senandika

Saya Berpikir Tentang Saya

Kadang saya berpikir, harusnya saya ini bagaimana?

Selama ini saya terbiasa menjadi seseorang yang pendiam dan tertutup. Saya menyadarinya bukan semata karena orang-orang di sekitar saya berkata begitu, namun karena memang saya yang menjadikannya seperti itu. Saya sengaja menutup diri dan saya sengaja tidak banyak berbicara. Awalnya, ah sebenarnya sampai saat ini, saya senang dengan diri saya yang seperti ini. Saya nyaman. Hingga akhirnya menjadi terbiasa.

Tapi akhir-akhir ini, entah kenapa saya terusik dengan saya yang seperti ini. Bukan sekedar entah kenapa sebenarnya, saya tahu betul peristiwa-peristiwa yang membuat saya memikirkan hal ini. Lagi, sebenarnya, kepribadian saya yang introvert juga memiliki hubungan kausalitas erat dengan pendiam dan tertutupnya saya. Ketika melamar pekerjaan, misalnya, sudah jelas posisi Sales dan Marketing bukan tempat bagi seorang introvert seperti saya. Juga beberapa hal yang terjadi di sekitar saya yang sedikit banyak membuat saya semakin sering berpikir tentang ini beberapa hari belakangan.

Saya jadi berpikir, harusnya saya ini bagaimana? Berusaha menjadi seorang yang lebih terbuka, antusias terhadap sekitar, dan ekspresif?

Terbuka. Apa lagi yang harus saya buka? Kepada teman-teman yang saya anggap dekat, saya merasa sudah sangat terbuka. Saya menceritakan pengalaman-pengalaman saya: kemarin saya ikut tes di sini dan hasilnya begini, saya putus dengan si itu karena ini. Saya bukan tidak pernah berbagi: drama ini bagus loh, ceritanya begini, film ini atau buku itu juga recommended banget. Bahkan hal-hal yang rasanya terlalu remeh: kemarin saya chatting dengan si itu, besok saya harus ngelesi si ini dan si anu.

Antusias terhadap sekitar. Saya agak tidak mengerti dengan ini. Ketika saya antusias, saya pasti menunjukkannya. Tapi ketika tidak, saya harus bagaimana?

Ekspresif? Mungkin di sini masalahnya. Saya kurang ekspresif, saya tahu itu. Mungkin karena alasan yang sama pulalah ketika saya antusias saya menjadi kelihatan tidak terlalu menunjukkannya. Hhh, terlalu banyak buktinya. Percayalah, saya juga nggak ngerti kenapa saya kurang ekspresif. Sepertinya saya nggak lola-lola amat (yeah, loading lama). Kalau lucu, saya tertawa. Lepas, nggak ditahan. Saya memendam perasaan? Tidak terlalu. Ketika saya tidak suka dengan guyonan seseorang, saya langsung bilang ke yang bersangkutan. Ketika saya marah, saya menunjukkannya.

Terus yang kurang apaaa? *frustasi*

Saya kurang ngomong? Iya, saya kurang ngomong! Percayalah, berbicara itu suatu seni yang sulit sekali. Setidaknya buat saya. Dibutuhkan kemampuan khusus untuk dapat berbicara dengan baik. Dan alasan pertama saya kurang ngomong adalah: saya seringkali kehabisan topik. Ah tidak, bukan kehabisan topik, nggak punya topik lebih tepatnya โ€“ kalo kehabisan, pasti sebelumnya punya stok kan ya.

Kedua, saya sadar kalau saya terlalu banyak berpikir. Saya tau pikir itu pelita hati, tapi rasanya saya terlalu melebih-lebihkannya. Saya berpikir apakah topik yang akan saya bicarakan penting dan menarik atau justru membosankan, saya khawatir apakah jika saya menanggapi begini maka lawan bicara saya akan tersinggung, dan saya cemas kalau-kalau lawan bicara saya keberatan ditanya begini atau begitu. Yeah, saya pikir ini sejenis penyakit yang saya buat sendiri: terlalu banyak berpikir.

Ketiga, saya seringkali berada dalam situasi di mana pembicaraan berada di luar pemahaman saya. Saya tidak pernah menonton televisi dalam nyaris lima tahun terakhir; kecuali ketika di rumah, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Maka dapat dipastikan saya nggak nyambung se-nggak-nyambung-nggak-nyambung-nya ketika orang-orang pada ngobrolin YKS, goyang ini, joget itu, ada yang nikah, ada yang cerai, atau ada artis ini di iklan produk itu. Lagi, saya juga nggak pernah dengerin radio, jadi saya pasti nggak tahu lagu ini atau lagu itu yang lagi jadi playlist nusantara dan internasional. Tapi percayalah (lagi), kalau kita lagi membahas Harry Potter, Naruto, Running Man, Lubang Hitam, Anas Urbaningrum, film dan drama yang sedang/sudah saya tonton, penulis dan musisi yang saya gemari, buku yang baru saya baca, maka akan butuh gaya yang cukup besar untuk mengerem kalimat-kalimat saya.

Keempat, kalau lagi cerita, bahasa saya berantakan banget. Syukur-syukur kalo ada yang ngerti. Entah, padahal kalo cerita via tulisan atau chatting, bahasa saya nggak ancur-ancur amat. Ini juga alasan mengapa saya nggak suka ditelpon. Kalo presentasi atau ngajar juga kayaknya lumayan. Tapi kalo disuruh cerita? Nyerah. Kasihan yang dengerin.

Saya bukannya tidak tahu apa solusi dari masalah yang saya paparkan di atas. Justru karena saya sudah tahu solusinya namun masih sulit memahami apalagi menerapkannya, alasan-alasan di atas semakin terdengar seperti pembelaan saja. Aahh sounds like a loooooser.

Saya bingung. Hanya itu. Saya sudah membuat diri saya nyaman seperti ini, tapi apakah orang lain sudah merasa nyaman? Tidakkah mereka sungkan atau bingung menghadapi saya karena saya diam saja? Saya sudah merasa senang seperti ini, tapi apakah orang lain juga merasa senang berada di sekitar saya? Tidakkah mereka kecewa karena saya terlihat kurang antusias atau bahkan tidak peduli? Saya sudah merasa aman seperti ini, tapi apakah saya sudah menjadi seorang teman yang bisa diandalkan?

Mungkin ini juga sejenis kutukan yang saya mantrakan sendiri, akibat tidak mau membuka diri.

Dan saya jadi berpikir lagi, harusnya saya ini bagaimana? Be yourself, everyone elseโ€™s already taken? Lantas kenapa saya masih merasa cemas?

*Ah, ngomong-ngomong, postingan ini muram sekali ya. Nggak ada gambar, nggak ada emot.

One thought on “Saya Berpikir Tentang Saya

  1. saya pun mengalami hal yang sama, agak repot ketika harus banyak bicara apalagi yang baru bertemu, apa yang perlu dibicarakan.
    tapi anehnya ketika di kelas bisa enjoy menguraikan materi pelajaran untuk anak-anak

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s