garden of words

Tuhannya Peon

Kenalkan, aku Peon. Tak ada yang menarik dariku. Bahkan kupikir dunia ini begitu membosankan. Semua sama. Iya, semua. Meskipun aku memperkenalkan diri dengan nama Peon, namun semua penduduk di desaku juga bernama Peon. Beberapa kali aku sempat bertemu dengan penduduk dari desa sebelah, dan mereka juga bernama Peon!

Kami tak pernah mengenal arti fisis dari jelek atau cantik; pun gemuk atau kurus, pendek atau tinggi. Kami semua serupa. Tidak ada yang lebih ramping dibanding lainnya. Tidak ada yang lebih tinggi dibanding lainnya. Tidak ada juga yang lebih rupawan. Yang membedakan paling-paling hanya seragam tiap desa. Seragamku merah. Aku pernah melihat Peon yang berseragam hijau dan kuning.

Kami bahkan tidak punya ayah atau ibu. Kami….sial, kami terlalu sama!

Sudah kubilang kan, duniaku ini membosankan.

Bukan sekali-dua aku mengutuk Tuhanku yang menciptakan dunia seperti ini. Beranjak dewasa, kebencianku semakin menjadi. Entah siapa yang mengatur-ngatur hidupku, aku tak tahu; maka kusebut sajalah ia Tuhan. Atau Tiran. Sesukaku lah. Agar dapat hidup, Tiran mengharuskanku menjajah Peon dari desa sebelah. Katanya, tanah di seberang sana adalah tanah yang diperuntukkan bagi kami beratus-ratus tahun lalu, dan kami harus merebutnya. Tapi begitu kami telah menduduki tanah itu dengan cara-cara yang kotor (cih!) kami harus merebut tanah lainnya juga!

Bisa dibayangkan, kami telah berperang semenjak kami tercipta di masa silam. Hanya ada darah dan kepedihan di masa mendatang, masa-masa tanpa harapan.

Cara yang menjijikkan untuk dapat sekedar hidup di dunia yang sama sekali takhidup.

Aku bahkan berani bertaruh, Tuhanku sedang tertawa-tawa melihat kesengsaraan kami, para Peon. Kepuasan baginyalah mengatur strategi perang yang tepat untuk kami. Untuk itu, aku mengutuk Tuhanku; tak pernah aku membenci sebesar benciku pada Tuhan.

Jika saja dengan kemajuan teknologi di masa depan akhirnya aku bisa keluar dari dimensi ini menuju dimensi yang lebih tinggi dan menemuinya, aku akan memukul hidungnya sampai berdarah! Iya, kalau perlu sampai patah!

photography-mom-your-turn

Tulisan ini diikutsertakan dalam A Week Piclit Challenge yang diikuti oleh Enya, Ilmi, Fiqih, Tutus, dan Atut. Tantangan kali ini diberikan oleh Enya :mrgreen:

sumber gambar : di sini

9 thoughts on “Tuhannya Peon

  1. jadi inget Rasus di Ronggeng Dukuh Paruk. dan kalau inget RDP jadi sedih 😦 betewe, kayaknya ini yang paling kreatip deh πŸ˜€ bagus.

      1. baca sep. bagus, dan endingnya beda jauh ama novel. di film mah aku masih bisa senyum lebar. di novel … ah Srintil. Rasus. Ah septi aku galau lagi inget RDP 😦

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s