salad days

Besok (Mau Jadi Apa?)

Delapan belas tahun lalu, saya dengan lantang dan kepercayaan diri yang tak dibuat-buat menjawab, “Mau jadi astronot!”

Ketika ditanya mengapa, masih dengan mata berbinar-binar saya menunjukkan kekaguman luar biasa, “Karena di luar sana menakjubkan sekali!”

Kemudian sepuluh tahun lalu, dengan yakin namun agak malu-malu menjawab, “Mau jadi dokter!”

“Karena bisa menolong orang secara langsung itu rasanya begitu menyenangkan.” aku saya dengan wajah tertunduk namun bersemangat ketika ditanya mengapa.

Sampai empat tahun lalu, pertanyaan besok mau jadi apa? merupakan pertanyaan favorit saya. Rasanya begitu menyenangkan menjelaskan mimpi-mimpi saya kepada siapa saja yang bertanya. Punya mimpi saja sudah begitu menyenangkan. Ya, sampai empat tahun lalu.

Empat tahun lalu, setelah menimbang-nimbang namun tetap ragu, saya menjawab, “Saya ingin mengabdikan diri di bidang pendidikan dan penelitian.”

Lantas sekian tahun saya merapikan cita-cita. Menyusun ulang harapan dan keyakinan yang semula sempat berantakan.

Saya tidak tahu apakah saya semakin dekat dengan mimpi-mimpi saya. Mungkin ya. Mungkin tidak. Rasanya begitu…kabur. Terlebih, rasanya saya kehilangan kemampuan untuk yakin. Begitukah jika manusia beranjak dewasa?

Sekarang, besok mau jadi apa? adalah pertanyaan yang paling saya benci. Pengen kerja di mana? Rencana setahun ke depan apa? Habis ini mau ke mana: lanjut apa cari pengalaman dulu? Bahkan pertanyaan sepele seperti kemarin ngapain aja? atau besok rencananya apa? terasa demikian menyebalkan.

Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat!

Pernah naik tangga? Ini perasaan ketika kakimu telah terangkat tapi belum menginjak anak tangga yang di atas. Tidak di mana-mana. Tidak di bawah, tidak di atas. Peralihan. Menggantung. Dan di masa inilah all about finding ourself terasa begitu menyulitkan. Sudah pasti saya harus naik. Tapi, ke mana?

Sekarang, “Saya tidak tahu.”

Tidak perlu bertanya lagi apa rencana saya. Saya sudah menanyakan itu berpuluh ribu kali lebih banyak daripada siapa pun. Pada langit-langit kamar, pada riak danau dan moncong ikan, pada lembar-lembar yang menjadi pelarian… Dan jika saya belum menemukan jawabannya, saya pikir orang lain tidak perlu menekan saya lebih jauh; toh saya sudah terpojok dengan sendirinya bulan-bulan ini.

Saya tidak mau hidup seribu tahun lagi.

Saya pernah putus asa. Saya pernah meragu hingga hampir sepenuhnya kehilangan keyakinan. Kemudian saya berusaha bangkit, menyemangati diri sendiri. Kembali bahagia, kembali bersemangat dengan plan dan cita-cita. Kembali berjuang sampai dihentikan suatu ketika.

Patahkah saja hatinya biar ramai.

Kemudian saya lelah, dan ingin menyerah. Lagi. Pola-pola itu semakin sering berulang belakangan ini. Pecundang memang begitu. Pecundang selalu begitu.

Lantas kita bertanya,

Ini kau sebut apa?

Apa yang kucari? Apa yang kuperjuangkan?

Aku masih di sini untuk apa?

Tidak, aku hidup untuk apa?

Tapi kamu lebih memilih membenamkan wajahmu dalam buku-buku yang segunung itu, ketimbang meladeni pertanyaan yang kau ajukan sendiri.

Lari.

Kemudian pada sebait ini, aku putuskan menjadi sapu, bagi apa-apa perihalku yang sampah.

**sumber gambar : di sini

Iklan

4 thoughts on “Besok (Mau Jadi Apa?)

  1. Wuuuih tulisan yang mantab!

    Sama, nyaris semua anak seperti itu. Dewasa tak seindah harapan masa kecil. Well, aku ingin hidup seribu tahun lagi, karena aku masih punya banyak mimpi.

    1. hehe iya sebenarnya saya juga pengen bisa hidup seribu tahun lagi 😀 itu saya ngomong nggak pengen hidup seribu tahun lagi cuma pada saat itu aja, yah karena efek tertekan ituu 😛 hihi

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s