salad days

Dari Mana Datangnya

Dari mana datangnya keyakinan?

Sampai minggu kedua bulan April, saya masih sibuk mengurus aplikasi pendaftaran di tiga universitas berbeda. Satu, yang sudah selesai, yaitu NTUST di Taiwan. Dua dan tiga, yang saat itu masih dalam proses, adalah ITS dan ITB. Memasuki minggu ketiga, berbagai peristiwa terjadi beruntun dengan cepat. Mas Deny, dosen penghuni Lab Robotika memberi tau saya tentang adanya lowongan kerja sebagai Copy Editor di Jakarta. Tertarik, saya mencobanya. Seminggu kemudian, saya sudah berada di megapolitan Indonesia untuk mengikuti proses seleksi (tes tertulis dan wawancara).

April hari ketujuh belas, saya dinyatakan diterima per tanggal 1 Mei 2014. Itu artinya, dalam waktu kurang dari dua minggu saya harus kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan semua urusan di Surabaya.

Singkat cerita, saya segera berkemas. Menghentikan proses pendaftaran di ITS, ITB, juga tidak melanjutkan proses-proses pengajuan beasiswa (LPDP). Ketika saya ditanya, kamu yakin (mau bekerja)? Saya jawab, ya, saya yakin. Ketika ditanya lagi, tidak jadi melanjutkan S2? Saya jawab, tidak, mungkin, ditunda dulu.

Sampai kemarin, saya masih penasaran dari mana datangnya kemantapan sebesar ini. Saya khawatir ini hanya menjadi pelampiasan saya setelah berbulan-bulan melamar ke sana-sini dan hasilnya nihil. Saya khawatir ini hanya menjadi perasaan hangat-hangat tahi ayam yang sebentar juga hilang. Kalau seperti itu, waduh, bahaya.

Sampai kemarin, saya masih penasaran dari mana datangnya kemantapan sebesar ini. Kemantapan dalam memuseumkan semua berkas aplikasi lantas menggeret koper ke ibukota. Kemantapan dalam memilih jalan yang satu dan menyisihkan jalan yang lain.

Sampai kemarin, saya masih penasaran dari mana datangnya kemantapan sebesar ini. Ini passion saya? Bukan. Saya masih belum bisa membedakan kesenangan, hobi, passion, juga cita-cita. Jadi, masih entah. Saya pun menempuh jalan ini dengan hanya bermodalkan “dicoba saja dulu”, “dijalani saja dulu”, “diusahakan saja dulu”.

Orangtua? Ya, tentu saja saya sudah berkonsultasi dan melaporkan segala sesuatunya kepada ayah dan ibu saya. Dan mereka, benar-benar membebaskan saya. “Ini hidupmu, Ya. Apa-apa ya harus kamu putuskan sendiri. Apa-apa harus kamu pertanggungjawabkan sendiri. Kan kamu yang menjalani, bukan romo atau ibu. Udah besar kok. Pilih sendiri jalanmu. Romo sama ibu cuma mendukung.”

Respon saya? Awalnya, saya kesal. Serius. Saya merasa butuh jawaban: mana yang harus saya pilih. Yah, meskipun dalam hati saya sudah tau ingin memilih yang mana. Saya hanya ingin tau keinginan mereka. Apakah mereka lebih suka ini, atau lebih suka itu. Setiap anak butuh ridho orangtua mereka, tidak terkecuali saya. Dan orangtua saya, yah, tidak pernah condong ke mana-mana.

Saya merasa…sendirian.

Ketika sedang sibuk-sibuknya mengurus pendafaran S2, saya disemangati habis-habisan. Ketika diterima kerja, saya dikuatkan, habis-habisan juga. Ketidakcondongan orangtua saya yang sebegitu kukuh akhirnya memaksa saya untuk memilih dan mempertahankan pilihan tersebut.

Saya akan bekerja.

