salad days

Ya, Saya Seorang Muslim

Lama tidak berkunjung, postingan terakhir saya masih bercerita tentang bulan pertama bekerja di Jakarta, sekarang sudah mau bercerita tentang pengalaman saya selama di Taiwan. Lima bulan. Jelas bukan rentang yang singkat untuk berbagai perubahan.

Maka saya akan meringkas apa-apa yang terjadi dalam lima bulan terakhir ke dalam satu paragraf singkat saja. Mei. Ketika sedang asyik-masyuk dengan pekerjaan baru sebagai editor di Jakarta, saya diberitahu melalui email bahwa saya mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan program Master di Taiwan. Beberapa minggu gegalauan. Juni. Saya resign. Juli. Mempersiapkan hati. Agustus. Pamitan ke keluarga. September. Waktunya berangkat. Dan di sinilah saya duduk manis sekarang, di salah satu meja dalam ruang 809 Semiconductor Characterization Laboratory, EE Building (Electrical and Electronics Engineering).

Sebelum menginjakkan kaki di Taiwan, saya sudah memutuskan untuk bergabung dengan research group di bawah bimbingan Prof. Ruei-San Chen, yang bidang penelitiannya adalah tentang electrical and optical properties of nanotechnology. Tidak seperti kebanyakan professor lain di sini yang sudah pernah mengasuh mahasiswa internasional, sayalah mahasiswa internasional pertama yang dibimbing oleh Prof. Chen. Dari sinilah cerita saya dimulai.

Karena saya mahasiswa internasional sekaligus mahasiswa muslim pertama yang beliau bimbing, tentu saja Prof. Chen dan rekan lab belum mengenal sama sekali tentang Islam. Dialog-dialog berikut terjadi hanya dalam dua hari pertama ketika saya diajak berkeliling lab oleh Prof. Chen dan Yi Hua (rekan lab). Bisa dibilang ini adalah dialog-dialog legendaris yang biasanya muslim terima ketika mereka merantau ke negeri bukan mayoritas muslim. Dan akhirnya, saya dapat kesempatan juga merasakannya, tidak hanya sekadar membaca dari buku 😀

(C: Prof. Chen, Y: Yi Hua, S: Saya, E: mahasiswa Elektro, M: Bang Mula)

#1
(Di luar ruangan, dalam perjalanan menuju lab)

C: Kamu tidak apa-apa memakai baju sepanjang itu di cuaca sepanas ini?
S: Iya, Prof. Saya sudah biasa kok berpakaian seperti ini.
C: Apa semua orang Indonesia berpakaian seperti kamu?
S: Tidak, Prof. Ini bukan budaya Indonesia, tapi karena saya Muslim.
C: Jadi kamu seorang Muslim?
S: Iya.
Y: Kalau boleh tahu, apa agamamu?
S: Islam.
Y: Apa semua orang Islam harus berpakaian serba tertutup?
S: Iya, mereka harus menutup auratnya.
Y: Aurat?
S: Iya, bagian tubuh yang harus ditutupi. Untuk perempuan muslim, seluruh tubuhnya.
Y: Karena itu kamu memakai penutup kepala?
S: Iya.
Y: Untuk apa?
S: Agar lebih mudah dikenali, dan supaya tidak diganggu.
Y: Wow…

#2
(Saat sedang mengantri di depan pintu lift)

Y: Apakah kalian juga sembahyang (=pray)?
S: Ya, lima kali sehari.
Y: Wow, lima kali? Di waktu-waktu tertentu?
S: Iya.
Y: Kapan saja itu?
S: Pertama, sekitar pukul empat pagi.
Y: Empat pagi? Kalian harus bangun jam empat pagi? Wow.
S: Iya. Kedua, sekarang, sekitar jam dua belas siang. Ketiga, sore sekitar jam tiga. Keempat, jam enam sore. Kelima, jam tujuh malam.
Y: Wow. Apakah kalian melakukannya di tempat tertentu? Seperti kuil.
S: Kami punya rumah ibadah, masjid namanya. Di Taipei, ada Taipei Grand Mosque, tapi saya belum pernah ke sana. Tapi kami bisa beribadah (=pray) di mana saja, asalkan tempatnya bersih.
Y: Di mana saja itu di mana? Apakah harus melihat langit?
S: (tertawa dalam hati) Tidak, tidak harus melihat langit. Asal tempatnya bersih, itu cukup.
Y: Bagaimana kamu akan beribadah nanti kalau di lab?
S: Saya akan mencari tempat.

Ternyata, ketika kami mengobrol, ada seorang mahasiswa (senior) Indonesia tepat di belakang saya. Ketika kami sudah berada di dalam lift, saya ditegurnya.

E: Dari Indonesia?
S: Iya.
E: Oh, saya juga orang Indonesia. Jurusan apa?
S: Applied science. Masnya?
E: Saya elektro.
S: Wah…
E: Sholatnya harus ngeliat langit ya?
*ketawa bareng* 😆 😆 😆

#3
(Di lab, saat meja saya selesai disiapkan)

C: Septia, di sini mejamu. Di sebelah Mula. Mula, kamu dari Indonesia juga kan?
M: Iya Prof.
C: Kamu muslim juga seperti Septia?
M: Tidak Prof. Saya Kristen.
C: Tidak apa-apa jika meja ini ditempati Septia?
M: Tidak apa-apa Prof.
C: Apa harus saya kasih sekat?
M: Hah? Tidak usah prof.
C: Oh, soalnya setau saya muslim dan Kristen ada kecenderungan untuk konflik.
S: (dalam hati) Ya Allah…

#4
(Di salah satu lab yang isinya furnace-furnace dan semuanya dalam keadaan menyala, jadi panas banget)

C: (menjelaskan furnace dan berbagai alat di sana yang fungsinya adalah untuk menumbuhkan kristal) Ah ya, maaf di sini tidak nyaman, panas sekali soalnya sedang digunakan. Ayo kita segera keluar. Baru sebentar saja keringat saya sudah segini banyak. Apalagi kamu ya, yang memakai scarf (maksudnya kerudung) begitu.
S: (tersenyum saja)

#5
(Di lab, setelah pengenalan lab selesai)

C: Septia, kata Yi Hua kamu harus beribadah lima kali sehari, apa benar?
S: Iya, Prof.
C: Kira-kira berapa lama waktu ibadahmu?
S: Sekitar sepuluh sampai lima belas menit setiap kalinya, Prof.
C: Apa nanti itu tidak akan mengganggu kerja lab-mu?
S: InsyaAllah nggak, Prof. Saya akan mengatur waktu saya sendiri.
C: Bagaimana itu?
S: Yah, mungkin dengan datang lebih awal dan pulang lebih akhir.
C: Oh, begitu. Yah, baguslah kalau begitu.

Panjang ternyata. Jadi segini dulu aja ya. Sebenarnya masih ada lagi obrolan terkait makanan halal, puasa, juga pakaian, tapi saya ceritakan di sesi berikutnya saja ya, insyaAllah 😉

Ah, baru dua hari kami berkenalan, tapi sudah sebegini penasarannya mereka. Karenanya saya hanya berdoa, semoga apa-apa yang saya sampaikan tidak menyesatkan, dan saya mampu menyampaikannya dengan cara yang baik. Aamiin.

CIMG1890

(lafal Allah di Museum Tsunami, Banda Aceh)

*sumber gambar: koleksi pribadi

Iklan

One thought on “Ya, Saya Seorang Muslim

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s