garden of words

Renjana

Picture Literature | Song Literature – Glimpse oleh Fiersa Besari

Selalu ada yang pertama bagi seseorang, dan momen pertama itulah yang biasanya sulit – atau bahkan tak terlupakan. Saya masih ingat dengan jelas ketika kali pertama belajar sepeda: Mustang warna ungu, ayah yang super sabar, dan jatuh di aspal kerikil terminal belakang rumah. Juga kali pertama  ke Jakarta naik kapal: karpet di sepanjang lorong, tempat tidur tingkat, dan kasur putih empuk. Pertama masuk SD, pertama nonton di bioskop, pertama dapat nilai nol, pertama belajar gitar, dan kali pertama yang lain-lain.

Selalu ada yang pertama bagi seseorang, dan salah satunya adalah Renjana; lelaki pertama yang melambung-hempaskan hati saya. Sialnya, karena titel pertama itu sudah melekat pada Renjana, sepertinya nyaris tidak mungkin lagi benar-benar melupakannya.

Glimpse of memories about you stays forever

Bayangkan. Semalam, ketika melewati warung dimsum, yang tiba-tiba saya pikirkan justru Renjana yang alergi kepiting dan udang. Lalu ketika sedang mengantri di mini market, yang saya pikirkan justru Renjana yang sukanya mengambil dua-tiga bungkus BengBeng di meja kasir sebelum membayar. Sebelum memotong kuku, yang saya ingat adalah pesan Renjana untuk memulainya dari telunjuk kanan lebih dulu – dan meskipun setengah sebal, toh kebiasaan itu tetap berlanjut sampai sekarang. Dan yang paling menyebalkan adalah, kami memfavoritkan sebuah lagu yang sama – jadi senang atau tidak, ketika mendengar lagu itu, yang saya bayangkan adalah Renjana.

I’m tired of this journey and those nightmares from past

Kupikir kepalaku menjelma puisi; judulnya aku, sajaknya Renjana. Atau buku; sampulnya aku, ceritanya tentang Renjana. Atau lagu; musiknya aku, dan Renjanalah lirik yang dihayat di saat-saat paling nelangsa. Renjana. Renjana. Renjana.

Is there an island of hope so I could rest my head?

Sebenarnya tidak masalah ia muncul di mana saja selama yang asli tetap ada di samping saya. Tapi ia pergi, tanpa membawa bayangan dan segala tentangnya ikut serta. Katanya ketika seseorang yang kita sayangi pergi, ia juga membawa sebagian hati kita. Sayangnya quote itu tidak berlaku pada Renjana. Ia pergi; meninggalkan hati saya dalam kondisi utuh, namun tercabik. Ia tidak mencuri hati saya, tidak membawa separuh jiwa saya; hanya meninggalkannya saja, dalam keadaan sakit. Dan saya sendiri yang harus menyembuhkannya.

You broke my heart, I’m not okay

226756_613600765317496_1335874921_n

Maka setelahnya, setiap ingatan dan kenangan tentangnya datang membayang, saya merasa harus berjuang melawan rasa sakitnya.

Sometimes pain hurts me bad, let the rain sweep it away

Dulu, perlawanan saya adalah dengan menyibukkan diri sesibuk-sesibuknya; tidak mengizinkan semenit waktu pun membangun ruang untuk Renjana. Tapi saya tahu itu tidak berhasil. Pada malam-malam yang dingin, Renjana selalu saja mampir; sebagai pegawai pom bensin, dosen pembimbing, juga dirinya sendiri. Maka saya sampai pada kesimpulan berikutnya: pemulihan ini tidak akan berhasil jika saya tidak berdamai dengan Renjana di waktu-waktu terluang saya.

I’m letting go all of the boxes, all the boxes of you

Waktu menyembuhkan, saya percaya itu. Kita hanya perlu berusaha dan percaya agar ia sudi berbaik hati pada kita. Kini, saya tidak tahu sedekat apa saya dengan kesembuhan. Apakah ini yang disebut melupakan, memaafkan, atau melepaskan – entah. Yang saya tahu, setiap kali Renjana muncul, sakit dan sesaknya tidak seperti dulu. Apakah ini karena saya sudah terbiasa dengan sakit, atau memang saya berhasil mengontrolnya – juga entah. Yang saya tahu, saya berhasil menyelesaikan tulisan ini dengan perasaan jauh, jauh lebih ringan.

And now we walk on our own path, time for me to sail the sea

Facing tides and the wind

Lain kali, kalau saya jatuh cinta lagi, akan  saya berikan momen pertama itu kepada seseorang bernama Bayu saja; yang akan segera menerbangkan gugur daun kenangan, tanpa perlu dijelma benci karenanya. Ah ya, tidak akan ada momen pertama lagi, karena kesempatan itu sudah saya berikan pada Renjana. Lihat kan, Renjana lagi.

I’ll find another reason to live, I’ll be just fine without you

Maka jika suatu saat seseorang bertanya, “Siapa Renjana?”

I’ll be just fine without you

Saya akan menjawab, “Seseorang yang benar-benar seperti namanya.”

catatan:

– Renjana memiliki arti perasaan (cinta, rindu) yang kuat

– Bayu berarti angin

Tulisan kali ini merupakan hibrida songlit dan piclit. Tantangan piclit kali ini (gambar pertama) diberikan oleh Tutus (tuaffi.wordpress.com) sedangkan tema lagu untuk songlitnya adalah pilihan saya sendiri. Baidewey, saya memilih lagu ini karena saya penggemar Fiersa Besari :mrgreen:

*sumber gambar kedua di sini

10 thoughts on “Renjana

  1. kamu suka sep sama renjana? jangan2 nanti mbok bikin nama anakmu…… gapapa sih, ntar kalo ada yg namanya renjana, aku pasti mikir itu anakmu bwahahahaha

    #apasih, abaikan sep 😆

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s