senandika

Danau, Perasaan, dan Alasan-alasan

Beberapa orang bertanya, bahkan ibu saya: apa sih yang saya lakukan di danau?

Sederhana saja. Satu-satunya alasan sebenarnya adalah mencari kesejukan. Alasan lain seperti membaca, berpikir, atau yang lebih puitis, membunuh waktu, hanya sambil saja. Sebagian mengatakan saya menggalau. Boleh juga. Toh implikasi utama dari kegiatan yang nyaris-menjadi-rutinitas saya ini adalah perenungan.

Biasanya, saya ke danau pada saat-saat tersumuk di Surabaya: sehabis zuhur lalu pulang sekitar asar atau sehabis asar lalu pulang menjelang magrib. Bekal wajib paling-paling cuma botol minum; kalau ponsel atau buku memang selalu tersedia dalam tas. Kadang-kadang, kalau lagi niat banget pengen mikir, saya akan sengaja membawa buku antologi (kumpulan) puisi. Membaca satu-dua kalimat puisi bakal sukses bikin saya mikir lima-sepuluh menit. Serius.

Tulisan ini akan berfokus pada alasan-alasan. Alasan mengapa saya begitu menikmati kegiatan ini mungkin adalah diri saya sendiri. Kepribadian yang saya miliki mengijinkan saya merasa jauh lebih nyaman berada dalam kesendirian dibanding berkumpul dengan orang-orang. Bukan berarti saya merasa tidak perlu bersosialisasi, hanya saja saya merasa perlu – dan seringkali harus, menyajikan tumbal sebagai ganti waktu yang saya habiskan bersama teman-teman.

Alasan berikutnya tentang mengapa saya suka merenung bahkan menyediakan waktu khusus untuk itu adalah, lagi-lagi, diri saya sendiri. Saya merasa butuh waktu untuk mendengar dan memahami. Yang dipikirin apa? Ya, apa aja. Karena alasan yang sama lah saya tidak pernah memakai earphone untuk mendengarkan musik sambil membaca, di sana, meskipun dua hal itu menjadi hobi saya biasanya. Suara-suara di sana terlalu polos dan indah untuk dilewatkan: kicau burung, gemerisik angin pada daun, kecipak air, obrolan angsa, bahkan roda-roda tergesa yang melambat karena terpaksa.

Selain itu, saya suka belajar merangkai kata-kata. Jika sedang iseng, akan saya post di twitter. Jika lebih terstruktur, akan saya jadikan tulisan di blog. Ah tapi, jangan lah membandingkan tulisan saya dengan yang lain-lain. Saya suka belajar merangkai kata karena rangkaian kata saya belum bagus dan sangat biasa-biasa saja. Inginnya sih seindah dan sebermakna tulisan Mas Gun, blogger favorit saya. Hehe. Tapi belum, hingga jadinya paling sering ya hanya menjadi tambahan lembar-lembar buku harian saja, mungkin karena isinya cecurhatan yang terlalu acak-acakan, jujur, dan pribadi. :p

Terhadap sangkaan teman-teman bahwa saya ke sana karena sedang galau, saya mungkin perlu menyanggahnya: saya tidak selalu galau, pada beberapa kesempatan :p

Galau, secara psikis merupakan suatu kondisi intuitif di mana kemampuan hati merasakan banyak hal dan bisa terprogram pada otak kanan, namun otak kiri belum bisa mendeskripsikan dan mencari/menemukan solusinya secara rasional serta tepat pada waktu, tempat, dan kondisi proporsional.

Berdasarkan definisi tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa saya tidak selalu galau, terutama dalam definisi yang lazim berkembang sekarang. Jarang, malah. Justru saya datang ke danau untuk memperjelas apa-apa yang galau. Perihal yang tidak jelas. Pertanyaan yang belum terjawab. Sebagian besar adalah soal perasaan. Ah, jangan mempersempit pemikiran dengan menduga kalau perasaan itu sudah pasti cinta, hubungan lawan jenis, dan lain sebagainya. Meskipun saya tidak menafikan bahwa terkadang saya memikirkan masalah itu-itu juga. :p

Galau yang baik adalah galau yang terselesaikan. Itulah mengapa saya menyebut galau itu menyenangkan. Sesuai definisi di atas dan seperti yang saya yakini, galau merupakan kondisi psikis. Artinya, diri kita sendiri yang memerintah berdasar respon terhadap kondisi sekitar. Galau merupakan hal yang wajar, menurut saya. Bukankah wajar menemui sesuatu yang belum terdefinisikan dengan baik? Adalah fitrah manusia juga untuk selalu berusaha mencari jawaban tersebab keingintahuannya. Justru aneh jika kita kehilangan semangat untuk mencari tahu. Maka, adalah wajar pula menjadi galau. Lagi-lagi, dalam tanda kutip.

Nabi Ibrahim saja juga pernah galau kok. Saat bertanya tentang bintang, bulan, dan matahari. Lalu beliau menemukan Tuhan. Tidak selamanya galau itu buruk, sebenarnya. Meski beberapa kalimat terakhir ini memiliki syarat yang tidak sederhana dan pemenuhan kondisi yang agak rumit, sih. Lah? Hehe.. Sayangnya, sekarang ini frasa tersebut sudah dicondongkan ke arah yang, menurut saya, remeh sekali: galau karena hubungan lawan jenis. (Agak malas juga menyebutnya cinta karena khawatir akan menodai esensi dan eksistensi cinta itu sendiri :p)

Jadi, jika sedang galau, berpikirlah. Temukan solusi yang proporsional itu. Lalu, bertindaklah. Selesaikan. Itulah satu-satunya jalan untuk memberdayakan kegalauan yang mampir menyentil hati kita. Itulah, mungkin, salah satu cara menyulap wajah galau kita menjadi sesuatu yang menyenangkan: tantangan untuk diselesaikan. Ah saya terdengar sok sekali ya. Tapi memang begitulah yang saya lakukan, percaya tidak percaya. Entah bagaimana, saya menemukan jawaban. Dan karenanya, saya tidak pernah pulang dari danau dengan perasaan lebih kacau dibanding ketika saya datang ke sana.

Singkatnya, di danau, saya memperoleh kesejukan.

Juga, kedamaian.

Ini serius, meskipun terdengar agak lebay.

Terhadap pertanyaan terakhir tentang mengapa harus danau, tidak perpustakaan, kafe baca, taman kampus, atau sungai depan kosan (?), mungkin satu-satunya jawaban adalah:

karena danau romantis.

Apalagi sekarang, sedang musim semi.

🙂

*setelah buka-buka folder gambar di ponsel juga kamera digital yang saya punya, ternyata saya tidak punya foto Danau Kampus C UNAIR, padahal puluhan kali dalam setahun saya ke sana 😆 Akhirnya, gambar di atas saya comot dari sini. Itu potret danau yang lama, sekarang ini danau sudah banyak berubah: lebih banyak pohon di tepi danau, ada taman herba di sudut depan, dll. Ayo, ingin ke sana bersama saya? 😉

5 thoughts on “Danau, Perasaan, dan Alasan-alasan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s