bookworm's

Antologi Rasa

Saya jatuh cinta pada Harris yang mencintai Keara mati-matian. Harris yang mampu membuat cintanya tertawa. Harris yang adorable. Harris yang very good-looking. Harris yang playboy. Harris yang mengencani seratus wanita tapi hanya ada satu nama di hatinya. Harris yang menghancurkan satu-satunya ikatan yang dia punya bersama cintanya; persahabatan. Harris yang dibenci Keara. Harris yang kemudian meniduri lusinan wanita demi mencoba mengusir satu nama dari pikirannya, namun gagal. Harris yang sampai akhir tetap mencintai Keara. Harris yang saya bayangkan sebagai Reza Rahadian; aktor favorit saya.

Saya benci pada Ruly yang menodai kealimannya dengan mencium Keara. Saya benci Ruly yang clueless. Saya benci Ruly yang tidak mengungkapkan saja cintanya pada Denise dan membiarkan Denise menikah dengan orang lain. Saya benci Ruly yang atletis dan ehm tipe saya banget 😳 tidak terlalu tampan, tapi menyenangkan untuk dilihat. Saya benci Ruly yang terlalu sempurna; alim, mapan, suka olahraga, kalem, pendengar yang baik, dan, setia. Saya benci Ruly yang suka mendengar band ke-melayu-melayu-an dan mengingatkan pada seseorang. Saya benci membayangkan Ruly sebagai Nicholas Saputra yang, seperti Harris, mencintai Denise sampai akhir.

Saya benci Keara yang sukanya clubbing, drinking, and hell yeah, flirting. Saya benci Keara and all about her paradoxes; shopaholic tapi hobi fotografi; berbikini tapi a story-telling expert; cheap-food-allergy tapi menolong nenek-nenek di pasar tradisional. Saya benci Keara yang unfair terhadap Harris. Saya benci Keara yang tahunan mencintai Ruly dan tidak mengungkapkannya. Tapi tetap saja, tiga hal membuat saya iri padanya: pendidikan, karir, dan Harris yang mencintainya.

Saya kagum sekagum-kagumnya pada Dinda yang sudah mengetahui kebahagiaannya. Dinda yang berubah. Dinda yang bijaksana dengan pick-your-happiness-nya. Dinda yang telah menjadi istri dan ibu yang unpredictable. Tapi tetap saja saya membenci hobi belanja dan mulutnya yang seringkali tidak sopan πŸ˜†

Ini sama sekali bukan review, hanya ungkapan perasaan saya saja terhadap tokoh-tokoh dalam Antologi Rasa yang baru saja selesai saya baca πŸ™‚

Here is the tagline of this novel.

Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?

Dan inilah quote favorit saya dari novel karya Ika Natassa ini:

Doesn’t it scare you sometimes how time flies and nothing changes? Time flies, but not memories.

**sumber gambar : di sini

Iklan

2 thoughts on “Antologi Rasa

    1. saya suka ika natassa karena bahasanya ringan, plotnya dekat dengan kita, dan (mengutip kata teman saya) karakternya kuat (dengan baca novelnya aja kita bisa mendalami banget tokoh-tokohnya) πŸ™‚
      kalo masalah quote sih menurut saya ika natassa nggak menyampaikan pesan dalam bahasa-bahasa indah yang bikin tangan gatel pengen ngutip, tapi diungkapkan dalam bahasa sederhana yang bikin ngena dan nyampe banget maksudnya :mrgreen:

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s