sebagainya yang membuat siswa tidak hanya berpikir bahwa sekolah berarti duduk belajar di kelas seharian. Sayangnya, sekolah mereka tidak memfasilitasi itu.

Penyebab berikutnya tentang kecanduan gadget sebenarnya cukup mudah. Sekolah tinggal tegas saja menetapkan regulasinya. Tidak akan ada lagi persaingan antara guru dengan jejaring sosial. Kecemburuan sang pendidik karena siswanya lebih hobi menunduk mengutak-ngatik smartphone yang tersembunyi di laci meja pun akan segera berakhir. Selesai. Ini masalah ketegasan saja.

Tapi, benarkah sesederhana itu?

Atau, cara saya berpikir saja yang membuatnya seolah merumit?

cakue1

Ah, ya. Kenapa mencari cakwe?

Pernah suatu kali, sekitar jam sembilan malam, saya dibuat berputar-putar mencari cakwe titipan adik saya. Posisinya saat itu, saya tidak tau apa dan bagaimana bentuk cakwe. Saya hanya mengira-ngira dari deskripsi yang diberikan adik saya, juga gambar hasil googling yang didapatkannya. Tak kurang dari satu jam saya mencari ke mana-mana. Akhirnya, saya menyerah pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, saya menemukan penjual cakwe yang masih buka dan tentu saja cakwenya masih ada di daerah dekat dengan kost saya – yang tentu saja tidak saya perkirakan sebelumnya. Radius pencarian saya terlalu melebar hingga lupa bahwa yang dekat-dekat belum dicoba. Juga, mungkin tersebab saya belum mengenal cakwe, maka bukan tidak mungkin saya seharusnya bisa menemukan cakwe, namun melewatkannya begitu saja.

Saya pikir, kasus ini pun begitu. Kita pun sering begitu, sepertinya. Selain kurangnya memahami dengan baik, agaknya kita keseringan memakai teropong. Sehingga ketika dihadapkan pada suatu masalah, arah pandangan kita suka melihat yang besar-besar, yang jauh-jauh. Lupa bahwa mungkin sebenarnya penyebab permasalahan itu adalah sebuah titik yang lebih kecil, lebih dekat – yang kemudian terkoneksi dengan sebab-sebab lain membentuk sekumpulan sebab yang lebih besar dan kompleks.

Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak agaknya bukan hanya menyoal aib diri sendiri dan orang lain saja, ya.

*sumber gambar: di sini

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s