garden of words

Petir dan Wajah Anakku

Splaaashhh!

Gelas plastik tanggung berisi teh oolong beraksen ceri yang dibelinya seharga 120 yen itu terlepas, kemudian jatuh bebas; cairan kehijau-cokelatan membasahi lantai marmer dan ujung rok khakinya.

“Si-siapa yang membuat ini?!” tanyanya tergagap.

“Nakayama Satoshi dari kelas II-3,” jawab seorang gadis berkepang dua yang mendapat tugas jaga.

“Wah, ini nyata sekali ya…”

“Benar, seperti benar-benar asli…”

“Anak jaman sekarang hebat-hebat…”

“Tapi ini terlalu asli…”

965019_4892958327342_153418497_o

“Saya ingin bertemu dengannya!” lanjutnya dengan suara penuh getar kepedihan.

***

Wanita di awal lima puluhan itu berjalan tergesa ditemani seorang guru praktek yang dua puluhan tahun lebih muda.

“Nakayama-kun, ada yang ingin Ibu tanyakan, bagaimana kamu bisa membuat pahatan yang begitu asli?”

“Saya menemukan sesuatu di pinggir danau, Bu. Dan berdasar itu saya memahatnya.”

“Apa yang kamu temukan?”

“Sebentar… Ini, Bu… Saya menggunakannya sebagai cetakan.”

Dijulurkannya selempeng logam tebal yang bagian tengahnya telah timbul oleh lekuk dan gurat wajah seseorang, persis seperti pahatan kayu yang dilihatnya di pameran festival budaya barusan. Wanita itu mengambilnya; meraba dan merasakan lekukan-guratannya.

“Ini… Ini putera saya…”

Isaknya tak tertahan lagi. Air menderas dari sudut mata cokelatnya yang indah.

***

“Boleh saya berbicara?” seorang remaja laki-laki berkacamata meminta perhatiannya.

Wanita itu masih bungkam, menunduk.

“Perkenalkan, saya Yukawa Manabu, teman sebangku Nakayama. Sejak Nakayama menunjukkan topeng logam itu pada saya, saya penasaran. Selama beberapa hari saya pergi ke danau dan melakukan beberapa perhitungan. Secara teori, semua cocok.”

“Yu-yukawa-kun, apa maksudmu? Biarkan Hiramatsu-san beristirahat.”

“Tapi saya harus menjelaskan, Sensei. Ini penting. Anak lelaki Hiramatsu-san sudah menghilang beberapa lamanya, saya kira?”

Wanita itu mendongak; berbalik meminta penjelasan.

“Danau Hamana tempat Nakayama menemukan lempeng logam itu telah lama dijadikan tempat pembuangan limbah dan barang-barang elektronik yang sudah tak terpakai. Danau itu sudah terlalu tercemar radioaktif. Tidak ada ikan bahkan alga yang mampu hidup di dalamnya. Danau Hamana sudah menjadi tempat sampah. Beberapa hari lalu saya ke sana dan menemukan beberapa lempeng logam sejenis, kabel-kabel, dan batang logam panjang.

Kemungkinan lempeng logam itu berada di dalam danau, secara tak sengaja menyentuh kabel-kabel dari batang logam panjang yang berbeda. Secara teori, jika ada arus listrik yang sangat besar sehingga menimbulkan beda tegangan antara kedua batang logam yang sangat besar pula, lempeng logam akan mengalami gelombang kejut. Jika, kabel-kabel tersebut tak kuat menahan arus, lempeng logam akan terpental, melebur karena panas dari arus listrik, kemudian menumbuk benda terdekatnya, mendingin sangat cepat akibat air danau, dan membentuk struktur morfologi tertentu tergantung benda yang ditumbuknya.”

Hiramatsu-san masih diam; entah tidak peduli, mungkin mengerti sebagian namun tak mampu menerka kelanjutannya.

“Apa yang mampu menghasilkan arus sebesar itu? Alam menjawabnya: petir. Petir membawa jutaan volt dalam sekali sambaran. Energinya cukup besar untuk menghanguskan dan membakar apa saja. Beberapa hari lalu memang terjadi badai petir.

Maafkan, jika saya lancang mengatakan, tapi jika anda ingin menemukan anak anda, carilah di dekat batang logam panjang yang dapat menjadi jalan bagi petir di danau Hamana.”

***

 “Detektif! Detektif Sato, kami menemukan sesuatu di bawah sini!”

“Sepertinya bagian bawah tubuh korban disemen agar tetap tenggelam!”

***

“Inspektur, korban berhasil diidentifikasi. Korban adalah Jiraiya Hiramatsu, 28. Menurut hasil otopsi, penyebab kematian adalah dicekik dan ditenggelamkan hingga tewas. Perkiraan waktu kematian antara 7 – 8 hari yang lalu.”

“Terima kasih, Sato.”

***

Wanita itu berjalan limbung mendekati kantong jenazah puteranya. Tidak bertanya siapa, pun mengapa; hanya bagaimana ia melanjutkan hidup tanpa suami, dan sekarang, anak lelaki satu-satunya. Kemudian ia teringat mata puteranya yang ramah, dan…

“Ah, huruf kanji dari namamu pun memiliki arti petir, ya, Jiraiya?”

Dunia tiba-tiba gelap semua…

** Tulisan ini diikutsertakan dalam A Week Piclit Challenge yang diikuti oleh EnyaIlmiFiqihTutus, dan Atut. Tantangan kali ini diberikan oleh Fiqih :mrgreen:

Iklan

19 thoughts on “Petir dan Wajah Anakku

      1. haha.. iya jarang sih Sep. 😀 kalo wajah aku lebih gag titen lagi, sempet aku ngira pemain iron man n sherlock holmes bukan orang yang sama. hoho

  1. yay! genre detektip. tapi, tapi kalau tubuhnya disemen kenapa struktur wajahnya masih jelas kelihatan? (logikanya pembunuh menyemen dengan tergesa-gesa tanpa peduli esensi seni, kecuali psikopat :p) sayangnya pembunuhnya nggak dikasih tau ama septi, saya kan mau neriakin pembunuhnya kejam …. 😀

    1. iya itu dia nyaaa, aku tadi bingung.. gimana caranya biar tubuhnya tetap tenggelam tapi wajahnya tetap utuh.. aku nggak nemuin ide lain akhirnya tak buat aja dia disemen 😆 berarti pembunuhnya psikopat aja ya 😛

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s