garden of words

Satu Jam Lalu

“Semoga kamu bahagia.”

“Berhentilah mencoba menjadi malaikat.”

“Aku tidak berusaha menjadi malaikat.”

“Lalu, untuk apa kamu mendoakanku?”

“Aku hanya berusaha memahamimu. Dan menerima keputusanmu.”

“Kau selalu berusaha memahamiku, menerimaku. Sedangkan aku tidak. Kau tidak lelah seperti itu?”

“Kita tidak sedang berdagang. Aku tidak menghitung untung-rugi.”

“Kalau begitu, jangan mempermasalahkan bagaimana aku.”

“Aku tidak pernah mempermasalahkan sikapmu terhadapku.”

“…”

“Tapi kau memang berubah, Senja.”

Lagi-lagi Senja terdiam. Menunggu.

“Dulu… kau begitu ekspresif. Dan bergantung padaku.”

“Kalau begitu, kembalilah ke masa lalu.”

Lazuardi tak pernah tau apa yang terjadi di antara mereka. Waktu berlalu, tapi mereka tidak. Keduanya seperti sedang berjalan di tempat. Atau lebih parah daripada itu: mereka berhenti. Stagnan. Ia pun tidak mengerti sejak kapan Senja menjadi pribadi yang rasanya seutuh itu: kokoh, rasional, tanpa emosi, penyendiri, dan menghindari romantisme dalam bentuk apa pun. Atau mengapa. Senja berubah malam. Stabil. Dingin. Sepi.

“Kau tau apa yang paling jauh dari kita, Senja? Masa lalu. Dan bagiku itu berarti kamu. Senja yang sudah berakhir satu jam lalu.”

Mereka paham bahwa cinta haruslah mengalir layaknya sungai. Tapi kini perasaan Senja menggenang, dan begitulah Lazuardi kehilangan muara bagi hulu kasih sayangnya. Keduanya menyadari ada sesuatu yang telah berhenti; kesempatan untuk saling memberi.

**sumber gambar : di sini

Iklan

4 thoughts on “Satu Jam Lalu

  1. senja senja senja, kenapa kau tidak tetap saja begitu? kenapa kau harus tergantikan oleh malam? apa kau tak bisa muncul lagi saat pagi menjelang? kenapa kemudian hilang di telan siang? ….

      1. ya waktu selalu melangkah maju tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, dengan tegak dia melangkah dan hanya kembali dalam sebuah pesan yang disebut kenangan

  2. Semuanya usai. Keduanya berpaling berjalan ketujuan masing-masing. Mereka bertatapan kembali, sekali lagi, saling menatap sampai tergambarlah bayangan diri mereka sendiri dalam sorot mata yang saling bertabrakan. Suatu tatapan mata yang menjadi obor dari dua cermin yang merefleksikan hidup antara hidup keduanya. Sementara itu sisa cahaya senja di barat yang jauh telah menghilang, terbentang lah landskap luas nan bebas; kabut gelap yang berarak ke kejauhan itu dihinggapi sisa burung-burung gereja yang terbang ringan bermain dengan sisa mendung, menembus awan pekatnya, untuk kemudian menghilang ditelan kejauhan di antara pohon palem dan pagar putih gereja Sion. Petang kini jadi kelam dimana-mana, dimana-mana malam, menghias pada dua hati mereka yang diam.

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s