Dan setelahnya, saya hanya melapor saja, tidak lagi bertanya saya harus seperti apa. Mereka benar. Jawaban, harus saya sendiri yang menemukan. Pilihan, harus saya sendiri yang menentukan.

Pada tanggal 24 April dan 1 Mei, saya mendapat dua email dari dua Profesor berbeda di Taiwan, menawarkan kesediaan saya untuk bergabung dalam research group mereka. Bahkan, dengan rekomendasi dan jaminan full beasiswa. Tapi saya…tidak goyah. Saya hanya merasa sayang ada kesempatan yang harus saya lewatkan. Selebihnya, tidak ada. Tidak ada penyesalan, tidak ada kebingungan.

Saya semakin penasaran, dari mana datangnya keyakinan sekuat ini.

Seorang teman yang mengetahui perihal ini menyarankan saya untuk sholat istikhoroh, yang sampai sekarang belum saya laksanakan. Kenapa? Sederhana: karena saya tidak dilema. Selama dua puluh tiga tahun kehidupan saya, baru satu kali saya melaksanakan sholat istikhoroh: lima tahun lalu. Dan dari sanalah saya yakin, sholat istikhoroh hanya akan memperkuat keyakinan saya. Dalam kebingungan serumit apa pun, kita sebenarnya tau apa yang ingin, harus, dan akan kita pilih, namun kita – mungkin – belum yakin. Dengan istikhoroh, kita memohon diberi keyakinan.

Sekarang, saya sudah tidak mempertanyakan lagi dari mana datangnya. Saya yakin, itu cukup. Cukup sebagai modal keberanian dalam menjalani kehidupan yang serba baru ini. Cukup sebagai peneguh ketika saya hampir jatuh. Tentang alasan dan tujuan, pasti akan saya pahami, meski bukan sekarang.

Hidup ini, saya yakin, adalah akumulasi dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Karenanya, ketika dihadapkan pada pilihan, beranilah memilih apa yang paling kita yakini. Rasulullah mengajarkan, tinggalkan apa yang meragukanmu. Mantap itu harus. Keyakinan itu penting sebagai sumber kekuatan. Kekuatan untuk bertahan pada pilihan juga untuk survive pada berbagai keadaan. Perihal kesempatan, mungkin memang benar kesempatan yang sama tidak akan datang untuk kali kedua. Tapi, bukan berarti selesai. Masih ada dan akan selalu ada peluang-peluang lain di masa mendatang yang jika diusahakan, akan menjadi kesempatan kita berikutnya. Apalagi Tuhan kan, Maha Kaya. Kita tinggal percaya. Kita tinggal berusaha 🙂

Beranilah mencoba. Jika mati bisa dicoba, MAKA COBALAH. Karena dengan mencobalah kita akan tau, dan menemukan pengalaman. — Gatot Suarman

Terakhir, di antara bermacam semoga, ada semoga ini keputusan yang tepat di salah satunya.

Benarkah Tuhan memberi apa yang kita butuhkan dan bukan memberi apa yang kita inginkan? Tidak, Tuhan memberi keduanya: apa yang kita butuhkan juga apa yang kita inginkan. Keinginan itu datangnya dari mana? Dari Tuhan. Jadi tidak mungkin Tuhan menanamkan keinginan tanpa memberikan kualitas untuk mencapainya. Tidak mungkin Tuhan menanamkan cita-cita pada seseorang untuk menjadi presiden tanpa memberikan ia kualitas sebagai presiden. — Mario Teguh

Semoga keyakinan ini, benar dari Tuhan datangnya…

Aamiin.

*sumber gambar : di sini

4 thoughts on “Dari Mana Datangnya

  1. Percaya atau nggak sep sebenarnya tiap ada pilihan kita udah tau jawababnya cuman seringnya kabut “bagaimana kalau” menghadang (aku juga pernah kayak septi, sampe galau macam anak smp diputus cinta) aish rasanya itu yaa … betewe bu editor apa kabar di jakarta? Kerjanya enak?

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s