salad days

Secangkir Penuh Rasa Muak

Tulisan ini penuh rasa benci, tidak bermaksud memprovokasi, jadi tak perlu dibaca jika tidak ingin ketularan.

Saya tak pernah bermasalah dengannya sebelumnya. Setidaknya tidak dalam dua kasus terakhir. Iya, kasus. Tadinya saya bingung mau menggunakan kata apa; baik perselisihan, pergulatan, gesekan, atau kata apa pun yang sempat melintas, semuanya membutuhkan interaksi sadar kedua belah pihak. Sedangkan dalam kasus saya, sepertinya hanya saya yang merasakannya, dan tentu saja, terganggu karenanya. Dia? Ah, sepertinya terlalu tebal mukanya

Dia, ya, sebut saja dia – dengan font italic, atau bold, atau underline, terserah. Mau sebusuk apa pun baunya terendus oleh hampir seluruh teman-teman saya, saya tak pernah mencium dari hidung saya sendiri. Mau seburuk apa pun citranya, saya tak pernah melihat dengan mata saya sendiri. Setidaknya tidak dalam dua kasus terakhir.

Pertama, sekitar setengah tahun lalu, semester tujuh, mata kuliah fisika inti. Pada suatu kesempatan setelah kuliah selesai, dia segera maju menyodorkan flashdisk ke dosen untuk meminta materi kuliah. Terlihat dari LCD, pak dosen menitipkan dua file ke flashdisknya. Setelahnya, segera teman-teman saya meminta dia untuk segera mengupload materi ke grup facebook.

Seperti biasa, dia selalu lupa dan terlambat mengupload materi. Saya lupa tepatnya kapan, tapi setelah ditagih berulang kali, dia baru menguploadnya. Saya kaget, yang diuploadnya hanya satu. Saya lupa lagi tepatnya siapa yang bertanya, kenapa materinya cuma satu lantas dijawabnya,

Materi yang satunya nggak bisa dibuka. Entar aku mintakan lagi.

Itu kebohongannya yang pertama.

Sehari atau dua hari setelahnya, secara beruntung saya mendapat kesempatan untuk meminjam flashdisknya. Saya melihat materi-yang-katanya-nggak-bisa-dibuka itu, membukanya di laptop saya dan berhasil, menutupnya, mengcopynya, membukanya lagi, kemudian mengembalikan flashdisknya.

Kena kau.

Yang kedua terjadi baru-baru ini. Saya dan dosen pembimbing saya menitipkan data laser saya padanya. Jadi ceritanya, laser dioda yang akan saya gunakan untuk skripsi, perlu dikarakterisasi oleh instrumen yang ada di salah satu perguruan tinggi di Kuala Lumpur, Malaysia. Dia dan beberapa teman saya yang lain memang melakukan penelitian skripsi di sana selama beberapa minggu. Jadi, saya nitip. Berat hati juga sih sebenarnya, mendengar reputasinya yang tidak begitu baik.

Pertengahan April penelitian mereka selesai dan kembali ke Surabaya. Dua atau tiga hari setelahnya, Siska, salah satu rombongan ke Malaysia mengirimkan data laser yang pertama dalam format notepad. Tapi, data kedua yang disimpan oleh dia belum ada.

Esoknya, ada kumpul bimbingan skripsi. Bu dosen menagih data (kedua) tersebut agar diberikan ke saya untuk diolah.

Jawabnya, Iya bu…

Beberapa hari kemudian, saya menagihnya kembali.

Jawabnya, Sek sek ya Sep, aku masih bingung datanya tak taruh di mana, belum tak rapikan.

Dan saya maklum saja, toh dia juga baru kembali.

Seminggu kemudian, saya menagih lagi, dengan bahasa yang cukup sopan dan ramah tentunya.

Jawabnya, Aduh Sep, aku lupa datamu tak taruh di folder apa, sek tak cari dulu ya, di Siska nggak ada ta?

Dan meskipun berpikir ini anak Sek-nya banyak banget, saya masih maklum plus sungkan karena udah minta tolong, ngerepotin pula. Setelahnya saya tanya Siska, dan Siska nggak pegang data apa-apa lagi.

Seminggu kemudian, ada bimbingan lagi. Bu dosen menagih kembali.

Jawabannya ngambang, malah nggosip ngalor-ngidul yang intinya malah ngejelek-jelekin Siska dan Mela.

Ampun deh ni anak. Insting adu-dombanya segede Uranus.

Beberapa hari setelahnya, saya yang ditagih bu dosen. Lantas saya kembali menagihnya.

Jawabnya, Iya Sep, ini udah ketemu datanya, tapi nggak bisa dibuka, datanya dalam format apa gitu, aku udah nyoba pake apa tapi nggak bisa. Ini sek mau minta tolong Tio.

