senandika

Cangkir dalam Teh

Kemarin, saya mendapat broadcast message dari salah seorang teman yang isinya tentang cangkir teh. Sebuah analogi kehidupan. Begini isinya.

***

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat murid-muridnya ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, sang guru segera ke dapur dan mengambil seteko teh panas dan beberapa cangkir yang berbeda. Ada cangkir yang terbuat dari kaca, melamin, plastik, keramik, dan lain-lain. Kemudian sang guru menyuruh murid-muridnya untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan teh.

Setelah masing-masing murid selesai mengisi cangkirnya dengan teh, sang guru berkata, β€œPerhatikan bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membanding-bandingkan. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan tehnya. Hidup kita seperti teh dalam analogi tersebut, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki.”

Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi teh yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas teh itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier bagus, dan pekerjaan mapan merupakan jaminan kebahagiaan. Itu konsep yang sangat keliru. Kualitas hidup kita ditentukan oleh apa yang ada di dalam bukan apa yang kelihatan dari luar.

Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagiaan dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati teh basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Kunci menikmati teh bukan hanya seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas tehnya.

***

Tidak seperti biasanya, broadcast kali ini sungguh saya baca sampai tuntas karena tertarik dengan isinya. Dan lagi-lagi, saya memikirkan beberapa hal sembari memandangi langit-langit kamar.

Pertama, sebagai penikmat teh, saya sungguh tidak setuju dengan pernyataan bahwa cangkir tidak mempengaruhi citarasa teh. Tentu saja material cangkir yang berbeda akan memberikan rasa yang berbeda pada teh! Tidak percaya? Coba saja. Sejauh ini menurut saya teh paling enak dinikmati dengan cangkir dari tanah liat yang dibakar, dibanding jika menggunakan gelas kaca, cangkir plastik, atau melamin (kenapa bisa begitu? Ah tidak usah dibahas ya, huehe). Nah, karena saya tidak punya, jadilah cangkir keramik menjadi favorit saya untuk menikmati minuman terlezat di dunia itu. Oke, ini kurang penting. Tapi karena memikirkan tentang cangkir, saya jadi terpikir ke poin kedua.

Jika kehidupan diumpamakan dengan teh, maka cangkir merupakan ibarat dari uang atau kekayaan (harta benda, pekerjaan, karier, kekayaan, dsb). Jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi teh yang kita nikmati. Emm.. Bisakah? Sekarang ini, manusia hidup butuh uang. Sedikit banyak, tidak, justru malah banyak aspek kehidupan yang hanya bisa dicapai dengan adanya uang. Pendidikan, kesehatan, makanan dan tempat tinggal yang layak merupakan beberapa di antaranya. Uang tentu saja mempengaruhi kualitas kehidupan kita. Yah, saya tidak mengklasifikasikan kualitas menjadi good quality dan bad quality saja, tidak. Kualitas lebih luas dari itu.

Dari sudut pandang saya, misalnya. Bisa mengenyam pendidikan formal sampai ke tingkat tinggi tentu saja merupakan hal yang baik. Dan sekolah/kuliah pasti butuh biaya, besar malah. Bukan berarti saya mengatakan bahwa pendidikan non-formal seperti home schooling atau anak pedalaman yang belajar secara otodidak itu berkualitas buruk, bukan. Yang saya maksudkan adalah berbeda. Begitu juga dengan hal-hal lain yang bisa kita lakukan dengan memiliki kekayaan. Misalnya mendapat pengobatan dan memiliki rumah yang layak, memenuhi standar kehidupan yang lebih baik, belajar keterampilan melalui kursus, mampu naik haji dan menunaikan zakat (bagi Muslim), dan lain sebagainya. Kehidupan bagi seseorang yang berpunya dengan yang tidak pasti akan berbeda. Bagaimana yang berpunya akan dapat membantu yang kurang berpunya, dan dalam skala lebih luas adalah peran bagi bangsa dan negara dengan cara yang berbeda pula. Sehingga dapat diterima atau tidak, pernyataan bahwa uang akan mempengaruhi kualitas kehidupan seseorang adalah benar adanya. Setidaknya menurut saya.

Cangkir bukanlah yang utama, kualitas teh itulah yang terpenting. Memang. Kualitas kehidupan kitalah yang penting. Tapi uang juga penting! *dih, ini yang nulis keliatan obsesi banget ya jadi orang kaya* πŸ˜† Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier bagus, dan pekerjaan mapan merupakan jaminan kebahagiaan. Ah, sepertinya si pembuat broadcast suka nonton drama. The Heirs, Boys Before Flowers, atau Brilliant Legacy, mungkin πŸ˜› *abaikan*. Memang tidak menjamin, tapi tetap berpengaruh lho.

Kualitas hidup kita ditentukan oleh apa yang ada di dalam bukan apa yang kelihatan dari luar. Yup. Fifty-fifty sih. Jika berbicara mengenai kebahagiaan, tentu saja tergantung apa yang ada di dalam. Salah satunya adalah bagaimana kita berpikir. Mindset bukanlah sesuatu yang kelihatan. Dan memang banyak hal yang menjadi penentu kualitas kebahagiaan kita tidak kelihatan; cinta misalnya, juga keikhlasan, persahabatan, kasih sayang keluarga, keimanan, dan lain-lain. Tapi jika berbicara mengenai kualitas yang lain, beberapa bisa dilihat. Bagaimana hubungan kita dengan orang lain, bagaimana pengabdian kita terhadap orang tua dan sekitar, bagaimana kepedulian sosial kita, bagaimana perjalanan karier kita, dan sebagian lainnya yang terlihat mata. Kualitas hidup kita ditentukan oleh keduanya, terlihat maupun tidak.

Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagiaan dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati teh basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Hanya karena kita tidak bahagia, bukan lantas kita tidak bisa membahagiakan orang lain. Hanya karena kita tidak merasa damai, bukan berarti kita tidak bisa menenteramkan orang lain. Hanya karena diri kita merasa tidak memiliki apa yang kita cari, bukan berarti lantas kehidupan kita menjadi basi. Seperti kata Naruto, hidupmu bukan cuma untuk dirimu saja. Bersyukurlah karena kita memiliki seseorang selain diri kita sendiri sebagai ladang bakti.

Terakhir, kunci menikmati teh bukan hanya seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas tehnya. Persoalannya bukan hanya bagaimana kita menggapai impian dan kekayaan, tapi bagaimana kita terhadap diri sendiri dan juga orang lain. Bahagiakanlah sesama πŸ™‚

Sekian tulisan saya tentang cangkir teh. Panjang sekali ya :mrgreen: Apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, mohon dimaafkan ya karena saya banyak banget salahnya, apalagi pendapat saya. By the way, saya cukup berterima kasih dengan broadcast pagi itu. Tulisan tersebut memberi saya sesuatu yang cukup berarti untuk dipikirkan dalam menit-menit masa transisi saya antara wake up dan get up πŸ˜†

**sumber gambar : di sini

Iklan

7 thoughts on “Cangkir dalam Teh

  1. bc sering kali langsung saya hapus.
    hanya baca sepintas, biasanya ga penting.
    paling kalau yg kirim bos / orang yg dihormati baru ku baca, karena pasti ga asal.

    mari ngeteh!

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s