garden of words

Terlambat

Song Literature #1 – Cinta Datang Terlambat oleh Maudy Ayunda

Di sebuah kafe, pada suatu sore bulan Desember yang basah. Dua orang duduk berhadapan, menyelami kedalaman mata masing-masing dalam diam. Sebelas tahun sejak keduanya pertama bertukar senyuman.

Ada apa jauh-jauh menemuiku?

Penasaran saja dengan kabarmu.

Hanya itu?

Memangnya nggak boleh?

Keduanya mengalihkan pandang ke jendela, tempat bulir-bulir hujan berkejaran, sebelum mata kembali mengambil alih pembicaraan.

Ada yang tidak kukatakan padamu sejak dulu.

Sepertinya aku tahu apa itu.

Kamu…cinta pertamaku.

Kamu juga cinta pertamaku.

Pernah membayangkan bagaimana jalannya pertemuan dua orang yang sama-sama pendiam? Mereka akan saling berbicara dengan kejujuran paling sederhana; melalui tatap mata dan roman muka.

Keheningan pertemuan sendu itu terusik oleh keterkejutan ketika keduanya menyeruput minuman hangat yang baru disajikan.

“Kamu…sudah menikah?”

“Kamu…akan menikah?”

“Iya, dua minggu lagi.”

“Wah, selamat…”

***

Syahdan setelahnya, tanpa ada yang tahu mengapa, pandangan keduanya tak lagi punya kata-kata.

“Terima kasih sudah mampir. Hati-hati pulangnya.”

“Terima kasih juga sudah menjamu. Kamu juga hati-hati ya. Dah…”

Dan begitulah mereka berpisah. Di malam bulan dua belas yang basah, dihujani kenangan dan penyesalan yang kian menderas, sepanjang jalan.

Mungkin memang kucinta

Mungkin memang kusesali

Pernah tak hiraukan rasamu dulu

Aku hanya ingkari kata hatiku saja

Tapi mengapa cinta datang terlambat

 Karena setelah cinta pertama, (akan) ada cinta ke sekian yang layak diperjuangkan.

Tapi saat semuanya berubah

Kau jauh dariku

Pergi tinggalkanku

Sebab dengan atau tanpanya, hidup tetap harus dijalani.

 ~~~

*tema untuk SongLit #1 ini ditentukan oleh Ilmi (http://illmii.wordpress.com) lirik selengkapnya di sini

**sumber gambar : di sini

curhatan penulis: Entah kenapa, saya merasa tulisan ini jelek sekali. Bukan, saya bukan berdalih dikejar deadline lantas kualitas tulisan jadi jelek. Jadi gini, kalau mau jujur, saya bisa membayangkan dengan jelas sekali bagaimana cerita di atas terjadi. Tentu saja, dalam pikiran saya. Saya membayangkan kafenya, kursi dan mejanya, gelas dan aroma kopi yang mengepul, di samping jendela berembun. Saya bisa membayangkan adegan-adegan ketika keduanya bertukar cerita dalam diam, ketika mereka saling memergok cincin saat meminum kopi, juga ketika keduanya memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing. Baju apa yang mereka pakai, tas yang mereka bawa, bahkan bulir-bulir hujan yang berlomba siapa duluan yang mencapai tanah. Ah…saya bilang tulisan ini jelek sekali karena entah kenapa saya tidak bisa mengungkapkannya sebaik saya mengimajinasikannya.

11 thoughts on “Terlambat

  1. aku juga sering ngalamin ini sep (ditambah aku kalo nulis gak pake edit segala langsung posting hwahaha)
    coba dijabarin dulu suasana kafenya, kayak …
    melalui jendela kafe yang berembun kulihat hujan masih turun, deras dan lembab, beberapa orang berteduh di kanopi kecil, beberapa lainnya memilih untuk berteduh di dalam kafe, menikmati kesenduan malam yang diciptakan oleh purnama malam ini, sama sepertiku. Kursi kayu yang kamu duduki berderit ketika kamu bergerak tak nyaman, kopimu sudah dingin, tak ada lagi asap yang mengepul di sana. Biasanya kamu tidak suka kopi dingin, seperti aku yang tidak suka hening. Kali ini, diterangi lampu temaram kafe, aku berusaha menjaga agar hening tetap tercipta.

    hwaa apaan sih -_- sok teuu maap sep, jadi ngrecokin postinganmu, aku diem deh sekarang

    betewe aku dapet ini nih sep, keren buat bikin cerita yang “show” bukan “tell” http://wingedbeastie.tumblr.com/post/12504675837/this-is-an-excellent-writing-advice-from-chuck

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s