Okedeh, jadi ngerasa sungkan ngerepotin.

Seminggu lagi, saya mau berangkat ke Jogja. Saya tagih.

Jawabnya, Belom bisa Sep, aku udah minta tolong Tio juga belom bisa. Sek tak tanyain Prof Harun ya gimana bukanya.

Kenapa sih nggak kasih ke saya aja biar saya yang kerepotan buka tuh data? Toh, itu data saya! Tapi, sabar dulu, senyum aja…

Seminggu lagi, saya ditagih bu dosen.

Saya kirim pesan lewat LINE dengan bahasa yang (saya paksakan agar) cukup sopan, meminta untuk mengirim data ke alamat surel pribadi saya, entah apa ekstensi file-nya, biar saya yang membukanya. Tidak dibalas.

Saya kirim via SMS. Isinya persis sama. Tidak dibalas.

Eh dianya nongol online di facebook. Saya chat. Langsung off. Hahaha, luar biasa banget nih orang.

Sabar, sabar….

Malamnya, saya tanya ke Tio, apa pernah dia dimintai tolong oleh dia terkait data laser saya? Tidak pernah. Tio juga tidak pernah tau perihal apa pun mengenai data laser saya.

Sabar, sabar….

Maka saya berencana, saat kuliah besok, saya akan langsung mendatanginya.

Besoknya, di kelas, diam-diam saya memperhatikannya. Saya tunggu dia menyalakan laptop dan proses booting selesai. Sejurus kemudian, saya mendatanginya dengan flashdisk di tangan kanan.

Aku minta dataku. Saya lupa caranya berbasa-basi.

Saya tunggu, sambil masih memperhatikan. Lima menit. Sepuluh menit. Entah apa yang dengan sok-sokan diobok-oboknya.

Sep, ini bukan datamu? Saya dipanggilnya.

Bukan, kalo itu aku udah dapet dari Siska. Udah selesai aku itung malah.

Saya kembali ke tempat duduk. Pura-pura baca buku, padahal mata masih ngikutin gerak-geriknya dan dalam hati ngumpat setengah mati.

Sep, lasermu yang delapan-ratus-dua-sekian nano ya?

Iya, kenapa?

Ini bukan?

Aku nggak tau bentuk datanya kayak apa. Tapi angka yang aku mau bukan sekitaran itu. Udah deh gini aja, data dari karakterisasi laserku, apa pun yang kamu punya, masukkan ke flashdiskku. Entah formatnya apa. Biar aku aja yang meriksa dan nentuin.

Tuhkan bullshit!

Flashdiskku dikembalikannya.

Nanti tak tanyain Mbak Husna ya, aku udah SMS barusan.

Oh iya, sekalian bilang ke Mbak Husna, langsung aja kirim ke emailku, biar nggak perlu melalui dan ngerepotin kamu lagi.

Saya sudah lupa tata krama. Saya sudah lupa bagaimana menjaga intonasi bicara.

Persetan, siapa yang peduli?!

Satu setengah bulan dia bertahan dalam kebohongan! Satu setengah bulan!

Itu orang malunya di mana. Apa emang nggak punya…

Itu orang takutnya di mana. Apa emang nggak punya…

Ada juga ya orang kayak gitu… saya benar-benar nggak habis pikir, bagaimana bisa dia menjalani hidup dengan cara seperti itu… luar biasa… luar biasa membinasakan… radius dustanya mungkin udah ngelewatin awan Oort di ujung tata surya…

Dan segala hal yang berhubungan dengannya terasa benar-benar memuakkan. Presentasinya memuakkan, jurnal material yang nggak ada teknologi nano miliknya memuakkan, gayanya yang sok petentang-petenteng memuakkan. Dia yang di kelas malah facebookan memuakkan, kebiasaannya  memelesetkan kalimat-kalimat sakral dalam agama saya jauh lebih menjijikkan. Semuanya! Se-mu-a-nya!

Dia manusia terBORAH yang pernah saya kenal! Iya, BORAH!

**Ditulis dengan penuh kesadaran dan rasa muak yang menggebu-gebu. Mohon maaf jika terdengar tidak nyaman.

4 thoughts on “Secangkir Penuh Rasa Muak

  1. Sabar cep, orang yang memudahkan urusan orang lain, maka kehidupannya pasti akan dipermudah juga. Begitupun sebaliknya.
    Ambil sisi positifnya saja, barang kali kita pernah juga menyusahkan urusan orang lain, jadi perlu instrospeksi. dan memperbaiki diri.
    Aku juga pernah mengalaminya kok cep 😀
    Tetep semungut \^.^/

    1. iya tut, aku kok gak pernah berpikir gitu ya 😦 “orang yg memudahkan orang lain, akan dipermudah juga.” saking dipengaruhi amarah paling ya 😦
      heuheu, makasih atutt 🙂

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s