senandika

Titik Balik

“Di mana ada harapan, di situ ada cobaan,” kata Murakami (1Q84 #3).

Karena di mana ada harapan, di situ ada doa. Di mana ada doa, sudah seharusnya ada usaha. Dan di mana ada usaha, di situ pula ada cobaan.

Saya bersyukur saya hidup pada masa di mana sebagian besar hukum-hukum fisika telah terdefinisi dengan baik.

Hukum pertama Newton. Jika saya tidak berjalan ke mana-mana, saya akan di situ-situ saja. Sebuah kalimat yang bisa diucapkan oleh murid taman kanak-kanak mana pun. Jika saya tidak mengusahakan apa-apa, maka apa yang akan saya dapatkan?

Hukum kedua Newton. Apa-apa yang saya dapatkan, besarnya akan sebanding dengan usaha yang saya lakukan. Berharap, berdoa, bercita-cita, berarti siap berusaha. Tuhan sendiri yang bilang, bahwa nasib seseorang (suatu kaum) tidak akan berubah sampai orang (kaum) itu sendiri yang mengubahnya. Saya bisa saja meminta kepada Tuhan – diterima atau tidak, itu urusanNya – tapi jika bukan saya sendiri yang mengusahakan, siapa lagi?

Hukum ketiga Newton. Jika saya telah memutuskan untuk berjalan, saya akan menemui berbagai hal di depan. Kerikil tajam, yang dengan tidak sengaja saya injak dan melukai saya. Koin logam, yang menarik perhatian dan menghentikan sejenak perjalanan saya. Seseorang, yang hanya akan sekilas berpapasan atau memutuskan untuk menjadi teman seperjalanan. Hujan badai, pasar malam, kelelahan. Apa pun. Siapa pun. Sesuatu yang baik, juga buruk. Orang-orang yang akan menghambat, memperlambat, meringankan, atau memelencengkan perjalanan saya. Apa pun. Siapa pun. Sesuatu yang membuat saya tersadar. Seseorang yang membuat saya belajar. Segala hal yang mungkin akan dapat saya pahami saat itu juga, sepuluh jam, atau sepuluh purnama setelahnya. Segala hal yang akan membentuk seperti apa rupa saya di akhir perjalanan.

Memutuskan untuk tetap tinggal atau beranjak dari zona nyaman, hidup akan menyajikan masalah berbeda yang semakin lama semakin berat. Saya boleh jadi stagnan atau bergerak konstan, tapi dunia tidak demikian.

Setelah memilih, (salah satu) tugas selanjutnya adalah meremajakan pilihan tersebut. Tidak membiarkannya menua, atau mati di usia belia.

“Tidak mengerti kalau tidak dijelaskan, maka tidak akan mengerti walau dijelaskan (sebanyak apa pun),” kata Murakami lagi (1Q84 #1, #2).

Tentang alasan-alasan. Tentang penyesalan-penyesalan. Saya pikir hanya saya yang mengerti. Namun Tuhan lebih Mengetahui.

Tentang judul. “Titik balik” tidak berarti apa-apa bagi saya. Sayalah yang harus mengartikannya.

Dan tulisan ini, solilokui lagi.

*sumber gambar (The Thinker, Auguste Rodin) : di sini

6 thoughts on “Titik Balik

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s