senandika

Pantai, Kesiapan, dan Tapal Batas Perasaan

Kemarin, saya mengunjungi Pantai Lombang di Sumenep, Pulau Madura.

Sebentar, tulisan ini tidak akan mendeskripsikan Pantai Lombang atau merekomendasikan siapa saja untuk ke sana. Jadi silakan dipertimbangkan sebelum membaca lebih jauh, karena tulisan ini akan berfokus pada opini saya tentang pantai dan analogi-analogi menarik yang saya temui ketika berkunjung ke sana.

Tadi saya bilang menarik, ya? Ya, tentu saja menariknya adalah menarik menurut saya.

Saya selalu menyukai pantai. Pantai, seperti halnya puisi, memiliki suatu daya tarik yang membebaskan. Jika puisi membebaskan pikiran untuk berimajinasi, pantai akan membebaskan perasaan. Karena itu ketika melihat laut yang seakan tak ada batasnya, syahdan ada sesuatu yang rasanya terlepas. Entah berlari, entah terbang, entah berenang. Sejauh-jauhnya.

Pertemuan ombak dengan pantai, membuat saya menjadi anak kecil lagi. Saya senang berlari di tepi pantai hingga buih air asin terciprat ke mana-mana. Serius. Rasanya menyenangkan. Saya berlari, berlari, hingga tak berapa lama, rasanya tak menyenangkan lagi.

Saya pikir sebabnya adalah karena saya telah kehilangan sebagian besar jiwa kanak-kanak saya. Sudah bukan saatnya main-main lagi, begitu. Orang dewasa agak sulit dipuaskan dengan kehidupan yang begitu-begitu saja. Mereka memerlukan tantangan untuk ditaklukkan. Masalah untuk dihadapi. Bukan rutinitas yang monoton. Tidak cukup cuma lari-lari saja. Menjajaki aktivitas yang lebih serius merupakan kebutuhan, bukan sekedar keharusan: entah itu surfing, menjaring ikan, atau bertualang menaklukkan samudera. Pikiran-pikiran ini kemudian mengingatkan saya pada sesuatu: ah, mungkin dalam hubungan lawan jenis pun begitu.

Pacaran, lantas saya analogikan dengan berlari atau berjalan di tepi pantai. Jauh lebih menyenangkan dibanding berjalan di jalanan biasa, bukan? Ya. Dan lebih membutuhkan tenaga karena ada pengaruh gaya gesek dan gaya tarik air laut. Singkatnya, pacaran itu lebih menyenangkan sekaligus lebih berat dibanding hidup sendirian. Hayo yang pernah atau sedang pacaran, bener nggak?

Tapi, pacaran tetaplah pacaran. Mau dikatakan seserius apa pun, pacaran tetaplah main-main. Ia jalan yang ditempuh orang-orang yang belum siap (untuk menikah) namun ingin mengikat secara emosional dan tidak ingin kehilangan. Karena statusnya yang masih main-main itulah, pada suatu titik, kita akan merasa ini tak menyenangkan lagi.

Bagi orang-orang yang hampir siap, seperti saya, akan lumrah dan memang sudah seharusnya berpikir: bukan saatnya pacaran-pacaran lagi. Bukan melulu masalah kebosanan sebenarnya, namun kebutuhan. Sudah cukup lari-lari di tepi pantainya. Pilihan selanjutnya ada dua: pergi ke tengah laut atau menjauh dari tepian. Segera berlayar. Atau menunggu.

Adalah normal merasa bosan di tepian saja dan ingin semakin ke tengah laut, namun untuk ke sana tidak bisa tanpa peralatan apa-apa. Tidak boleh tanpa persiapan apa-apa. Kita akan membutuhkan keahlian dan sarana. Atau dengan kata lain: kesiapan. Dalam hal ini, tentu saja kesiapan fisik, psikis, ilmu, dan materi. Dan pernikahan adalah jalannya. Tak ada lagi main-main di sana. Mungkin karena itulah terdapat frasa bahtera rumah tangga. Kesiapan yang maha. Petualangan yang sesungguhnya.

Bagi kita wanita yang menunggu, menepilah. Duduklah dengan damai. Di pantai yang lain, pasti ada manusia-manusia berkromosom Y yang sedang membangun bahteranya. Nantikan saja kapten-kapten perkasa yang akan datang menawarkan perahu, kapal boat, pesiar, atau bahkan kapal selamnya. Benar bahwa cowok menang milih, cewek menang nolak**. Sudah sejak zaman diciptakannya manusia ada aturan seperti itu. Jadi, kita persiapkan saja segala perbekalannya. Sehingga ketika mereka datang dan kita memutuskan untuk ikut, kita telah siap dengan segala sesuatunya.

Menuju perwujudan cinta yang seharusnya. Perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Saat ini, saya sedang menjauh dari tepian. Duduk manis menatap laut dan tapal batasnya. Dan ketika sedang memandang horizon itulah, datang satu analogi lagi yang membuat saya seketika mengiyakan: bumi ini bulat. Tapal batas yang saya lihat membentuk seper-berapa-bagian lingkaran. Segala yang bulat seperti bola, atau berbentuk lingkaran seperti roda, akan mudah menggelinding. Itulah mengapa ada pepatah: hidup ini seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Padahal hati, yang bentuknya tidak bulat seperti bola atau lingkaran seperti roda, sudah sebegini mudahnya terombang-ambing. Seandainya hati diciptakan lebih bulat dari ini, akankah ia semakin mudah berganti?

Ah, sesungguhnya ada Ia Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Dan Ia Yang Maha Membolak-balikkan hati telah membatasi manusia bahkan dari hatinya sendiri.

โ€œKetahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.โ€ Q.S. Al Anfaal: 24

Dari perasaannya sendiri.

Lihat, sudah gampang dibolak-balik, dibatasi lagi. Mau menyombongkan apa lagi? Bisa menyombongkan apa lagi?

ย CIMG2084

*draft tulisan ini saya tulis di Pantai Lombang dan berlanjut hingga dalam perjalanan pulang. Senang sekali rasanya punya aplikasi buat nulis di mana saja, nggak harus bawa pulpen dan notes lagi :mrgreen:

**kalimat cowok menang milih, cewek menang nolak ini saya ambil dari tulisan berjudul Untuk Kaum Hawa di sini: http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/69909721420/repost-catatan-untuk-kaum-hawa. Tulisan yang sangat bagus, silakan dibaca juga ๐Ÿ˜‰

ย ***sumber gambar: koleksi pribadi

2 thoughts on “Pantai, Kesiapan, dan Tapal Batas Perasaan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s