salad days

(Bolehkah) Saya Iri?

Pagi ini saya mendapat kabar menggembirakan sekaligus mengagetkan dari seseorang. Salah seorang teman saya, Dina namanya, akan melanjutkan kuliah master di Eropa. Kaget? Sebenarnya tidak begitu. Saya sudah yakin sejak dulu, seseorang sekaliber dia pasti bakal mendapatkannya. Dina lebih dari layak menurut saya; melihat segala kerja kerasnya. Dan diam-diam saya mendoakannya. Saya gembira? Ya, tentu saja! Bagaimana mungkin saya bisa tidak gembira melihat salah seorang teman saya selangkah lebih dekat dengan mimpi gemilangnya? Boleh saja menyebut saya naif, tapi memang begitu kenyataannya.

Dan sambil menatap langit-langit kamar dengan Ronggeng Dukuh Paruk menelungkup terbalik di atas perut, saya berpikir.

Saya ingin seperti Dina? Sudah pasti. Kami mempunyai mimpi yang sama.

Saya iri dengannya? Ya. Mungkin.

Lantas saya berpikir lagi. Pantaskah saya untuk sekedar iri?

Katakanlah memang kami mempunyai mimpi yang sama. Siapa yang tidak ingin mendapat beasiswa kuliah di luar negeri? Eropa, lagi. Tapi kesamaan kami hanya sebatas itu. Iya, benar-benar sebatas itu. Sementara saya hanya berangan-angan sampai ke sana, orang lain berusaha mencapainya; Dina salah satunya. Sudah sejak lama mereka berlatih membuat Motivation Letter yang baik, mengupgrade kemampuan Bahasa Inggris baik dengan les atau pun otodidak, berulang kali mengikuti tes TOEFL demi mencapai nilai yang ditargetkan, sampai melakukan pedekate dengan Profesor di kampus demi mendapat Letter of Recommendation.

Sedang saya? I’m still doing nothing while she’s giving her everything. Up till now.

Bukankah ini jenis iri yang baik; iri demi menjadi lebih baik? Tergantung. Tentu saja ini jenis iri yang baik jika dan hanya jika memacu kita untuk berusaha lebih baik. Sebagian orang mungkin berpikir, apa untuk iri saja kita memerlukan kepantasan? Bagi saya, ya. Kita boleh saja mencintai tanpa memiliki alasan; tanpa standar kelayakan. Tapi untuk menikah, seseorang harus memiliki alasan. Untuk mengagumi, seseorang pasti memiliki alasan. Begitu pula untuk merasa cemburu, seseorang membutuhkan kepantasan. Dan di mana letak kepantasan saya untuk cemburu? My desire’s still desire, my dream’s still dream, while through her hard work, hers becomes reality. Seseorang seperti Dina, sangat jauh lebih layak mendapatkannya.

Jadi, bolehkah saya iri? Boleh saja, itu hak saya. Tapi pantaskah?

3 thoughts on “(Bolehkah) Saya Iri?

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s