salad days

Tinggalkan Apa yang Meragukanmu

Postingan kali ini merupakan kelanjutan postingan sebelumnya yang berjudul Ya, Saya Seorang Muslim 🙂

(C: Prof. Chen, Y: Yi Hua, S: Saya, T1: teman lab 1, T2: teman lab 2)

#6

(Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi laboratorium di kampus sebelah, National Taiwan University/NTU)

C: Septia, kamu yakin kamu baik-baik saja dengan pakaianmu? Kamu tidak kegerahan memakai scarf (=kerudung)? Panas sekali di luar sini.

S: Iya, Prof. Saya tidak apa-apa. Sudah biasa sebenarnya. Di Indonesia lebih panas dari ini.

C: Oya? Berapa suhu rata-rata di sana?

S: Di Surabaya, suhu rata-rata siang harinya adalah 32ºC, tapi terasa seperti 34 bahkan kadang-kadang 36ºC.

C: Wow, itu panas sekali!

S: Iya *tertawa* jadi Anda tidak usah khawatir.

 

#7

(Masih dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi laboratorium di kampus sebelah, National Taiwan University/NTU)

C: Setahu saya ada tempat peribadatan untuk Muslim di Taipei sini. Kamu tahu?

S: Ah ya, saya diberitahu teman saya, ada Taipei Grand Mosque, tapi saya belum pernah ke sana.

C: Kamu belum pernah ke sana? Apakah kamu tidak sembahyang?

S: Bukan, bukan begitu Prof. Saya bisa beribadah di dalam kamar asrama. Perempuan muslim boleh beribadah di dalam rumah mereka. Sedangkan untuk laki-laki, sebaiknya ke masjid.

C: Ooh, begitu.

#8

(Masih dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi laboratorium di kampus sebelah, National Taiwan University/NTU)

C: Septia, kalian orang muslim tidak boleh makan makanan tertentu ya? Seperti daging babi?

S: Iya, Prof. Kami tidak boleh makan daging babi, juga berbagai jenis olahannya. Minyak, atau yang lain. Tidak boleh ada unsur babi.

C: Berarti kalian bisa makan daging sapi, ayam, atau kambing?

S: Bisa, Prof. Asalkan hewan-hewan tersebut disembelih dengan cara Islam.

C: Seperti apa cara Islam itu?

S: Hewan-hewan itu harus disembelih oleh muslim, dengan menyebut basmallah.

C: Apa itu basmallah?

S: Artinya, dengan nama Allah.

C: Apakah semua hewan harus diperlakukan seperti itu?

S: Tidak, Prof. Ikan yang berasal dari laut tidak perlu disembelih. Tapi ayam, sapi, kambing, burung, harus disembelih dengan cara islam agar kami, orang muslim bisa mengkonsumsinya.

C: Jadi kamu tidak bisa sembarangan memakan daging di sini?

S: Iya, Prof. Saya harus lebih berhati-hati.

C: Wah, repot juga ya. Lab kita biasanya mengadakan acara kumpul-kumpul sambil makan bersama, kira-kira bagaimana denganmu nanti?

S: Kalau professor berkenan, saya bisa ikut, tapi saya mohon maaf jika saya tidak ikut makan.

C: Oh, begitu. Ya ya, tidak masalah. Berarti selama di sini kamu menjadi vegetarian, ya? Hanya bisa makan sayur-sayuran.

S: Hehe, kurang lebih begitu. Dan ikan. Saya bisa membeli ikan segar dan memasaknya sendiri.

C: Hmm.. Ya ya. Tapi kamu tahu, Septia? Beberapa orang di sini, tidak memakan daging sapi. Terutama petani.

S: Kenapa begitu, Prof?

C: Karena mereka bekerja bersama sapi. Bukan tidak boleh, sebenarnya. Hanya saja ada semacam pantangan begitu. Pembawa sial.

S: Waah.. Apakah semua orang Taiwan seperti itu?

C: Hahaha, tidak.. Saya tidak. Hanya sebagian saja. Anak-anak lab, misalnya. Pantang memakan daging sapi karena mereka percaya bisa membawa sial. Mungkin penelitiannya gagal, ujiannya gagal, atau sesuatu menjadi sulit.

S: Apa Yi Hua juga tidak makan daging sapi?

Y: (tertawa malu) Iya, Septia. Saya tidak makan daging sapi.

#9

(Kamis sore, dua orang teman lab yang belum saya ingat namanya menghampiri saya membawa piring kertas kecil berisi empat potong kue)

T1: Septia, saya ada kue buat kamu. Kamu suka kue?

S: Ah ya, terima kasih. Kue apa ini?

T1: Ini kue bulan. Kami baru saja kembali dari Festival Bulan.

S: Wah, terima kasiih..

T2: Ayo dicoba! Ini enak sekali.

S: Ah iya, saya akan mencobanya nanti.

T2: Kenapa harus nanti? Ayo, sekarang. Saya ingin tahu pendapatmu.

S: (mulai bingung) Err maaf, saya sedang tidak boleh makan sekarang. Saya akan mencobanya nanti setelah jam enam sore.

T2: Kamu tidak makan? Kenapa? Kamu sedang dalam diet?

S: Tidak, saya sedang berpuasa.

T2: Puasa?

S: Ya, artinya saya tidak boleh makan dan minum. Saya akan kembali makan dan minum nanti setelah jam enam.

T2: Apakah kamu melakukan ini karena kamu seorang muslim?

S: Iya. Maaf, saya tidak bisa makan sekarang.

T1: Oh, begitu. Oke, kami tidak akan memaksamu. Tapi pastikan kamu mencobanya ya! Ini enak!

S: Iya 🙂

Akhirnya empat potong kue tersebut saya bawa pulang ke asrama. Namun karena saya tidak tahu kue-kue itu dibuat dengan bahan apa saja, atau bagaimana proses pembuatannya, saya urung mencobanya. Saya belajar, mungkin di antara pesan Rasulullah terhadap umatnya, salah satu yang terpenting untuk selalu diingat selama di sini adalah,

Tinggalkan apa yang meragukanmu.

Ciao! 🙂

CIMG1880

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

*sumber gambar: koleksi pribadi

Iklan

3 thoughts on “Tinggalkan Apa yang Meragukanmu

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s